Saturday, 10 November 2018

FAMILY PROJECT: MENINGKATKAN KECERDASAN EMOSIONAL ANAK (DAY 10)

Tema: zerowaste project
Aktivitas: berbelanja dengan membawa kantong

Hari ini papa libur Dan kebetulan kami berencana untuk belanja bulanan. Seperti biasa mama Selalu mempersiapkan reusable bag untuk belanja guna merefuse penggunaan tas plastik yang Selalu menjadi sumber pencemaran lingkungan Kita.
Dengan membiasakan Hal tersebut, Archy saya biasakan untuk membawa reusable bag kemanapun Kita pergi.
" Nih Archy bawa tas mama ya..Kita belanja ke indomaret"
"Horeeeeeee..naek motor" ujarnya bahagia sekali kalau mau diajak keluar jalan-jalan. Padahal indomaret nya cmn 2 menit Dari rumah hahaaa..
Mama membawa kertas yang bertuliskan list barang2 yang akan dibeli.
Saat Archy masuk ke indomaret, Archy mengucapkan Salam karena dia terbiasa mengucapkan Salam setiap Kali masuk ke rumah. Hahaha saya nyengir2 aja, dikira mau bertamu ke rumah orang ya nak 😂
"Ayo Archy ambil keranjang belanjaanya" kata papa sambil mengambil satu keranjang.
"Yeeeeeee.." teriak Archy lantang. Archy excited sekali lalu membawanya meski ukuranya lebih besar Dari badanya.
"Sssst..bilangnya bisik2 aja.kalo teriak nanti kaget kakaknya" kata mama berbisik ke arah Archy.
"Yuk kita Cari apa ya..oia Cari deodorant papa" kemudian Kita menuju rak deodorant pria.
" Ini punya papa.. warnanya hi..tam" katanya sambil menunjuk Dan menunjukan warna satu persatu. Archy memang sedang senang2nya menyebutkan warna2 setiap benda yang ia temui.
Saat bertemu rak mainan, Archy langsung mengambil mainan tersebut.
"Mama mau ini..."
"Mmm kita liat ya di kertas mama Ada mainan gak ya emmm wah gak Ada berarti belum bisa beli. Taruk lagi sayang" kemudian Archy menaruh kembali mainan ke tempatnya. Alhamdulillah, Archy sudah mulai belajar kontrol diri untuk tidak memberontak ketika apa yg ia minta belum terkabulkan.
Disaat Kita dapat memberikan pemahaman yang baik kepada anak ketika belum memenuhi keinginan anak, maka anak juga belajar menahan diri dengan baik. Mengingat anak usia 2 tahun merupakan tahap dimana ke AKUanya banyak muncul. Begitu pula ketika meminta anak untuk tidak berteriak, daripada memarahi anak untuk diam, lebih baik memberikan contoh bagaimana supaya ia dapat berbicara dengan suara pelan. Masyaallah, rupanya mengasah kecerdasan emosional anak sama Hal dengan melatih orang tua untuk menyampaikan pemahaman yang baik ke anak. Merekalah guru Kita untuk terus memperbaiki diri supaya Kita dapat menjadi role model yang baik untuk mereka.

Friday, 9 November 2018

FAMILY PROJECT: MENINGKATKAN KECERDASAN EMOSIONAL ANAK (DAY 9)


Tema: Being a Little Parent
Aktivitas: bermain peran menjadi orang tua dari boneka

Bermain peran merupakan permainan yang mampu menstimulasi perasaan, emosi, dan kemampuan berimajinasi anak, dan umumnya sering dilakukan oleh anak usia 2 tahun namun sudah muncul sejak anak berusia 18 bulan. Jadi, pada family project hari ini saya memilih pretending play untuk quality time bersama di rumah.

Papa menyuarakan boneka bebek sebagai anak bebek yang ingin diberi makan. Kemudian Archy mulai menyuapi bebek dengan mainan masak-masakanya. Tiba-tiba si anak bebek tersedak,
“uhuk uhuk...mama...aku mau minum..aku tersedak huhu...”
“cup cup cayang...minum ya”
Ujar archy menenangkan lalu menyodorkan mainan gelasnya untuk diminum bebek. Kemudian bebek diajak pergi ke pasar dengan mengendarai sepeda Archy. Ditarohnya bebek di depan.
“Mau kemana Archy..?” tanya mama penasaran
“Pasar...” katanya
“Hati-hati ya...”
“Dadaaaa..” kata archy sambil memegang si bebek erat.

