Sunday, 16 September 2018

Memahami Filosofi Minim Sampah #belajarzerowaste

Setelah dua bulan menjalankan project zerowaste, saya merasakan bahwa sadar akan minim sampah itu  mengkoneksikan Kita pada hal-hal yang berkaitan dengan sustainable living.
- Ketika kita Sadar akan food waste sebagai penyumbang sampah terbesar, maka Kita harus memanagemen urusan dapur Kita.
-ketika sadar akan management urusan dapur, maka Kita belajar food preparation supaya menu makan yang Kita rencanakan, jadinya diharapkan gak Ada yang kebuang sia2.
- ketika mengupayakan supaya makakan gak kebuang sia2 ya beli bahan yang secara hakikatnya bermanfaat buat tubuh. Makanya makan yang sehat secara kandungan Dan nutrisinya. Salah satunya dengan memberdayakan sayur Dan buah lokal
- ketika mengupayakan Cara mengolah makanan dengan baik, maka Memprioritaskan memasak dengan metode pan frying lebih diutamakan dibandingkan deep frying supaya tidak menyisakan minyak jelantah.
- ketika berusaha untuk Sisa tidak menghasilkan sampah organik, maka kulit sayur, buah, Dan organik lain usahakan dibikin komposter supaya bermanfaat bagi tumbuh-tumbuhan.
- ketika Kita punya komposter Dan berupaya  memanfaatkanya, Otomatis Kita harus keinginan berkebun supaya kompos dapat digunakan untuk penyubur tanaman.
- ketika Kita berkebun, maka Kita membakar kalori layaknya berolah raga. Hasil berkebunpun dapat diolah menjadi makakan sehat sehingga badan jadi enteng beraktivitas
- ketika berkebun jugalah Kita semakin sadar akan ciptaan tuhan, bahkan mengkoneksikan Kita pada spiritualitas dalam memahami esensi Dari apa yang Allah ciptakan itu memberikan manfaat bagi hambanya.
- Dan melalui sadar akan minim sampah, secara tidak disadari Kita membangun budaya baik dalam keluarga sehingga menanamkan sikap keteladan pada anak.
- maka Kita semakin sadar bahwa Pendidikan sejatinya suatu proses untuk mengembangkan seluruh aspek kemanusiaan yang membawa kita pada nilai-nilai spiritualitas, dimana pada dasarnya manusia berperan sebagai khalifah di muka bumi.
-Oleh sebab itu jika memahami betul akan peranya, maka sejatinya Kita Tak hanya baik kepada sesama manusia saja melainkan juga Alam, yaitu kesadaran ekologis. Kesadaran tersebut tak akan muncul tanpa adanya keteladanan Dari orang tua. Karena membangun keteladanan sama Halnya drngan membangun budaya dalam keluarga. Membangun budaya dalam keluarga sama halnya dengan menjalankan proses pendidikan anak sebagai penanamam nilai2 yang kelak akan melahirkan sikap yang baik kepada tuhan, manusia, dan Alam

Selamat Datang bidadari keduaku

Melahirkan anak kedua rupanya memberikanku jalan yang tidak semudah yang aku bayangkan. Air ketubanku yang sudah pecah memutuskanku untuk segera ke bidan. Rupanya tindakan bidan melakukan observasi selama 10 jam justru memberikan hasil yang kritis untuk janinku. Hingga akhirnya bidan memberikan amplop kepada kami yang berisikan Surat rujukan ke rumah sakit. Ingin rasanya aku marah, namun ini bukan saatnya untuk larut dalam kemarahan. Yang terpenting aku harus tetap berikhtiar untuk memperjuangkan anak kedua terlahir secara normal. Ya sebisa mungkin kuperjuangkan untuk bisa melahirkan secara normal. Namun apa daya, Allah memiliki jalan yang lain.
Perjuanganku  sebelum memutuskan operasi memang begitu dramatis. Cairan ketubanku yang mengering Dan habis, jika tidak segera dikeluarkan akan menjadikan janinku semakin kritis. Terlebih detak jantungmu yang Tak lagi normal. Hingga kuputuskan jalan yang terbaik Demi keselamatan buah hati keduaku. Kuhubungi orang tuaku melalui gawai suami untuk meminta doa Dan kelancaran proses operasi yang pertama kalinya aku alami.
Sesaat oprasi berlangsung, tiba-tiba hatiku terguncang penuh haru hingga Tak kuasa membendung air mataku. Teriakan kencang malaikat kecilku mengubah suasana ruang operasi menjadi suasana surga bagiku. Nak, selamat datang di istana barumu, istana keluarga yang akan Kita pupuk kebahagiaan di dalamnya bersama sama. Dan kehadiranmulah kelak akan menambah kehangatan di keluarga kecil kami.
Betapa bahagianya aku bisa melakukan menyusui dini meskipun melahirkan dengan jalan operasi. Kutatap matanya yang jernih itu dengan penuh haru. Kini aku mempunyai dua bidadari kecil. Kedua bidadari yang kelak tumbuh bersamaku layaknya ulat yang bertransformasi hingga menjadi kupu-kupu. Akan kurawat mereka sedari kecil hingga melihat mereka sukses dan bermanfaat untuk dunia akhirat. Semoga Allah meridhoiku untuk membersamai mereka hingga mereka dewasa.

