Tuesday, 7 August 2018

Our First Family Camp bersama KEMAH KELUARGA INDONESIA area SUMSEL


Minggu yang lalu, tepatnya tanggal 14 Juli 2018 kami sekeluarga ikutan kemah di sekolah alam indonesia, bukti siguntang , palembang, yang diselenggarakan oleh komunitas kemah keluarga indonesia (K3I). Ini adalah kopdar pertama untuk wilayah sumsel sekalian peresmian K3I cabang sumatera selatan yang dihadiri langsung oleh komunitas K3I, om Chepy dari jakarta. Saya emang udah kepingin banget bisa kemah sama paksu dan anak-anak. cuman bingung kalo udah berkeluarga gini nentuin waktu dan tempatnya suka gak sinkron. Belum lagi perlengkapan kemahnya kita gak punya sama sekali. Beruntunglah dengan adanya komunitas ini keinginan kami terwujudkan. Kita jadi tau persewaan alat kemah yang bisa di sewa selama kegiatan kemah berlangsung, dan juga waktu dan tempat sudah ditentukan oleh panitia jadinya kita tinggal terima jadi alias langsung daftar aja jadi peserta kemah.

Kalo mamanya archy sejak jaman gadis mah udah rajin ikutan kemah, tapi kalo papanya archy ini adalah yang pertama kalinya. Jadi ngebujuk papanya archy buat ikutan kemah itu butuh usaha ekstra hahahaa...alhamdulillah akhirnya mau juga dan dia jadi ketagihan pengen ikutan lagi...yeahhh mission complete :D.

Ok, berhubung ini kemah perdana, lokasinya masih sebatas di perkotaan dulu. Tepatnya di sekolah alam. Kebetulan beberapa ortu yang ikut kemah memang menyekolahkan anaknya di sekolah alam ini. Jadi untuk perijinan tempat lebih mudah. Semua logistik disiapkan oleh masing-masing anggota keluarga. Untuk kemah perdana sumsel ini, total keluarga yang ikut ada 10 keluarga. Jadi lumayan rame loh, belum mereka bawa anak dan ada juga yang bawa keponakan dan adek. Ada yang datang dari baturaja dimana perjalanan ke palembang memakan waktu kurang lebih 5 jam. Ada juga yang datang dari sembawa, banyuasin. Dan lebih kerenya lagi, ketua komunitas cabang sumselnya, om Muhlis, bekerja di Sumbawa, Nusa Tenggara Barat. Jadi kemaren yang datang duluan anak dan istrinya. Om muhlisnya baru datang sore dari NTB. Sampe Palembang langsung ikutan kemah. Wih...perjuangan bener ya. Banyak juga beberapa yang anaknya masih bayi, paling kecil usia 8 bulan. Jadi archy bukan anggota termuda waktu kemah kemaren. Masih ada yang lebih bayi lagi hehehee...

Untuk perlengkapan tenda, kami pinjam dari sekolah tempat kami kemah. Kebetulan mereka ada tenda dome dan disewakan dengan harga seikhlasnya, karena memang pasaknya banyak yang bengkok hahaa..jadinya kita gak bisa kalo mau dirikan tenda sendiri. Harus didirikan sama guru disana hehe..gapapa lah yang penting masih nyaman di pakai dan enak buat tidur. Matrasnya kita sewa di Edelweiss Store, toko perlengkapan outdoor di Palembang. Cuman kita nitip temen jadi langsung dibawakan ke lokasi. Kukira matrasnya yang matra empuk itu, gak taunya matras kayak kita pakai buat yoga. Pantes murah seharinya satu matras disewakan dengan kisaran 3 ribu rupiah hh..tau gitu mamak bawa efamatnya Archy aja yang ada di rumah.

