Thursday, 28 February 2019

Nasib Matematika di Tangan Kita


Kenapa sih matematika selalu menjadi momok bagi anak-anak? Seberapa susahnya untuk dipelajari? Tidak perlu bertanya jauh-jauh. Saya pun sampai sekarang tidak suka bahkan sangat lemah mempelajari Matematika. Terlebih background pendidikan banyak saya habiskan di pondok. Tambah buta banget sama namanya aljabar, algoritma, sampai hitungan volume!
Kebetulan penelitian S2 saya saat itu mengangkat tentang prestasi belajar matematika. Kenapa Matematika? karena ketika saya mencari akar masalah di setiap sekolah, matematika adalah mata pelajaran yang memiliki kriteria ketuntasan minimal (KKM) paling rendah diantara pelajaran yang lain. Berarti bukan saya aja donk ya yang dari kecil gak suka matematika. Ternyata sampai sekarang pun siswa masih dipusingkan dengan mata pelajaran ini.
Tidak heran berdasarkan Program for International Student Assesment (PISA) menyebutkan bahwa kemampuan matematika dan sains siswa di Indonesia berada pada peringkat 69 dari 76 negara di dunia. Yassalam..
Literasi yang rendah, kemampuan matematika yang rendah, lantas bagaimana nasib bangsa kita jika generasi kita tidak mampu menghadapi tantangan global?
Banyak orang salah kaprah memaknai matematika yang diasumsikan sebagai angka saja. Padahal sejatinya matematika itu adalah ilmu yang selalu ada dalam kehidupan kita sehari-hari. Kultur pendidikan kita yang masih mengajarkan teori saja mengakibatkan kemampuan matematika anak di Indonesia semakin jeblok.
Kuliah Bunda Sayang Institut Ibu Profesional tak hanya sekedar memberikan materi dan tugas semata. Namun ada cita-cita mulia dari Ibu Septi untuk meningkatkan kualitas para ibu para pendidik generasi bangsa.
Bagaimana tidak. Dari serangkaian tugas yang diberikan, kita semakin sadar pentingnya home education untuk perkembangan dan kematangan emosi anak. Beberapa tugas yang diberikan diantaranya adalah tantangan meningkatkan literasi dalam keluarga, meningkatkan kecerdasan emosional, sampai menstimulus kemampuan matematika logis.
Tantangan ke-enam tentang menstimulus kemampuan matematika logis anak sejatinya menjadi tantangan terbesar saya sebagai orang tua untuk menumbuhkan rasa cinta anak terhadap matematika.
Dibandingkan tantangan sebelumnya, tantangan ini bikin saya lebih deg-degan. Lebih merasa harus melakukan lesson plan untuk merancang stimulus apa yang akan saya berikan selama 10 hari kedepan. Yah, meskipun realitanya untuk setor tugas saya masih super lelet wkwkw. Maafkan saya bu Fasil...
Hasilnya adalah Archy lebih excited mempelajari tentang angka, konsep pola, dan bentuk dasar. Alhamdulillah. Rasanya udah gak sabar naik ke level selanjutnya mengajarkan Archy matematika yang lebih kompleks. Eits..sabar dulu. Harus disesuaikan dengan tahap perkembangan anak ya.
Itulah mungkin yang menyebabkan banyak anak tidak suka matematika. Disamping pelajaran ini sangat jarang dikoneksikan dengan kehidupan sehari-hari, pun anak juga tidak pernah dibekali sejak dini lalu saat masuk bangku sekolah tiba-tiba harus berhadapan materi MTK yang kompleks.
Istilahnya adalah njeglek. Super shock, otaknya juga kaget, dan berujung pada kebencian yang berkepanjangan. Lihat angka langsung mual-mual pengen segera menutup buku rapat-rapat.
So please for all parents, silahkan ikut perkuliahan Institut Ibu Profesional kalau gak mau tingkat literasi, kemampuan sains, dan kemampuan matematika anak Indonesia selalu berada di peringkat terbawah. Tidak Ada bekal yang harus disiapkan kecuali bekal konsisten saja untuk menjalankan rentetan tugas yang diberikan selama setahun.
I really thank a lot to IIP for this wonderful education. Rasanya kalo gak ikutan IIP mungkin saya tidak semelek sekarang menjadi “Home Educator” untuk anak-anak saya. Yuk moms, jadi kapan moms juga mau daftar IIP? :D

Tuesday, 19 February 2019

MENGUNJUNGI FIRE STATION BERSAMA IBU PROFESIONAL PALEMBANG


Sabtu, 20 januari 2019, Ibu Profesional Palembang mengadakan kegiatan Edutrip ke Bandara Sultan Mahmud Badaruddin, Palembang. Acara ini diselenggarakan oleh devisi playdate, yaitu devisi yang mewadahi kegiatan-kegiatan edukasi anak dan para orangtua dari anggota Ibu Profesional Palembang.