Saturday, 15 September 2018

Menyapanya dari hati

Saat ini aku masih terbaring di klinik bidan untuk menjalankan observasi. Archy Dari semalam tidur bersama nek ine Dan nek anang, sementara aku disini ditemani oleh suami.

Setiap Kali mertua menghubungi kami, aku Tak pernah lupa menanyakan keadaan Archy. Kata ibu mertua, ia tidur pulas semalam. Saat keesokan paginya, Archy minta pulang ke rumah. Diturutinya permintaan Archy oleh nek ine. Ketika pintu rumah terbuka, Archy mulai bertanya,

"Mana mama? Mana papa?"
"Papa sama mama lagi gak di rumah, lagi nungguin adek bayi"
"Adek bayi? Adik bayi.." ucap Archy berulang Kali.

Aku mendengar cerita Dari ibu mertua tersenyum geli. Aku Selalu membayangkan banyak Hal tentang Archy saat dia Tak bersamaku. Seolah aku tetap melakukan komunikasi denganya. Ya berkomunikasi dengan hati. Kekuatan bonding antara anak Dan ibu memang Selalu memberikan getaran-getaran perasaan yang tidak dapat dirasakan oleh orang lain. Dan kini aku merasakanya. Insyaallah ia akan senang menyambut teman barunya yaitu adek tercinta. Doakan adek sehat selamat dan persalinan mama lancar ya mbak Archy sayang

Friday, 14 September 2018

Menyambut kedatangan adik baru


Hari ini rasanya perutku semakin mengencang. Hasrat ingin buang air besar semakin sering dirasakan. Namun Tak seperti kehamilan pertama, aku lebih tenang menghadapi situasi seperti ini. Aku masih melakukan rutinitas seperti biasa. Mengajak Archy ke TPA, beli sayur, Dan jalan keliling komplek.

Siangnya Archy sudah mulai mengantuk. Ia minta dibikinkan susu. Saat minum susu, aku mengajaknya mengobrol. 

"Archy, Archy sayang ya sama adek.."
"Ndak mau..." Jawabnya membuatku kaget.
"Loh kenapa. Archy kan pinter udah mau jadi mbak. Adek juga sayang sama mbak Archy ya.."
"Ndak mau.."ulangnya lagi.

Kemudian aku mencari Cara bagaimana meyakinkan bahwa ia kelak akan menyayangi adeknya.

"Archy, kakak joura itu mbaknya kak Amira loh..kak joura sayaaang sama kak Amira..kak Amira adeknya kak joura. Makanya kak Amira juga sayang sama kak joura" jelasku memberikan perumpamaan sepupunya yang kakak beradik. Kak Amira Dan kak joura. Kemudian ia terdiam sambil minum susunya lagi.

"Jadi mbak Archy sayang juga ya sama adek.."ucapku meyakinkan kembali.
"Iya.." ucapnya lirih. 

Begitu terenyuhnya hatiku mendengar kata itu. Semoga betul adanya jika ia mulai memahami kehadiran adik akan menjadikan hidupnya semakin berarti. 