Berhubung kita kemah di kota yang cenderung udaranya panas, jadi kita gak ada yang bawa sleeping bag buat tidur. Saya cuman bawa badcover buat alas tidur. Itupun saran dari anggota keluarga yang sudah biasa ikutan kemah baik di udara dingin dan panas. Jadi alhamdulillah, segala macam logistik dan konsumsi selama kami kemah tercukupi. Ada kantin juga di sekolah, dan masih bisa order go food bagi yang pengen makan makanan luar hahaha.. kalo saya mah sengaja masak dari rumah biar ngirit dan kalo laper tinggal makan aja.

Untuk acara kegiatan selama kemah, dimulai dari hari sabtu jam 12 siang. Jam 12 masih banyak keluarga yang datang buat dirikan tenda. Malah ada yang baru datang sore juga. Sorenya setelah solat Ashar, ada Fun game yang dipimpin oleh om Chepy sebagai fasilitator game. Game ini bertujuan untuk saling mengenal satu sama lain dan mempererat persaudaraan antar anggota keluarga. Game pertama ditujukan untuk para orang tua, game selanjutnya khusus untuk anak-anak. Seru banget dan anak-anak happy ketemu teman baru dan bisa bermain outdoor sesuka hati. Selepas game, acara bebas. Ada yang mandi, masak untuk persiapan makan malam, dan anak-anak sebagian bermain pasir di area permainan sekolah. Jelas Archy juga gak mau ketinggalan kalo temen-temenya pada maen kotor-kotor, pasti ikutan nimbrung juga maenan pasir. Semua orang tua disini sangat demokratis dalam memberikan kebebasan anaknya bermain. Saya yang baru saja kenal mereka juga merasa nyaman karena kami semua memiliki beberapa kesamaan persepsi dalam mendidik anak.

Usai solat maghrib, acara selanjutnya adalah makan malam ala liwetan. Jadi makanya diatas daun pisang bersama-sama. Para ibu-ibu yang banyak turun tangan untuk menata nasi, lauk, dan sayur untuk disajikan diatas daun pisang. Makan terasa nikmat dan hangat karena kekeluargaan kami semakin terjalin erat. Tapi sayangnya kalo sudah liwetan, banyak nasi yang terbuang karena kebanyakan. Untunglah sekolah punya binatang ternak supaya sisa makananya bisa dimanfaatkan dan tidak terbuang sia-sia di TPA. Duh lain kali mendingan liwetan itu nasi lauknya pada ambil sendiri-sendiri aja ya biar gak mubadzir.

Lanjut setelah makan, kita bersih-bersih lokasi makan kemudian dilanjutkan dengan solat isya berjamaah. Usai solat isya, kegiatan selanjutnya adalah malam keakrabaan sambil ditemani oleh api unggun. Kita saling mengenal lebih dekat dengan anggota keluarga lain. Banyak orang tua yang senang bisa berkemah dengan anak-anaknya karena mereka bisa membangun kelekatan dengan anak, selain itu sebagai upaya ortu untuk mengistirahatkan anak dari gadget. Nah, ini banyak ortu yang menyadari kalo gadget sudah banyak menyita waktu bersama mereka dengan anak. Dengan kegiatan seperti ini anak lebih excited dengan permainan2 alam dibandingkan dengan gadget. Saya salut sama para ortu disini yang mengupayakan kegiatan supaya anak-anaknya tidak teradiksi dengan gadget. Anak sehat secara mental karena mereka bermain bebas, bersosialisasi, dan belajar mencintai alam sekitar yang sangat perlu kita lestarikan. Usai makrab, acara selanjutnya adalah tidur malam. Meski ada yang melanjutkan dengan pesta duren, tapi kami sekeluarga memutuskan untuk segera tidur. Maklum, Archy saking senenganya dari pagi sampai malam lupa ngantuk lupa tidur. Jadi saatnya dia harus tidur supaya paginya tetap fresh dan bisa bermain lagi.