Pukul 08.00 kami diminta berkumpul di kantor Airport Rescue & Fire Fighting. Kantor ini terletak di kawasan perkantoran bandara. Bersama 35 anak dan para pendamping mulai berkumpul di titik lokasi. Cuaca yang begitu cerah ditambah angin semilir membuat suasana kegiatan ini semakin menggembirakan.

Dari depan tampak mobil pemadam kebakaran berjajar dengan gagah dan rapi. “Tayoo..tayo...!!” teriak Archy saat melihat mobil pemadam kebakaran yang bewarna merah menyala itu. Anak-anak lain juga tampak ceria sambil mengamati si mobil. “Wah..keren..wah Frank..!!” sahut anak lainnya sambil menyebutkan tokoh mobil pemadam kebakaran dalam film Tayo, Frank.
Mejeng di depan Mobil pemadam kebakaran
Tampaknya anak-anak semakin tidak sabar menanti rentetan kegiatan yang akan mereka lewati. Para ibupun mulai turun tangan untuk mengondisikan anak-anak supaya tertib dan tenang. Ya harap maklum. Pesertanya adalah anak-anak dari berbagai lapisan usia. Mulai dari 2,5 tahun sampai 8 tahun. Bisa kebayang kan bagaimana riewehnya mereka.

Setelah terkondisikan dengan baik, para anggota dari airport rescue mulai menyiapkan diri untuk menyampaikan materi. Bapak-bapak berseragam jingga itu mula menyapa anak-anak dengan suara lantangnya. Berasa lagi upacara nih rasanya. Nyapanya udah kayak komandan pleton haha.

Bapak Taufik selaku komandan regu memperkenalkan anggotanya satu persatu. Kalau gak salah ada yang jabatanya sebagai laksana pratama, selebihnya kurang jelas. Mungkin laksana madya kali ya. Maklum-lah baru 5 menit menjelaskan saja, anak-anak suaranya lebih seru daripada pematerinya.

Yah, dengan style si bapak saat menjelaskan materi, memang lebih cocok didengarkan oleh para orang tua. Lumayan kan, orang tua jadi nambah pengetahuan. Kalaupun saat itu anak tidak fokus pada materi, orang tua bisa mereview ulang dengan metode yang lebih menarik saat di rumah hehe.

Dari materi pembuka yang disampaikan yang saya pelajari adalah syarat berdirinya suatu bandara yaitu harus mempunyai pertolongan kecelakaan penerbangan. Nah, karena lokasi di bandara maupun pesawat udara sangat riskan dengan berbagai kemungkinan kecelakaan, maka respon tim tidak boleh lebih dari 3 menit. Makanya kemarin terdengar ledakan kecil saja tim-nya sudah pada kocar kacir mencari sumber suara. Wih, mantap jaya kan.

Setelah penjelasan yang panjang lebar, perhatian anak-anak kembali terpusat ketika para tim memperagakan baju pemadam kebakaran. Waoo, sontak anak-anak ada yang menjerit ketakutan dan ada juga yang teriak kegirangan. Kalo Archy? dia termasuk yang teriak ketakutan. Dikira makhluk luar angkasa kali ya hahaa.
Baju pemadam kebakaran sekilas mirip dengan astronot


Para tim memperagakan baju pemadam yang terdiri dari 2 jenis pakaian pemadam kebakaran. Yang pertama baju yang diperagakan berupa baju hitam layaknya baju pemadam kebakaran pada umumnya. Dan baju yang kedua tampak seperti baju pemadam yang dilapisi alumunium. Bentuknya-pun seperti pakaian astronot.

Rupanya baju ini memang didesain khusus untuk mengatasi kecelakan yang ada di dalam pesawat udara. Nah baju inilah yang membuat anak-anak pada heboh ketakutan, kegirangan, dan bahkan ada yang minta salaman.

Usai pemaparan materi, anak-anak diajak untuk melihat bagaimana proses penggunaan air untuk memadamkan api yang menyala. Pun juga mereka diperkenankan untuk memegang selang air bersama-sama. Wah seru ya. Eits tapi ada yang lebih seru lagi lo kegiatan setelah ini.
Picture: doc IP palembang

Yes, acara yang paling dinanti-nanti oleh anak dan juga emak-emaknya adalah naik mobil pemadam kebakaran. Yeay, emaknya aja super heboh apalagi anaknya gitu kan. Semua anak sudah mulai berbaris rapi tak sabar menunggu giliran. Ya, karena memang mobil yang digunakan memang satu, jadi semua harus antri menanti giliran masuk.
Mobil pemadam kebakaran yang gagah perkasa

Archy yang belum menunjukan sikap mandiri selama kegiatan berlangsung, membuat saya sedikit berharap kalau dia juga tetap ingin naik mobil pemadam seperti anak-anak lainnya. Ayo donk please Archy, mama wanna make a great memory for you, ujar saya dalam hati. Alhamdulillah, saat kloter terahir tiba, dengan sedikit bujukan Archy pun mau ikut serta bersama saya. Yeayy..