Jelang malam, pukul 10 malam tiba2 air mengalir Dari saluran kencing. Sepertinya ketubanku pecah. Suami segera mengantarkanku ke bidan terdekat. Rupanya aku sudah bukaan ketiga. Malam ini aku mulai menginap di klinik bidan untuk melakukan observasi. Setidaknya aku lebih tenang karena sudah meyakinkan jika Archy insyaallah sudah siap menjadi seorang kakak. Saat Kita tinggal ke bidan, kebetulan Archy sudah terlelap tidur. Kita sempat bercerita, berdoa bersama, sampai dia tertidur pulas. Kemudian mertua datang membawa Archy untuk dibawa ke rumah mertua. 

Bismillahirrahmanirrahin semoga persalinanku lancar. Ini adalah malam pertamaku tidak tidur bersama Archy selama merantau di palembang. Semoga Allah besarkan hatinya, Allah lapangkan hatinya untuk siap menjadi kakak yang baik. Dan juga semoga Allah lahirkan adek Archy dengan sehat Dan selamat. Amiinnn

DOA IBU


Masih ingatkah saat semalam Archy merengek minta nenen Dan aku menolaknya, keesokan paginya ia benar-benar tidak terbangun semalaman Dan tidur dengan nyenyak. Namun lagi-lagi aku sendirilah yang sering mengalami kegalauan. Aku takut seolah ia marah Dan Tak mau tidur lagi dipelukanku.

Sesaat sebelum aku bangun untuk melaksanakan salat subuh, ia terbangun sebentar membuka matanya lalu melihatku kemudian tertidur kembali. Pikirku Archy akan mendekatiku tidur di lengan tanganku seperti setiap malam ia lakukan saat terbangun. Ah, kenapa semudah ini hati ibu merasa tersakiti.Hanya karena melihat anaknya sudah mulai belajar mandiri untuk tidak Selalu tidur dipelukanya lagi.

Usai melaksanakan salat subuh, aku segera melaksanakan rutinitas pagi yaitu mencuci pakaian Dan memasak. Kebetulan Hari ini adalah jadwalku mengajar. Jadi semua harus beres lebih awal. Ditemani oleh suami tercinta kami bertugas menyelesaikan pekerjaan rumah lebih awal supaya kami tidak terlambat berangkat pagi.

Saat aku menggoreng ikan, tiba-tiba aku dikagetkan dengan kedatangan Archy ke dapur. Ia bangun sambil tersenyum. Biasanya kalau dia rewel semalam, pasti keesokan paginya dia terbangun menangis. Namun ini tidak. Kusambutnya dengan pelukan hangat sambil menciumnya berulang Kali.

"Masyaallah anak mama udah bangun sendiri ya...kebangun ya sayang. Mama lagi masak nih..masak ikan kesukaan archy.." ujarku begitu riang. Ia tersenyum sambil bergelayut manja di pelukanku.

"Hari ini mama ke Kam...pus. Papa ke kan...too. Archy ntar ngaji sama nenek ya" lanjutku diikuti oleh anggukan kepalanya.
Setelah selesai, kamipun bersiap pergi. Archy sudah pergi dulu diantar papanya ke rumah nenek. Setelah pulang mengajar, kujemputnya di rumah nenek. Ia datang melihatku dengan riang. "Mamaaaaa..Archy dah mam..blabalabla" lanjutnya bercerita meski setengah lancar dengan campuran babling anak kecil.

Alhamdulillah, dugaanku Archy akan rewel seharian karena ia merengek tidak diberikan nenen rupanya salah. Padahal aku Tak banyak menjelaskan seperti biasanya kenapa ia Tak banyak nenen. Aku hanya banyak-banyak memeluknya saat ia bersikeras agar permintaanya dipenuhi. Dan aku tetap memeluknya Dan berkata lirih,

"Maaf ya sayang..nenen mama udah mulai sering sakit..maaf nak" 
Lalu kemudian kelanjutkan dengan untaian doa hingga aku turut terlelap.