Minggu pagi, kegiatan diiisi dengan senam pagi lalu dilanjutkan dengan sarapan. Setelah sarapan kita operasi semut dan persiapan untuk pulang. Rasanya 2 hari begitu cepat bagi kami terutama bagi anak-anak. Mereka mendapatkan banyak hal yang jarang mereka dapatkan ketika di rumah, khususnya yang tinggal di perumahan kayak saya. Archy bebas bereksplorasi, bermain messy play, maen sensory langsung dengan rerumputan dan pasir-pasiran. Gak perlu maen pasir kinetik lagi yang harus lari ke mall. Jadi bolehlah kalo mengagendakan kemah bersama keluarga seenggaknya setahun sekali. Tunggu adek Archy launching dan udah gede baru kita ikutan kemah lagi hehe..

Ini dia beberapa dokumen foto Family Camp yang kita ikuti. Kalo ada yang berminat, silahkan join atau search d google komunitas kemah keluarga indonesia ya..nanti ada grup per regional untuk agenda bulannanya..semoga bermanfaat :)









Sunday, 29 July 2018

MENGULAS POLA MAKAN SEHAT ALA “EATING CLEAN”: DARI DR.TAN SAMPAI INGE TUMIWA


Sebenarnya saya sudah mengenal buku eating clean karya mbak inge sejak tahun 2016. waktu itu temen saya posting di ig kalo bukunya rekomen banget untuk pola makan sehat. Tapi kebetulan di rumah abah ibu, kami sedang menerapkan pola hidup ala dokter tan. Ditambah lagi masih banyak majalan bertebaran di rumah tentang food combining dari andang gunawan. Jadinya saya masih urung buat kepo bukunya mbak inge. Secara, yang terpenting dalam mengatur pola makan sehat itu bukan teorinya, tapi penerapanya yang dilakukan secara konsisten. Percuma juga sih cuman dilakukan sepekan dua pekan habis itu kembali ke pola hidup sebelumnya. Tapi akhirnya saya jadi excited sama eating clean karena sudah banyak menegur dan mengingatkan saya pada banyak hal.
Waktu tinggal di rumah abah ibu sambil S2, saya merasa cukup termotivasi buat ngerubah bad habit ke pola hidup sehat karena orang tua saya juga sedang menerapkanya. Ya meskipun gak 100 persen juga, hehee.. misalnya abah gak membiasakan make AC di mobil kalo gak kepepet banget dan sengaja gak pake pewangi buatan di mobil karena alasanya segala sesuatu yang terbaik untuk tubuh adalah segala hal yang alami, bukan dari buatan pabrik. Udara yang kita hirup alami, Wangi yang diciptakanpun seharusnya alami bukan dari pengharum ruangan buatan pabrik. Kata abah banyak orang arab yang usianya pendek salah satunya karena dampak AC hii..Sebenarnya agak menyiksa juga antara nuduh abah perhitungan biar bisa ngirit bensin mobil dan gak perlu ganti pengarum mobil wkwkw (sadis ya gue). Untuk makan, ibu yang paling setiti masalah pola makan. Sejak dulu ibu selalu nerapin makan sayur setengah porsi piring dan selebihnya diiisi lauk dan sangat sedikit nasi. Di rumahpun sejak saya SMA, kami sudah mengkonsumsi nasi merah meski kadang dicampur nasi putih biar gak enek banget. Abah gak pernah konsumsi gula juga, jadi hampir gak ada gula di rumah kecuali disediakan kalo ada tamu. Di rumah gak ada yang namanya makanan pake olahan santan. Buah lokalpun selalu wajib tersedia di meja makan.