Saat memasuki mobil, saya begitu terkesima dengan tombol-tombol yang ada di depan driver. Saya penasaran tombol apa sajakah itu, terutama tombol-tombol yang berwarna biru, kuning, dan ungu. Tombol biru berfungsi untuk mengeluarkan air ke pipa penyemprotan. Di setiap mobil pemadam terdapat 3 outlet untuk menyemburkan air, yaitu di bagian depan, bawah, dan samping.


Saat driver menombol biru, anak-anak tampak terkesima melihat semburan air yang keluar dari dalam pipa (emaknya juga gak kalah heboh ding wkwk). sementara untuk tombol bewarna kuning digunakan untuk menyeburkan busa. Busa disini merupakan alat untuk memadamkan api khususnya pada lokasi yang tertutup oleh minyak.

Sementara pada tombol ungu, tombol ini berfungsi untuk menyemburkan serbuk kimia. Mungkin serbuk ini digunakan pada kondisi kebakaran yang tidak bisa teratasi dengan air. Tentunya pada kunjungan hari ini memadamkan dengan busa dan serbuk kimia tidak dipraktekan oleh petugasnya, karena keduanya harus memiliki prosedur yang sangat ketat dan juga mahal.
Foto bersama sebelum ke bandara


Kegiatan terahir ditutup dengan simulasi check-in di bandara SMB II. Anak-anak belajar bagaimana proses masuk bandara. Mulai dari menaruh barang ke peralatan X-ray, memeriksakan diri di walk-through metal detector, dan mengamati bagaimana proses para calon penumpang melakukan check-in ke setiap maskapai yang digunakan.

Tak terasa waktu sudah menunjukan pukul 12 siang. Itu tandanya kegiatan playdate hari ini telah usai. Sebagai penutup, mbak Ina selaku ketua IP Palembang memberikan sedikit kenang-kenangan kepada tim bandara yang telah memperkenankan kami untuk melakukan kunjungan edukasi.

What a great day we are having! semoga kegiatan hari ini memberikan kenangan yang berharga bagi anak-anak dan orang tua. Terimakasih tim Playdate IP Palembang. Kita tunggu kegiatan playdate selanjutnya ya J




Saturday, 16 February 2019

Permainan Matematika Sensori: Aktivitas Anak Usia 2 Tahun

Bunda, masih ingatkah bagaimana dulu bunda belajar mengenal huruf dan angka?
Sewaktu mama Archy kecil, mama belajar mengenal angka dan huruf dibantu dengan media buku dan alat tulis. Dulu, mama belajar menarik garis untuk membentuk angka "1" sampai terkadang kertas yang digunakan sering sobek karena tekanannya terlalu dalam. Hahaha, lucu ya.

Sekarang, anak belajar menulis angka bisa dengan menggunakan berbagai macam variasi media. Misalnya belajar menulis angka dengan media pasir, tepung, air, dan lain sebagainya. Bahkan ketika anak belajar menuliskan angka di atas pasir, anak juga mampu merasakan seperti apa bentuknya. Di sinilah kemampuan logis anak akan semakin berkembang, di mana anak tidak hanya belajar wujud si angka, namun juga belajar mengenal konsep dan simbol.

Seperti yang bunda ketahui, anak usia 2 tahun sedang memasuki tahap pra-operasional. Tahap ini dicirikan dengan perkembangan awal berfikir logis. Meskipun demikian, anak usia 2 tahun masih melewati akhir dari tahap sensorimotor yaitu tahap representasi, dimana anak masih menyukai belajar hal baru berdasarkan rabaan atau sentuhan.

Nah, kali ini Archy akan belajar mengenal angka 1 sampai 3 yang dibantu dengan media playdough. Mama beri nama untuk aktivitas ini dengan sebutan "Touch and Feel Number". Lalu bagaimana sih cara memainkanya?


Cara memainkanya mudah sekali bunda. Awalnya bunda buat angka 1 sampai 3 dengan media playdough. Kemudian mintalah si kecil untuk meraba playdough tersebut satu persatu. Kemudian bunda bisa bantu anak untuk mengikuti garis angka dengan telunjuk tanganya. Jadi anak semakin paham bagaimana cara membentuk angka satu, dan seterusnya. Mudah sekali bukan?