Selain boneka, Archy juga sudah mulai mengikuti bagaimana mamanya menenangkan adek saat menangis. Ketika Aisyah menangis, dan saat itu saya sedang di dapur, Archy segera menghampiri adeknya.

“Aisyah..Aisyah Razzan...Cup cup sayaang...” kata Archy sambil menghampiri adeknya. Kemudian saya intip dia dari balik pintu. Ya, meskipun ia tampak berusaha menengangkan tangisan adeknya, namun terkadang upayanya sering membahayakan adeknya. Seperti contohnya ia bermain cilukba dengan menutup hidung adeknya. Hiaa bisa bahaya banget kan. Makanya saya langsung mendatangi archy kalo dia mulai mendekati adeknya.

Archy juga membantu mengambil pakaian dan tisyu saat adek selesai poop. Terkadang dia lebih excited bermain pretend play:being a little parent dengan adeknya dibandingkan dengan boneka. Mungkin karena adeknya kalo nangis nangis beneran gak kayak boneka heheeee...

Lingkup Perkembangan
Tingkat Pencapaian Perkembangan
Indikator
Checklist
Sosial-emosi



-  Kesadaran diri

1. Memberi salam setiap mau pergi
2. Memberi reaksi percaya pada orang
dewasa
3. Menyatakan perasaan terhadap anak lain
4. Berbagi peran dalam suatu
permainan (misal: menjadi dokter,
perawat, pasien)








Menyuapi boneka, mengajak boneka ke pasar, berpura-pura menjadi orang tua

-       tanggung jawa diri dan orang lain
1. Mulai bisa mengungkapkan ketika
ingin buang air kecil dan buang air
besar
2. Mulai memahami hak orang lain
(harus antri, menunggu giliran.
3. Mulai menunjukkan sikap berbagi,
membantu, bekerja bersama










Membantu mama mengambilkan pakaian adek

-       perilaku prososial
1. Bermain secara kooperatif dalam
kelompok

2. Peduli dengan orang lain
(tersenyum, menanggapi bicara)



3. Membagi pengalaman yang benar
dan salah pada orang lain



4. Bermain bersama berdasarkan
aturan tertentu

Bermain peran bersama papa dan mama

Menjawab dan menanggapi apa yang orang lain tanya atau ucapkan

Saat lantai licin ketika bermain pretend play, archy bilang ke bebek awas liicin


Thursday, 8 November 2018

FAMILY PROJECT: MENINGKATKAN KECERDASAN EMOSIONAL ANAK (DAY 8)



Pada dasarnya, anak usia 2 tahun berada pada tahap perkembangan otonomi, yaitu rasa dimana anak merasa mampu melakukan segala hal dengan keinginanya sendiri. Sehingga pada usia ini anak ingin menunjukan ke Aku-anya. Namun terkadang orang dewasa memperspesikan anak pada usia ini sebagai anak yang sulit diarahkan, sulit diatur. Oleh sebab itu, menstimulus kecerdasan emosional anak dirasa penting supaya kita sebagai orang tua dapat memberikan unconditional love dan arahan yang baik saat menghadapi perilaku ke AKUanya.

Dan sesuai harapan saya, setelah selesai menuntaskan tantangan dalam 7 hari mengenai kecerdasan intelektual, saya ingin mencoba menstimulus Archy dalam ranah kecerdasan emosionalnya. Seperti yang saya lakukan pada rancangan hari pertama, saya ingin memaparkan tingkat pencapaian anak usia 2 tahun dalam lingkup sosial emosional berdasarkan Permendikbud no 137 PAUD. Kenapa sih harus mengacu dari situ? ya gak harus sih. Cuman kalo permendikbud kan ukuranya lebih jelas, gak sembarangan, gak asal comat comot dari status atau refrensi yang gak terpercaya, makanya cari aman dan praktisnya saya mengacu pada pedoman tersebut untuk tolok ukur tahap perkembangan anak.