Kadang saya juga heran, 20 tahun lebih abah hidup di luar negeri, tapi abah gak doyan makanan ala-ala barat. Meski kadang bikin sendiri sesekali. Abah gak pernah makan sejenis pizza, hot dog, teriyaki, dsb. Yang abah paling doyan adalah makanan apapun yang dimasak ibu terutama makanan khas Sumbawa. Udah deh, berasa lupa daratan kalo udah makan singang dan sepat eww..dan kadang dengan sadisnya saya suka nyindir kalo abah terlalu kolot. Masak diajakin ke resto makanan western aja nolak, malah milihnya nasi padang . Ya seperti biasa beliau berdalih,” loh kamu ni kayak bukan orang muslim aja. Kalo kata ibnu khaldun, makanlah makanan pakai bahan makanan yang ada di sekitarmu. Karena proses metabolismenya lebih bagus dari pada bahan makanan impor. Gak usah kemakan tren makan ini itu. Udah sarapan pake gudangan saja sama ayam. Yang penting jangan makan tempe terus. Makan daging itu ada ayam, ikan...” yayaya bah..langsung mingkem lah anakmu kalo udah skak mat gini. Tapi disisi lain, saya amat sangat bersyukur dilahirkan di keluarga yang sadar akan pola hidup sehat. Bukan hanya pola makan saja, tapi juga pola hidup zerowaste. Ibu udah biasa memilah sampah organik dan anorganik sejak dulu. Kita juga ada hewan ternak buat habisin sisa makanan yang gak kemakan, ada ayam dan lele. Mungkin juga karena kita tinggal di kota kecil alias ndeso jadi lingkungan juga mendukung. Entah gimana jadinya kalo saya hidup di perkotaan besar sejak kecil, mungkin lain cerita hehehee..
Ok, kita kembali ke pembahasan awal tentang eating clean. Setelah selesai studi, saya kembali ke Palembang hidup d rumah sendiri bersama suami dan anak. Nah, ini jadi tantangan saya untuk bisa konsisten terhadap pola makan sebelumnya. Secara pola makan saya dan suami sangat berbeda. Suami sebenarnya doyan dengan semua makanan. Tapi sukanya ngajak jajan yang “enak-enak” dan suka request dibikinin yang manis-manis. Jadilah saya mulai tergoda dengan kebiasaan makan baru. Sering masak bersantan, banyak gorengan, jajan yang manis-manis, beli makanan dan minuman kemasan yang ternyata kandungan fluktosanya tinggi, lengkapp sudaahh... Belum lagi panasnya palembang menjadikan kita ketergantungan sama AC. Kalo di boyolali rumah pake AC itu dibilang rumah aneh. Orang tinggal di kaki gunung masak pake AC. Panas darimana cobak. Nah kalo disini, hampir semua rumah ada AC nya. Karena kalo gak, gerahnya luarr biasa. Belum lagi hamil kedua ini saya dibantu nyuci dan setrika sama asisten rumah tangga. Pantes aja, tiap kontrol kehamilah dokter kandunganya kaget. Normalnya bumil naek Bbnya per bulan 2-3 kg...nah ini saya pernah naek drastis sampe 5 kg lebih! akkkkk...dosa apakah saya... saya kayaknya selama ini pingsan. Makan semua berlemak, jarang olahraga..bener-bener merasa serba salah.
Sampai pada akhirnya badan saya mulai begah dan merasa ada yang gak beres dari pola makan saya. Ya, meski rajin jalan setiap hari tapi asupan karbohidrat dan gulanya gak terkontrol tetep aja rasanya gak bugar. Kemudian saya mulai ubah sedikit demi sedikit. Makan pepaya tiap pagi pakai jeruk nipis dan madu. Segernya luar biasah. Tapi di rumah stok cokelat pasca lebaran masih berkedip manja. Ulala...sedikit demi sedikitnya seberapa...kumatnya seberapa. Baru akhirnya mulai bangkit dari pingsan lagi setelah ikut bedah buku eating clean mbak inge di gramedia world minggu yang lalu. Saya kayaknya gak boleh pingsan lagi. Harus melek betul buat kembali memperbaiki pola makan saya yang amburadul.