Archy excited sekali saat mencoba meraba angka-angka tersebut satu persatu. Dirabanya berulang kali meskipun setelah itu ia coba leburkan kembali menjadi satu. Hahaha, namanya juga anak-anak. Mereka juga sedang mengembangkan konsep yang ada di pikiranya. 



Nah, sekarang kita coba praktekan sama-sama yuk di rumah. Cukup dengan menggunakan playdough, anak bisa belajar mengenal angka dengan cara yang seru dan menyenangkan loh. Selamat bermain dengan si kecil ya bund :)



Thursday, 14 February 2019

BELAJAR MENGENAL POLA: AKTIVITAS ANAK USIA 2 TAHUN

Jika kita melihat anak sedang asyik mensortir mainan sesuai warnanya, menyusun balok berurutan dengan urutan warna yang diulang, apa yang terbesit dari kacamata kita sebagai orang tua? Ya, barangkali anak sedang mempelajari warna. Betul, itupun yang juga sering dilakukan Archy secara otomatis tanpa arahan dan petunjuk dari saya. Anak usia 2 tahun senang mensortir segala sesuatu!

Lebih dari itu, hal yang perlu kita ketahui dari permainan yang anak kita lakukan adalah mereka sedang belajar mengenal pola. Pengalaman-pengalaman bermain melalui pola umumnya terjadi secara alamiah. Pola membantu anak untuk belajar mengurutkan, memprediksi yang mengarah pada keterampilan matematika, struktur logika, dan membangun keteraturan kita dalam hidup.

Kali ini, saya akan menyajikan permainan DIY yang mengasah keterampilan berfikir logis anak tentang pola. Kegiatan ini saya namakan dengan “Rainbow Ball” . Tujuan dari permainan ini adalah untuk memperkenalkan anak bentuk pola warna yang diulang. 

Bahan yang diperlukan:
Printable Rainbow Ball atau bisa bunda buat dengan menggambar lingkaran kecil berurutan diatas karton.
Gunting
Lem
Kardus untuk alas Printable
Bola pom-pom

Cara membuatnya:
Tempelkan printable atau hasil gambar lingkaran kecil diatas kardus supaya lebih tebal dan rapi. Gunting kardus sesuai dengan pola. Siapkan bola pom-pom disampingnya. Lalu mainkan!



Cara memainkanya:
Tulislah warna yang akan kita susun untuk membentuk pola yang berulang diatas lingkaran. Minta anak untuk bantu menyusun bola pom-pom sesuai dengan warna yang ditentukan.

Misalnya pada baris pertama saya buat pola berulang merah dan kuning. Kemudian archy saya minta melanjutkan untuk menyusun bola pom-pom sesuai dengan warna selanjutnya.

Tada..seperti ini hasilnya.


Memang awalnya susah untuk mengarahkan Archy bermain permainan ini. Saya biarkan namun saya mainkan berulang-ulang. Ternyata lama-lama ia mulai tertarik dengan bola yang terususun cantik itu.
Jangan lupa, setiap kita membuat sesuat permainan dengan prakarya bunda sendiri. Jangan langsung dibuang ya. Bunda bisa gunakan lagi karena suatu saat anak pasti merindukan mainan itu jika ternyata dia mulai bosan dengan permainanya. Disisi lain semua permainan anak akan diajadikan portofolio sebagai dokumentasi hasil belajar mereka bunda.

Selamat bermain dengan si kecil ya J

Wednesday, 13 February 2019

BELAJAR KONSEP UKURAN: AKTIVITAS ANAK USIA 2 TAHUN


Bunda, seperti artikel yang saya tulis sebelumnya, matematika selalu ada dalam kehidupan anak sehari-hari loh. Salah satunya adalah memahami konsep ukuran (besar-kecil, panjang-pendek). Konsep ini merupakan tahap yang perlu dicapai anak di usia 2 tahun.

Ada banyak cara yang bisa bunda lakukan di rumah untuk mengajarkan anak mengenai perbedaan besar dan kecil. Tentunya banyak sekali benda-benda di rumah yang bisa dijadikan untuk media belajar. Sendok besar dan sendok kecil, piring besar dan piring kecil, dan masih banyak lagi.

Kali ini Archy ingin mengenal macam-macam anak hewan beserta induknya. Pasti lebih menyenangkan lagi jika kita buat puzzle bergambar anak dan induk binatang. Caranya mudah sekali loh bunda. Mari kita simak bahan yang diperlukan beserta cara mainnya.

Bahan yang diperlukan:
Printable anak dan induk hewan. Saya download di Farm Animal Puzzle
Gunting
Lem
Kardus susu bekas

Caranya:
Gunting  puzzle anak dan induk hewan yang sudah kita print out sesuai dengan pola.
Tempelkan diatas kardus
Gunting kardus mengikuti pola

Tada..mudah sekali bukan? setelah itu mari kita bereksplorasi bermain bersama si kecil.