Rupanya komunikasi non verbalpun mampu merepresentasikan komunikasi produktif dengan anak. Ketulusan Dan rasa cinta yang Tak terbendung melalui kekuatan doa mampu menyampaikan pesan pesan yang ingin Kita sampaikan ke anak. Begitu bersyukurnya aku atas nikmat Allah yang begitu besar ini. Sungguh kekuasaan Allah tidak akan pernah tertandingi. Doa-doa malam yang Kita tiupkan Dari ubun-ubun hingga ujung kaki saat anak tertidur, rupanya lebih mampu menyampaikan hal-hal yang selama ini belum dimaklumi oleh si anak. Doa doa itupun yang menjadikan penguat ikatan cinta ibu Dan sang buah hati. Begitu besarnya kekuasaan mu ya Rabb


#harikedelapan13sept
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
#institutibuprofesional

Thursday, 13 September 2018

Bersahabat dengan sabar


Rasanya kepalaku seperti menguap, dadaku menyesak, Gigi gerahamku bergemuruh ketika merasakan suasana hati yang Tak pasti. Perasaan yang diliputi oleh ketidak stabilan emosi. Entah mengapa terkadang aku Tak bisa menahan diri untuk meluapkan emosi. Akupun Tak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Terkadang aku mampu bersabar ketika menghadapi kerewelan Archy, terkadang juga aku merasa Tak kuasa menahan kemarahan yang terkendali.

Archy anaku yang begitu pintar itu meraung raung minta nenen. Kondisiku yang semakin sering merasakan kontraksi palsu terpaksa harus memintanya untuk berhenti nenen. Sejujurnya aku diliputi perasaan bersalah. Mengapa aku memutuskan tt dahulu baru menyapihnya. Padahal sebentar lagi ia punya adik. Dan ia harus segera lepas Dari nenen. Tapi ini hasil keputusanku, hasil pertimbanganku setelah berdiskusi dengan suami untuk menyelesaikan tt terlebih dahulu baru menyapihnya. Sungguh rasanya campur aduk.

Sejujurnya aku sudah mulai mensounding Archy untuk berhenti nenen sejak usia 1 setengah tahun. Setiap malam Kita bacakan buku tentang naura si anak yang berani tidur sendiri Dan tidak nenen lagi. Namun sounding stop nenen Kita berhentikan terlebih dahulu karena Kita ingin menyelesaikan proses TT Archy. Mungkin rasanya ia memberontak karena belum siap akan keduanya. Ah apalah aku ini, faham teori tapi praktiknya susah untuk menjalani. Dan kini Allah menguji atas tanggung jawabku mendidik Archy. Ya rabb..maafkan hamba yang jauh Dari kata sempurna ini.

Malam ini aku Tak banyak bercerita dengan Archy. Kini ia sudah terlelap tidur setelah kurang lebih 10 menit meraung raung minta nenen namun tidak aku berikan.

"Sabar ya nak..nenen mama sakit..maafin mama ya sayang.." ucapku sambil menelan ludah karena begitu pahit melihatnya menangis tersedu.

Kulantunkan doa di ubun ubun kepalanya bacaan alfatihah, Annas, Al ikhlas, Dan Al falaq. Serta lantunan doa solawat sebagai penenang jiwanya. Kupandangi wajahnya yang begitu damai saat mulai tertidur pulas. Kuucapkan lantunan istighfar dengan lirih menyesali kesalahan-kesalahanku selama ini. 

Nak, begitu bersyukurnya mama atas karunia Allah menghadirkanmu di kehidupan mama. Allah berikan banyak hikmah kehidupan melalui kehadiranmu selama ini. Kau ajarkan mama bersahabat dengan sabar lalu merangkulnya supaya amarahku terkendali. Kau ajarkan keikhlasan untuk selalu bermuhasabah diri. Maafkan mama yang masih jauh Dari kata sempurna ini. Semoga kelak mama mampu membesarkanmu menjadi anak solehah yang bermanfaat bagi seluruh umat. Ya rabb, ijinkan hamba untuk Selalu hadir dalam kehidupanya hingga ia beranjak dewasa. Berikan kami kesempatan untuk Selalu memperbaiki diri menjadi orang tua yang lebih baik lagi. Solehahkan kami..istiqomahkan kami untuk senantiasa belajar menjadi orang tua yang lebih baik lagi. Amiin..


#hariketujuh12sept
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
#institutibuprofesional

Tuesday, 11 September 2018

Mengajarkan Sense of Belonging pada Anak


Sore ini aku mengajak Archy berkeliling komplek. Usia kehamilanku yang mendekati Hari prediksi lahir membuatku lebih rajin betolahraga, terutama berjalan kaki keliling komplek. Saat berkeliling, Archy bertemu dengan teman seusianya sedang bermain tembak-tembakan. Kemudian Archy ingin sekali ikut bergabung dengan sekumpulan anak-anak yang semuanya adalah laki-laki. 