Berikut tingkat pencapaian perkembangan dalam ranah sosial emosi (Permendikbud PAUD no 137):
Lingkup Perkembangan
Tingkat Pencapaian Perkembangan
Indikator
Checklist
Sosial-emosi



-  Kesadaran diri

1. Memberi salam setiap mau pergi
2. Memberi reaksi percaya pada orang
dewasa
3. Menyatakan perasaan terhadap anak lain
4. Berbagi peran dalam suatu
permainan (misal: menjadi dokter,
perawat, pasien)



-       tanggung jawa diri dan orang lain
1. Mulai bisa mengungkapkan ketika
ingin buang air kecil dan buang air
besar
2. Mulai memahami hak orang lain
(harus antri, menunggu giliran.
3. Mulai menunjukkan sikap berbagi,
membantu, bekerja bersama



-       perilaku prososial
1. Bermain secara kooperatif dalam
kelompok
2. Peduli dengan orang lain
(tersenyum, menanggapi bicara)
3. Membagi pengalaman yang benar
dan salah pada orang lain
4. Bermain bersama berdasarkan
aturan tertentu




 Dan untuk aktivitas family project yang akan kita lakukan, seperti biasa insya allah besok akan saya share hasilnya..heheee. Selamat beraktivitas :)

Wednesday, 7 November 2018

FAMILY PROJECT: MENINGKATKAN KECERDASAN ANAK (DAY 7)


Tema: Craft Project
Aktivitas: membuat craft dengan memanfaatkan tangkai daun katuk

Selama saya mempelajari beberapa metode dan kurikulum homeschooling anak usia dini, saya paling merasa cocok menerapkan unschooling untuk pembelajaran archy sehari-hari di rumah. Unschooling dalam arti tidak menggunakan kurikulum apapun dan metode tertentu dalam belajar. Kenapa eh kenapa? karena saat saya mempersiapan bahan belajar berdasarkan lesson plan yang saya buat (ceilah berat bener, masih bayik juga) saya merasa Archy sering tidak mood dengan permainan yang saya rencanakan. Jadilah saya lebih suka membuat permainan edukatif secara accidental sesuai dengan hal yang ia minati saat itu.

Contohnya hari ini. Saya mengajak Archy memetiki daun katuk di halaman rumah. Saya ajak dia ikut terlibat dalam kegiatan ini. Dia bantu saya sesekali kemudian beralih ke aktivitas lain seperti melompat-lompak, pene`an (manjatttt bukkk), nyanyi-nyanyi, pokoknya sesuka hati dia deh. Kemudian dia mengajak saya bermain tebak warna sembari saya memetik katuk.

“Ma, ini warna apa?” tanya archy sambil menunjuk tembok putih
“mmm..putih ya”
“Iya..pinter”
“Ini...?” sambil menunjuk tembok pagar berwarna merah bata
“mmm...orange” jawab saya untuk menjelaskan warna yang lebih dekat dengan merah bata.
“Iniiii ma!!” teriaknya kesal. Jawaban saya salah maksudnya
“mmm..coklat?”
“hiiihhhh..meyaahhhh!” merah maksudnya sambil kesal.
Loh kok dia tau? wkwkwkwwk saya ketawa cekikikan karena ternyata dia lebih pintar dari mamanya
“Hahaha oiya merah, merah bata ya hehee” jawab saya nyengir.

Baru setelah itu dia tiba-tiba tertarik dengan tangkai daun katuk. Diamatinya tangkai itu berulang kali. Kemudian saya berinisiatif berimajinasi.
“huhuu...hai archy. Aku batang pohon yang gak pernah disiram sama pemiliku. Akhirnya daunku mengering dan membuatku jadi gersang huhuuhu...aku haus...”
Setelah itu archy mengikuti bercerita seperti mamanya
“Huhhu..makanya archy sering bantuin mama nyiram tanaman ya..biar gak gersang kayak aku huhu”
“iya..” jawabnya lirih.

Tiba-tiba saya langsung berinisiatif membuat tangkai daun itu untuk dijadikan craft.
“Yuk kita bikin gambaran pakai tangkai daun katuk. Masuk yuk..”

Kemudian saya dan Archy terlibat dalam kegiatan membuat craft yang sangat menyenangkan. Semua terjadi tanpa ada rencana sebelumnya loh. Dan Archy excited sekali dengan kegiatan kita hari ini. Ia menempelkan tangkai diatas kerdus dengan double tip, lalu ia ikut mewarnai sesekali. Dan juga saya bisa menerangkan dalam gambar tersebut perbedaan tanaman yang sering disiram dan dirawat dengan tanaman yang kekeringan karena tidak disiram air dan dirawat. Jadi saya bisa sekalian menjelaskan sebab akibat.