“mama kucing, mana mama kucing? si anak kucing mencari kesana kemari huhuhu”ucap saya supaya Archy tertarik dengan permainana puzzlenya.

“Ini.....” Archy berteriak saat mempertemukan si anak kucing dengan induknya.

Permainan ini cukup membuat Archy bertahan duduk mencocokan puzzlenya satu persatu. Biasanya, jika permainan itu dirasa tidak disukai, ia segera beranjak pergi. Karena tak hanya bertujuan untuk mengenal konsep ukuran saja, namun anak juga menambah pengetahuan baru tentang binatang ternak.

Contohnya anak ayam rupanya tidak serupa dengan ayam ketika menjadi induk. Si anak ayam yang berwarna kuning saat besar ia akan berubah warna menjadi warna kecoklatan. Awalnya Archy tidak tahu jika si ayam kecil kuning itu adalah anak ayam. Tapi kini bisa mencari kemiripan lain dari paruhnya. Wow, menyenangkan sekali bukan?

Yuk, kita coba memainkan animal farm puzzle di rumah!

Tuesday, 12 February 2019

BELAJAR MATEMATIKA: AKTIVITAS ANAK USIA 2 TAHUN


Banyak orang tua yang masih memandang kalau mengajarkan Matematika dasar berarti mengajarkan anak mengenai penjumlahan. Biasanya kalau anak sudah masuk sekolah, si bapak iseng bertanya, “ nak satu ditambah dua sama dengan berapa?”. Atau yang lebih dasar lagi bertanya urutan angka satu sampai sepuluh. Jika si anak sudah mahir menghafal, itu tandanya ia sudah pandai matematika. Itu pandangan orang awam.

Sekarang pandangan orang tua sudah semakin maju. Kemudahan untuk mendapatkan informasi mendorong orang tua untuk menstimulus kemampuan matematika anak sejak dini. Tak hanya itu, pandangan orang tua mengenai matematika kini sudah meluas. Matematika tidak hanya mengenal angka saja, pun juga menganl besaran, bentuk, dan pola yang bisa diajarkan kepada anak sebelum memasuki usia sekolah.

Untuk mengetahui tahap perkembangan matematika anak sesuai usianya, kini kita bisa melihat acuan dari Permendikbub PAUD mengenai tahap pencapaian perkembangan anak. Disitu dengan jelas dan singkat dituliskan kemampuan logis apa yang semestinya dilewati oleh anak-anak sesuai usianya.
Kalau susah mencari, silahkan klik dibawah ini:

Tingkat Perkembangan Anak Permendikbud PAUD

Nah, kali ini saya akan membagikan pengalaman bagaimana menstimulus kemampuan matematika logis Archy, anak saya yang berusia 2 tahun. Awalnya saya buat lesson plan, yaitu rencana belajar selama 10 hari kedepan. Karena kegiatan ini juga merupakan bagian dari tugas kelas Bunda Saya Ibu Profesional level 6.

Bagi yang belum tahu seperti apa lesson plan itu, silahkan klik link dibawah ini ya J

Baiklah, hari pertama saya membuat ide kegiatan tentang mengenal angka dasar. by the way, tingkat pencapaian kemampuan logis apa saja ya yang dilewati anak usia 2 tahun?

Tingkat pencapaian kemampuan logis anak usia 2 tahun:
·         Memahami konsep ukuran besar-kecil dan panjang-pendek
·         Mengenal bentuk dasar (segitiga, segiempat, dan lingkaran)
·         Memahami simbol angka
·         Memahami pola

Ok, ide kegiatan ini saya beri nama “Bug Jumping”. Ide ini saya ATM (amati, tiru, modifikasi) dari Pinterest dan kemudian saya praktekan di rumah.
DIY BIG JUMPING


Bahan yang diperlukan:
-          Kertas karton
-          Spidol/crayon
-          Lego

Ceritanya, si capung meloncat terlalu tinggi dan ia sedang tidak bisa menggunakan sayapnya. Kita bantu si capung untuk turun ke bawah. Caranya kita harus membuatkan tangga untuk si capung. Kita hitung, perlu berapa lego-kah untuk membantu capung turun dari atas?

Dari situ kita bisa ajak anak untuk menghitung jumlah lego yang diperlukan untuk menyusun tangga. Sederhana dan menarik bukan? Yuk, kita coba praktekan Bug Jumping bersama buah hati anda di rumah J
Menghitung jumlah lego yang digunakan untuk membangun tangga



#haripertama
#Tantangan10hari
#Level6
#KuliahbunsayIIP
#Ilovemath
#Matharoundus
#ThinkLogic

Thursday, 20 December 2018

GAYA BELAJAR ANAK: MITOS ATAU FAKTA?