Kemudian pada blok selanjutnya, Archy bertemu anak-anak yang sedang bermain sepeda. Salah satunya adalah teman Archy saat ikut nenek mengaji di TPA. Didekatinya oleh Archy lalu Archy memainkan bell yang ada di sepeda tersebut. Kebetulan ibu si anak yang juga ada disana menawarkan untuk sepeda anaknya dipinjamkan Archy. Awalnya saya menolak karena Archy hanya tertarik dengan bellnya saja. Namun lama kelamaan Archy jg ingin naek sepedanya.

"Archy ini punya kak akhtar nak..Archy kan punya sepeda sendiri di rumah"
"Udah biar gak papa tante, nanti nangis kalo dilarang" ujar ibu akhtar senantiasa menawarkan.
"Yasudah bentar saja ya Archy..soalnya ini sepedanya kak akhtar ya.."
"Iya ma.."

Namun lama kelamaan Archy tidak mau turun Dari sepeda tersebut sementara Akhtar sudah ingin memainkanya lagi. 
Saya bujuk Archy supaya lekas turun namun ia bersikeras tidak mau.

"Archy turun nak itu kak akhtar mau pake sepedanya.."
"Ndak mau..." Teriak Archy lantang.

Berhubung waktu juga semakin sore Dan mendekati maghrib, bujukan saya tetap saja tidak mempan, akhirnya saya memutuskan untuk menggendong Archy turun Dari sepeda.

"Archy, ini sepeda punya kak Akhtar mau diambil. Archy pulang dlu ya bentar lagi maghrib.."

Bismillahirrahmanirrahin kuangkatnya Dari sepeda Dan dia reflek menjerit minta turun. Sampai rumah ia tetap menangis minta kembali ke tempat bermain tadi.

Saya coba mengalihkan perhatianya dengan mengajak Archy bermain ke rumah nenek. Kebetulan om Archy sudah pulang Dari kampus sehingga Archy langsung tenang karena bermain dengan om raihan.
Usai salat maghrib, akhirnya saya ajak Archy pulang k rumah Dan kebetulan papa Archy baru saja pulang Dari kantor. Saya ceritakan kejadian tadi sore pada suami. 

"Pa, tadi Archy gak mau pulang karena masih mau pinjem sepedanya kakak akhtar. Padahal kakak akhtar mau ambil sepedanya..itu gimana pa? "
"Itu berarti Archy harus kasih sepedanya. Kan bukan punya Archy, sepeda Archy Mana? " Tanya papa ke Archy
" Itu peda.." kata Archy sambil menunjuk sepedanya di belakang
" Nah itu pinter...Archy kan punya sepeda sendiri, jadi kasian kalo masih pinjem ke kak akhtar, kan kak akhtar pengen maen juga..besok Archy bawa sepedanya sendiri ya nak..jangan pake punya kak Akhtar lagi'
Ujarku sambil menatap matanya
"Iya..." Ujarnya lirih

Anak usia 2 tahun memang masih memiliki ego yang tinggi dalam Hal kepemilikan. Jadi memang wajar jika superego nya belum banyak untuk bisa dikendalikan. Mengajarkan sense of belonging pada anak mengenai kepemilikan memang perlu, Dan komunikasi produktif lah yang mampu menyampaikan nya Dan perlahan lahan dapat diterima oleh anak.

Jika anak tidak ingin mainanya dipinjam, maka sebaiknya ia tidak menunjukan mainanya ke temanya. Dan ia belajar memutuskan Mana saja mainan yang bisa dipinjamkan Dan Mana yang tidak. Saat anak memainkan mainan orang lain, Kita perlu tegas jika itu adalah bukan barang miliknya Dan harus dikembalikan. Anak perlu Tau Mana yang menjadi miliknya Dan Mana yang tidak. Memang tidak mudah namun jika berupaya mengkomunikasikan dengan anak, saya yakin suatu saat nanti ia mulai membiasakan diri untuk tidak merebut mainan orang lain Dan dia belajar merawat Dan menjaga apa yang dia miliki.


#harikeenam11sept
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
#institutibuprofesional