Baru setelah itu saya ajak archy memindahkan daun katuk ke wadah untuk disimpan di kulkas. Disini archy bisa terlibat dalam kegiatan stimulasi motorik halus. Nah, menyenangkan bukan? dalam satu tema yang kita lakukan secara accidental tanpa rencana ini rupanya mampu menstimulus coriousity anak, critical thniking, kreativitas (karena memanfaatkan bahan yang ada dan sederhana), dan juga menjelaskan cause and effect pada anak. Awesome!!

Saya benar-benar merasakan quality time bersama anak dengan kegiatan yang begitu mindfulness buat saya. Allah maha baik memang, karena Allah hadirkan buah hati yang tidak suka memberatkan mamanya. Karena ia tahu kalo mama di rumah gak punya ART. Semua nyuci, masak, setrika, beresin rumah dilakukannya sendiri. Belum lagi adek masih bayi juga. Jadi pasti mama bakal lelah kalo harus mempersiapkan bahan ajar yang berat. Hahahaa..emang dasar emaknya males kalee...Anyway, saya tetap salut banget sama para ibu2 yang bisa mempersiapkan kegiatan belajar anak dengan matang dan kreatif lo...yang penting intinya adalah learning with joooyyyy, semua joy. ortu dan anaknya juga harus happy J





Tuesday, 6 November 2018

FAMILY PROJECT: MENINGKATKAN KECERDASAN ANAK (DAY 6)



Tema: Music Project
Aktivitas: bermain gitar bersama papa
Kebetulan keluarga kami suka musik. Meski saya pribadi gak bisa memainkan alat musik wkwk. Tapi saya suka bernyanyi. Papa Archy pandai memainkan alat musik, yaitu gitar dan piano. Kebetulan papanya mantan anak band. Eaaaaa....dulu sih. Sekarang gak hhh.
Jadi waktu luang kami sering digunakan untuk membuat konser di rumah. Jadi usai papa pulang kantor dan berinsitrahat sejenak, Archy suka minta papanya buat maen gitar bareng. Mamanya yang jadi back vocalnya aja sambil jadi tukang dokumentasi hahaa.
So far, kami berupaya memberikan kebebasan anak untuk mengeksplorasi potensi yang dimiliki. Karena dalam upaya memetakan potensi anak, kita perlu observasi mendalam dalam kegiatan sehari-hari. That`s why sejauh ini kita cobakan semua hal-hal yang secara tidak langsung tidak hanya mengarah pada satu komponen multiple intelligence saja melainkan pada keseluruhan karena kami masih dalam proses pengamatan.
Nah, kebetulan di usia 2 tahun 1 bulan ini Archy seneng banget main gitar dan piano. Maunya setiap hari bermain. Jadi kenapa tidak kalo kegiatan bermusik kita jadikan family project di rumah? menyenangkan bukan? dan...inilah dia konser ala archy dan papaaa
teteeeeeettt... :D


Lingkup Perkembangan
Tingkat Pencapaian Perkembangan
Indikator
Checklist
Seni



Mampu membedakan bunyi dan suara
Memperhatikan dan mengenali suara
yang bernyanyi atau berbicara

Dapat merespon saat orang mengajak berbicara dan bernyanyi
Tertarik dengan kegiatan musik, gerakan orang, hewan, dan tumbuhan
1.    Menyanyi sampai tuntas
dengan irama yang benar
(nyanyian pendek atau 4 bait)
2.    Menyanyikan lebih dari 3 lagu
dengan irama yang yang benar
sampai tuntas (nyanyian pendek
atau 4 bait)

3.    Bersama teman-teman
menyanyikan lagu

4.    Bernyanyi mengikuti irama dengan
bertepuk tangan atau
menghentakkan kaki

5.    Meniru gerakan berbagai binatang

6.    Paham bila orang terdekatnya (ibu)
menegur

7.    Mencontoh gerakan orang lain

8.    Bertepuk tangan sesuai irama

Dapat menyanyikan lagu cicak, balonku, dll


Hapal banyak lagu (sampai gak bisa hitung berapa)




Bernyanyi sambil bermain gitar dengan papa
Bernyanyi baby shark sambil berjoged



Mengikuti gaya kucing

Menatap mama saat mama berbicara

























A.    Tertarik dengan kegiatan karya atau seni
1. Menggambar benda-benda lebih
spesifik
2. Mengamati dan membedakan benda
di sekitarnya yang di dalam rumah