Sejauh ini, khususnya dalam ranah psikologi gaya belajar memang masih banyak diperdebatkan terkait pengaruhnya terhadap proses pembelajaran. Apakah benar kita memiliki gaya belajar tertentu? Atau apakah gaya belajar memang mempermudah anak dalam belajar dan berpengaruh terhadap pembelajaran yang bermakna? Benarkah anak yang sudah terarahkan gaya belajarnya cenderung kemampuan prestasinya lebih baik dibandingkan anak yang sama sekali belajar tanpa terpaku pada gaya belajar tertentu? Apakah anak yang cenderung memiliki gaya belajar auditory nantinya tetap tidak mau mencoba belajar dengan menggunakan gaya belajar lain? Dan lain sebagainya.

Yuk mari mulai kita pelajari satu persatu.
Merujuk pada buku Quantum Learning, dalam gaya belajar ada dua kategori utama bagaimana kita belajar yaitu:
1. Cara menyerap informasi ( modalitas )
2. Cara mengatur dan mengolah informasi ( dominasi otak)

Maka gaya belajar seseorang adalah kombinasi dari bagaimana ia menyerap, kemudian mengatur serta mengolah informasi. Jadi jika kita mengenali gaya belajar sendiri, maka kita dapat membantu diri sendiri dan anak kita untuk belajar lebih cepat dan mudah.

Nah, sekarang kita cari tahu yuk bagaimana proses mental kita bekerja dalam mengolah informasi?

Berdasarkan teori pengolahan informasi tentang modal memori dua-penyimpanan (Atkinson & Shiffrin) mengemukakan bahwa informasi bermula ketika sebuah input stimulus (ex: visual, auditori) mengenai satu atau lebih bagian panca indera (bisa penglihatan, pendengaran, peraba) yang disebut dengan register sensorik. Nah, register sensorik yang kena tadi kemudian disimpan dalam bentuk rekaman indrawi. Dari rekaman itulah terjadi proses pengenalan pola atau dikenal dengan persepsi. Kemudian persepsi diolah dalam working memory kemudian integrasikan ke dalam prior knowledge.

https://www.researchgate.net/figure/The-offered-MemoryX-architecture-consisting-of-a-working-memory-and-a-long-term-memory_fig3_269111443

Tapi kenyataanya, ketika kita belajar tentunya informasi yang diperoleh cenderung lebih kompleks, lalu gimana jika semua informasi tersebut dapat kita serap secara keseluruhan dengan mudah? 

Ada beberapa alternatif-alternatif dari dua model penyimpanan salah satunya adalah level aktivasi. Dalam model ini mengatakan bahwa kita bukan memiliki struktur memori yang terpisah, tetapi satu memori dengan kondisi aktivasi yang berbeda. Meskipun kondisi aktivasinya berbeda, namun dalam proses bagaimana seseorang itu mengolah informasi tetaplah register sensorik ketika menangkap input stimulus bekerja bersama-sama bukan dominan pada register tertentu (Schunk, 2012).

Nah, setelah kita tahu bagaimana proses mental kita mengolah informasi, mari kita kembali ke pertanyaan selanjutnya jadi apakah benar Gaya belajar itu Ada Dan mempermudahkan anak dalam belajar?


Penelitian mengenai gaya belajar telah dilakukan para ilmuwan selama bertahun-tahun. Selama lebih dari 50 tahun, teori mengenai gaya belajar ditemukan mengenai bagaimana masing-masing orang belajar dengan cara yang mereka sukai. Banyak sumber yang menemukan akan pentingnya mengamati gaya belajar anak dalam proses belajar belajar dan upaya dalam mendesain kurikulum. Ribuan sekolah di seluruh dunia sudah banyak menerapkan gaya belajar untuk menilai cara belajar yang anak sukai untuk menentukan metode mengajar yang tepat bagi mereka. Hal ini diharapkan agar anak mudah memahami pelajaran dan memperoleh hasil belajar yang lebih baik. 

Ribuan sekolah di seluruh dunia sudah banyak menerapkan gaya belajar untuk menilai cara belajar yang anak sukai untuk menentukan metode mengajar yang tepat bagi mereka

Penelitian yang dilakukan Coffield et al pada tahun 2004, dimana peneliti menyajikan lebih dari 70 instrumen untuk membuktikan adanya gaya belajar, dan hasillnya menunjukan bahwa tidak ditemukan bukti kuat untuk mendukung keberadaan gaya belajar.