So, saya ingin sedikit mereview pembahasan tentang eating clean bersama mbak inge kemaren. Jadi, eating clean itu adalah bagaimana cara kita mengkonsumsi makanan sealami mungkin sehingga kandungan nutrisi dari makanan gak banyak kebuang. Ya, kurang lebih sama sih dengan filosofinya dr. Tan. Hiduplah sealami mungkin karena Tuhan sudah menciptakan sedemikian rupa untuk kebutuhan manusia, tanpa perlu diotak atik kembali. Pada dasarnya cara memasak makanan alami itu memang tidak perlu ribet. Pakai bumbu seadanya dan hanya menggunakan tiga metode yaitu: tumis, kukus, rebus.  Masak sehat itu yang caranya sederhana, resepnya sederhana. bahanya bahan lokal sesuai dengan kemampuan, kata mbak Inge begitu. Jadi gak perlu ribet ala-ala master chef numplekin bumbu ini itu karena yang terpenting adalah kandungan dari asupan makanan kita tetap utuh gaes.
Mbak inge juga support banget produk lokal. Makan itu gak usah cari bahan riweh dan merepotkan. Ngapain konsumsi makanan impor jauh-jauh kalo disekitar kita juga banyak makanan yang gak kalah kandungan gizinya. Contohnya aja beli ikan dori yang super mehong di supermarket. Helau, ikan dori itu ikan ternak, diciptakan oleh org vietnam buat diekspore di inggris. Sebenarnya ikanya banyak di palembang yaitu ikan patin yang berenang di sungai. Cuman kalo namanya patin dan ditunjukin moncongnya gitu orang luar kagak jadi beli. Makanya dibikin fillet lalu diekspor keluar. Kalo orang palembang yang punya sungai banyak lebih sering konsumsi ikan dori itu namanya lucu. Dori banyak dikasih antibiotik dan suplemen lainya. Sementara patin sungai hidup alami di sungai tanpa dikasih apa-apa. Tapi masalahanya yang dijual di pasar palembang juga banyakan ikan patin ternak lo mbak hahaa..miris ya.
Makan gak usah ribet, pake aja kearifan lokal yang ada. Lemak sehat yang paling murah di indonesia namanya alpukat. Mending pake minyak kelapa karena banyak olive oil yang dijual di indonesia itu palsu. makanlah segala macam makanan yang sudah dikrodatkan untuk dirimu. Ikan salmon itu  banyak di alaska karena mengandung lemak tinggi sehingga dapat menghangatkan tubuh, lah kita mau gaya2an tiap hari makan salmon tapi salju gak turun turun. Ikan perairan kita tidak kalah sehat omega 3nya dengan ikan salmon. Kayak ikan kerapu dan ikan gabus. Nah kalo ini saya sudah tau dari dr Tan juga. Justru malah ikan salmon yang masuk ke Indo itu udah gak fresh lagi. Mendingan makan ikan yang fresh aja langsung bisa dikonsumsi. Gimana buk ibuk, masih tergiur ngasih anaknya ikan momon? atau mulai memilih ikan kerapu? hehehee
Selain itu, yang paling ditekankan sama mbak Inge adalah hindari mengkonsumsi Gula berlebih . Gula dalam jenis apapun terutama gula buatan yang sering dikenal dengan Fluktosa. Ah, di rumah udah gak ada gula kok, aman ya berarti. Eh tapi tiap hari konsumsi susu kental manis, Jus kotak siap saji yang sering beredar di supermarket. Sarapan pake keju chee...r. Diet pake ngemil granola soyjoy dan mengganti minuman UHT biasa pake UHT yang low fat. Ternyata oh ternyata...susu UHT low fat itu kandungan fluktosanya lebih tinggi dibandingkan UHT biasa...Belum jus kemasan kotak itu, keju itu, dan granola ala-ala dietpun gulanya juga lumayan 10 gram. Jadinya mbak inge kasih simulasi gambaran konsumsi