Penelitian yang dilakukan oleh Paul Howard-Jones (2014) dengan mengambil sampel guru dari 5 negara menemukan bahwa 93% guru di Inggris menyetujui bahwa murid akan belajar dengan baik jika diajar sesuai dengan LS mereka. Namun temuan tersebut belum memperkuat seberapa efektifkah perancangan kurikulum yang didesain berdasarkan gaya belajar anak untuk hasil belajar yang lebih baik.

Permasalahanya adalah bukan pada apakah gaya belajar itu ada melainkan apakah belajar sesuai dengan gaya yang lebih disukai bisa membuat perbedaan. Beberapa ulasan hasil studi yang dipublikasikan pada tahun 2008 (Pashler, et al), menyimpulkan bahwa masih sedikit penelitian-penelitian gaya belajar yang didesain dengan studi komparatif untuk mengetahui perbedaan anak yang belajar dengan LS dan yang tidak. 
     
Penelitian yang dilakukan oleh pakar psikologi di Universitas California, San Diego dalam jurnal Psychological Science in the Public Interest menemukan bahwa orang lebih menyukai untuk mempresentasikan informasi yang diperoleh dengan berbagai macam cara, dan mereka menemukan bahwa tidak terbukti bahwa mencocokan model presentasi ke gaya belajar yang disukai dapat berpengaruh terhadap prestasi dan performasi mereka dalam belajar.

Penelitian menemukan bahwa tidak terbukti bahwa mencocokan model presentasi ke gaya belajar yang disukai dapat berpengaruh terhadap prestasi dan performasi mereka dalam belajar.

Penelitian yang dilakukan oleh Newton dan Miah (2017) yang mensurvey 114 akademisi di sekolah Inggris menemukan bahwa persepsi guru tentang perlunya gaya belajar siswa sebesar 58% namun cenderung lebih rendah dari pada penelitian serupa sebelumnya dan penelitian dalam beberapa tahun terakhir. Responden yang menggunakan Gaya Belajar (33%) jauh lebih rendah daripada mereka yang mengaku percaya pada mereka menggunakan. Namun, 32% responden menyatakan bahwa mereka akan terus menggunakan gaya belajar pilihan mereka meskipun kurangnya bukti dasar untuk mendukung efektfitas gata belajar itu sendiri.

Bahkan belakangan ini, para pakar psikologi lain kembali meninjau tentang gagasan mengenai gaya belajar. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan membandingkan kelompok dengan pilihan gaya belajar dan kelompok yang tidak diarahkan gaya belajarnya. Hasilnya kembali tidak terbukti eksistensi mengenai gaya belajar berpengaruh terhadap meaningful learing dan hasil belajar. Dalam penelitian ini juga menjelaskan bahwa akan menjadi susah apabila belajar dengan gaya tertentu saja, contohnya mempelajari geografi dan seni tanpa presentasi visual meskipun gaya belajarnya cenderung ke auditori. 


Terus gimana, apakah betul anak memiliki gaya belajar tertentu? Perlu gak kita mengamati dan menentukan gaya belajar anak?

Hammond (2016) mengulas hasil penelitian yang dilakukan pada tahun 2015. Suatu studi yang menarik di mana anak-anak diberi kesempatan untuk belajar di luar ruangan dimana semua gerak aktivitas anak dipantau melalui alat pelacak GPS. Gaya belajar masing-masing anak dinilai mulai dari awal dan banyak anak yang proses belajarnya sesuai dengan gaya tertentu. Murid dengan gaya belajar kinestetik yang paling banyak bergerak selama di luar ruangan, murid visual mengambil banyak foto, dan murid auditori lebih banyak berbicara selama diskusi. Hal ini membuktikan bahwa belajar dengan gaya belajar yang disukai setidaknya memberikan implikasi bagaimana cara kita bertindak di dunia nyata meski tidak diketahui apakah dengan menentukan gaya belajar tersebut dapat mengubah hasil belajar yang mereka harapkan. 

Dalam proses pengolahan informasi juga dijelaskan bahwa saat belajar indra dan kinerja saraf dalam otak kita tidak bekerja sendiri. Saat kita mendengarkan sesuatu dengan fokus, proses visual kita tidak berhenti sampai disitu.Bahkan membaca merupakan tindakan yang lebih dari sekedar proses visual. Berbagai bagian di otak dikerahkan saat berimajinasi dan merefleksikannya pada pengalaman-pengalaman kita sendiri. 

membaca merupakan tindakan yang lebih dari sekedar proses visual. Berbagai bagian di otak dikerahkan saat berimajinasi dan merefleksikannya pada pengalaman-pengalaman kita sendiri.

Selain itu, mengajar siswa dengan gaya belajar tertentu secara tidak langsung dapat menahan perkembangan kreativitas siswa dalam proses belajar. Bahkan saat kita dewasa kita perlu belajar dengan gaya belajar yang berbeda-beda. Lebih dikhawatirkan lagi, menggolongkan gaya belajar siswa dapat memunculkan stereotip pada diri mereka sendiri. Murid yang merasa bahwa gaya belajar auditori dan visualnya rendah justru menganggap membaca buku dan mendengarkan penjelasan orang lain tidak berguna baginya dan cenderung ia hindari. Ada juga contohnya seorang murid yang sulit belajar dengan membaca karena pilihannya pada gaya belajar kinestetik, kesulitan mereka mungkin akan dimaklumi oleh guru bukannya ditelaah dan ditindaklanjuti.

Jadi kesimpulanya, kita boleh mengamati gaya belajar anak dan memberikan mereka fasilitas sesuai kebutuhan gaya belajar yang ia sukai. Namun, jika anak tiba-tiba merasa nyaman dan beralih ke gaya belajar lain, ada baiknya kita memaklumi karena bisa jadi anak belajar mengembangkan kemampuan kreativitasnya. Tidak disarankan jika gaya belajar yang ditentukan memunculkan stereortip dalam diri anak. Anak cenderung tidak berusaha membaca karena merasa ia lebih mampu belajar dengan gaya kinestetik. Lalu kita tidak mendorong mereka untuk melakukan inisiatif dalam belajar sehingga anak akan cenderung stagnan dan tidak melakukan improvisasi dalam belajar. 




Lalu apa yang dirasakan saat mengamati gaya belajar anak pada tugas level 4 ini?

Games Level 4 mengenai gaya belajar ini merupakan games yang sejatinya paling menantang bagi saya. Bukan hanya dalam segi pelaksanaan saja, melainkan juga dalam segi kajian teoritik. Bahkan dengan adanya tugas bunda sayang ini, saya lebih banyak belajar untuk mendalami materi LS (learning style). Tugas bunsay mendorong saya untuk banyak berdiskusi dengan teman, kembali membaca buku dan jurnal, serta memotivasi saya untuk terus mengupgrade ilmu meskipun saat ini saya sudah lulus secara akademik dan menjadi ibu rumah tangga.Thanks a lot :)
 
Yang saya rasakan adalah kepuasan. Saya mengamati bahwa archy belajar dengan berbagai macam gaya dalam aktivitas tertentu. Ia menjadi auditori karena sering sekali belajar sambil mendengarkan saya menyanyi karena sejak dari kandungan saya selalu mengajaknya belajar sambil bernyanyi. Ia menjadi cenderung kinsetetik ketika ia perlu mempraktekan yang sekiranya memang dibutuhkan praktek saat mempelajarinya seperti merasakan bagaimana proses gravitasi maka ia menjatuhkan diri ke benaman guling dan bantal, dan lain sebagainya. Terkadang iapun menjadi tipe anak visual yang cenderung lebih senang mengamati apa yang orang lain lakukan.

Kepuasan lainya juga saya rasakan ketika belajar dan memahami bahwa meskipun dalam suatu penelitian pasti ada keterbatasan dan kekuranganya, namun dunia sains tidak akan pernah terlepas dari adanya penelitian. Kita harus menghargai bahwa peneltian merupakan upaya para ilmuwan untuk membuktikan teori-teori yang sudah ada, mengingat informasi dan kemajuan teknologi semakin berkembang pesat. Begitu pula dengan perilaku manusia seperti perilaku belajar yang senantiasa dinamis sehingga diperlukan pengujian dan peninjauan ulang untuk mengevaluasi bukti yang menyebabkan kesimpulan tersebut diambil.

Referensi:

Coffield, F., Moseley, D., Hall, E., and Ecclestone, K. (2004). Learning Styles and Pedagogy in Post 16 Learning: A Systematic and Critical Review. The Learning and Skills Research Centre. Available at: http://localhost:8080/xmlui/handle/ 1/273 


Burns, Jason. (2016). Do Learning Styles Exist? https://edwp.educ.msu.edu/green-and-write/2016/do-learning-styles-exist/
Schunk, Dale. (2012). Learning Theories: An Educational Perspective. New York: Pearson Education Inc

Pashler, H., McDaniel, M., Rohrer, D., and Bjork, R. (2008). Learning styles:concepts and evidence. Psychol. Sci. Public Interest 9, 105–119.doi: 10.1111/j.1539-6053.2009.01038.x

Newton, M. & Miah, M. (2017). Evidence Based Higher Education: Is the Learning Styles "Myth" Important?. Frontier Psychology: volume 8, article 444. 

Hammond, Claudia. (2016). Do We Have a Preffered Style of Learning?. http://www.bbc.com/future/story/20161010-do-we-have-a-preferred-style-of-learning