gula kita tiap hari kalo makan makanan yang gulanya gak nampak itu. Luar biasa...sehari bisa konsumsi 100 gram setara dengan 1 gelas loh jeng...e gileee yee...gak kerasa. Kandungan lainya dalam produk sih bisa bagus-bagus aja. Tapi kalo di iklan kagak pernah kan nyinggung kadar fluktosanya berapa. Oh my God...saya jadi kepikiran Archy yang kalo lagi mogok makan malah saya siapin stok roti dan susu UHT biar kenyang. Huhuhu... kata mbak Inge cemilan terbaik itu buah. Jadi sebisa mungkin stok banyak buah buat cemilan di rumah, bukan nyetok roti berfluktosa tinggi mak..
Mbak inge juga menjelaskan kenapa fluktosa itu berbahaya untuk tubuh. Fluktosa yang masuk ke tubuh kita pada dasarnya tidak dirubah jadi energi tapi dikirim ke liver, menumpuk lemak di liver. fluktosa lemak dibawah perut bisa menekan arteri dan bisa menyebabkan serangan jantung. ini akan ilang dengan cara menjauhkan fluktosa dan merubah pola makan. Tapi masalahnya menghilangkan fluktosa dalam pola makan kita itu gak gampang, karena kandunganya bikin orang jadi brain addiction. Saat brain addiction, hormon dopamin dalam otak bereaksi dan memmbuat seseorang menjadi ketagihan, sama kayak orang ketagihan narkoba. Makanya, memutuskan brain addiction itu butuh proses, susah. Perlu konsistensi dalam menjalankanya. Dan yang terpenting kata mbak Inge adalah bagaimana kita menjalankan pola hidup sehat, bukan hanya mengatur pola makan saja. Tapi secara keseluruhan. Perbanyak olahraga dan beraktivitas, sering-sering berjemur di pagi hari karena sinar matahari pagi bagus untuk menyerap vitamin E, tidur yang cukup, hindari stress, dan terkhusus bagi para ibu-ibu adalah memberikan teladan yang baik untuk anaknya. Jangan nyuruh anak makan sayur kalo kitanya gak makan sayur. Percuma ngelesin anak olaharaga ini itu kalo ortunya juga males olahraga. Sia-sia jadinya kan.. makanya membangun budaya yang baik dalam keluarga itu penting banget untuk kepribadian anak (next,,saya bakal bahas tentang membangun budaya dalam keluarga).
Dan yang terahir, adalah kesimpulan. Kesimpulan saya setelah mengikuti bedah buku eating clean-nya mbak Inge adalah saya merasa berterimakasih sudah diingatkan kembali untuk mengatur pola makan saya yang amburadul. Sejauh ini, menurut saya pribadi esensi pola makan sehat ala mbak inge tidak jauh beda dengan Dr. Tan dan juga ada beberapa kesamaan dengan food combiningnya bu Andang Gunawan. Secara mereka semua sama-sama keturunan Chinesse. Jadi kurang lebih sama lah gimana cara nenek moyang mereka mengajarkan. Hidup dan makan sealami mungkin, makan apapun jangan berlebihan, yah kurang lebih seperti itu. Jadi yang terpenting itu prakteknya bukan teorinya kan (ngomong sama kaca) hahahaa. Kalo disuruh milih mau ikutin pola makan ala siapa? saya jawab pola makan ala abah dan ibu. Keduanya adalah figur saya buat hidup sehat. Banyakin sayur, buah, banyakin beraktifitas, konsumsi segala sesuatu gak boleh berlebihan.
Apalagi kalau sudah jadi orang tua motivasi besarnya hidup sehat itu anak. Jadi jangan bilang kalo saya orangnya latah karena ini itu diikutin. Nggak ya, saya cuman ingin membangun budaya baik di rumah, mulai dari pola makan, zerowaste, bebenah ala shyoku method,  semua saya ikutin karena motivasi saya ingin menjadi teladan buat anak-anak. Sekian sudah review eating clean dari saya. Yuk kita merubah pola makan sehat bersama-sama J



Saturday, 28 July 2018

HOMESCHOOLING ANAK USIA DINI (HSUD)


Beberapa waktu lalu, saya mengikuti webinar homeschooling yang diselenggarakan rumah inspirasi. Kebetulan saya punya banyak teman praktisi HS. Saya penasaran banget, kenapa sih mereka memutuskan untuk menyekolahkan anak mereka sama orang tuanya? bahkan ada yang mengorbankan pekerjaanya yang terbilang mapan dan menjadi dambaan banyak orang. Segitu besarnya HS menjadi influencer bagi para orang tua masa kini yang memaknai value pendidikan yang begitu dalam. Okelah, akhirnya saya mencoba ngubek2 materi HS di rumah inspirasi.

Btw, webinar HS rumah inspirasi terdiri dari dua kategori, yaitu kategori anak usia dini dan kategori sekolah dasar. Saya memilih kategori anak usia dini karena anak saya saat ini berusia mau dua tahun. Pada kategori HSUD, materi terdiri dari 4 sesi. Sesi pertama mengenai prinsip, tujuam, dan cara memulai HSUD. Sesi kedua terdiri dari kurikulum, materi belajar, dan resource HSUD. Sesi ketiga terdiri dari pola dan ide kegiatan HSUD. Serta poin keempat mengenai tips praktis menjalani HSUD. meski materinya hanya terdiri dari 4 sesi, tapi pembahasan tiap sesi dikupas secara tuuntas beserta Q dan A dari perserta. Jadi lumayan gempor kalo mau dihabiskan dalam sehari. Saya cerna dikit2 supaya bisa saya implementasikan di rumah dengan anak. saya benar2 mengapresiasi kerja keras mas aar dan mbak lala dalam mempersiapkan materi sebanyak dan sedetail ini. Jadi saya gak mau bocorin bahkan menjiplak semuanya disini. Saya hanya mereview sedikit dan memberikan tanggapan saya usai mengikuti webinar HSUD rumah inspirasi.
Well, sejauh ini yang saya fikirkan bahwa menjalankan HS adalah suatu hal yang rumit. Perlu kerja keras karena semua pelaksanaanya di handle sama orang tua, sementara kalo di sekolah enak segala urusan dihandle oleh guru dalam satu tim. Saya membayangkan itu akan menjadi sulit dan saya pasti gak bakalan mampu melaksanakanya. Apalagi cita-cita saya tetap ingin bekerja di ranah publik suatu saat nanti. Namun ternyata setelah mengikuti webinar, rupanya yang ada di fikiran saya itu masih terpaku pada kontenya saja, bukan proses pelaksanaanya. Pada dasarnya HSUD adalah proses orang tua membangun hubungan dengan anak dan menikmati kegiatan bersama dengan anak. Kita bisa menggunakan materi yang ada disekitar kita tanpa harus terpaku untuk membeli mainan yang mahal. Yang terpenting adalah bagaimana kita menikmati kegiatan bersama anak. Slow down, connect, dan enjoy.
Saya pernah menjadikan diri saya menjadi seorang ibu yang ribet. Menyusun lesson plan yang sepertinya bukan hanya memberatkan anak saja, tapi juga saya sendiri. Saat itu saya begitu menyadari bahwa saya terlalu terpaku pada lesson planya, bukan menikmati kegiatanya. Namun setelah mengikuti webinar, saya cukup menyajikan materi yang ada disekitar saya. Cukup menyampaikan hal yang mindfulness pada anak selama 30 menit dan dilakukan secara konsisten. Contonya adalah melakukan kegiatan membaca bersama, jalan sore bersama, dan memasak. Kita bisa mengajarkan banyak hal pada 3 kegiatan tersebut. Lakukanlah kegiatan sesedarhana dan senatural mungkin supaya anak dapat menikmati prosesnya.
Yang terpenting dalam menjalankan HSUD adalah tiga hal yaitu WAKTU, KOMITMEN, dan MINDSET mengenai belajar. Pada hakikatnya belajar merupakan proses untuk mempersiapkan anak dalam menghadapi kehidupan yang akan datang, bukan untuk mempersiapkan memperoleh nilai dan peringkat semata. Jadi biarkan anak berkembang sesuai dengan kepribadianya yang unik. jangan hanya semata terpaku pada hal-hal yang sifatnya akademis, tapi melupakan moment terpenting yang sangat dibutuhkan anak pada usia keemasanya, yaitu BONDING. Anak gak butuh ortu sepintar apapun dalam mengajar, yang anak butuhkan adalah orang tua yang memberikan perhatian penuh pada anak terutama pada tahap perkembangan emasnya (developmental milestone).
Selain itu, kurikulum HSUD juga sangat beragam. kita dibebaskan memilih kurikulum apa saja sesuai dengan kemampuan orang tua. Yang perlu digarisbawahi adalah kurikulum hanyalah sebuah panduan atau perencanaan agar anak belajar secara tertruktur. Tapi bukan berarti kita mau disetir kurikulum dalam pelaksanaanya. Kita harus mengikuti perkembangan anak yang berbeda-beda sehingga tidak menjadikan kurikulum sebagai subjek pendidikan, karena anaklah yang menjadi subjek kita dalam belajar.
Satu quote menarik yang saya dapatkan dalam webinar adalah”anak-anak memiliki potensi keingintahuan yang sifatnya alamiah. orang tua berperan sebagai fasilitator yang mewadahi rasa keingintahuan mereka, bukan secara khusus mengajarkan materi langsung ke anak”. Jadi biarkanlah anak mengembangkan kemampuan alamiah sebagai self initiative learner. jangan sampai kita mendekte, bahkan mempush anak untuk mencapai yang orang tua inginkan bukan yang anak butuhkan.
Mungkin itulah beberapa tanggapan saya mengenai webinar HSUD di rumah inspirasi. Gak nyesel ikutan webinarnya karena semua dikupas secara detail dan totalitas. Saya bukanya promosi ya, toh mas aar dan mbak lala juga gak kenal saya hahaa..saya cuman mau bilang kalo webinarnya recomended banget, bahasa mudah dicerna, semua sesi pertanyaan dikupas tutas satu persatu. Jadi bagi yang ingin atau sudah memulai HS, tetap knowledge is important. Jangan lelah mengupgrade diri dan mengupgrade ilmu-ilmu baru. Jangan lelah mencari tahu dan bertanya kepada sesama praktisi, bukanya malah mengunggul-unggulkan diri sendiri tanpa dibekali ilmu yang pasti. Oia lebih enak lagi jika menjalankan HS bersama dengan komunitas. Karena komunitas merupakan infrastruktur berjalanya HS. Biar ngerasa gak sendiri juga kan, ntar melow lagi hehhe...Pokoknya salut banget bagi para orangtua yang sudah menjalankan HS bersama anak-anaknya. Semoga berhasil hingga ke jenjang selanjutnya J


Wednesday, 25 July 2018

TALKING ABOUT UNSCHOOLING

Setelah menyelami beberapa materi hs, saya baru menemukan ternyata pendidikan preschool itu memilki pilihan kurikulum yang beragam. Mulai Dari kurikulum berbasis pemikiran tokoh (Montessori, Charlotte Mason, Waldorf, shichida) hingga kurikulum yg dirancang oleh suatu instansi pendidikan seperti highscope, Calvert, sonlight, Dan masih banyak lagi. Namun satu Hal yg menarik perhatian adalah bagaimana anak belajar tanpa adanya curriculum setting, krn pada dasarnya anak memilki kemampuan self initiative learning untuk belajar berbagai macam Hal disekitarnya. Dalam berbagai jurnal sering dikenal dengan "unschooling". .
.
Unschooling pda dasarnya lebih mengedepankan lifestyle dibandingkan filosofi Dr pendidikan it sendiri. Ortu cenderung memfasilitasi regulasi diri,self understanding, dn motivasi anak untuk belajar dibandingkan langkah bagaimana anak harus belajar(Sandra dood, 2013). Kira2 Cara belajar seperti ini apa anak mampu menghadapi tantangan perkembangan zaman yg begitu pesat? .
.
Dalam perspektif psikologi, Kita mengenal kedua tokoh psikologi perkembangan kognitif piaget Dan vygotsky dmn keduanya memiliki pandangan berbeda dalam proses belajar. Piaget yg cenderung mngarah ke self initiative learning smntara vygotsky lbh mngarah pada pengarahan org tua sepeti scaffolding, dll. Sejauh ini tidak bs dikatakan Mana perspektif yg terbaik diantara keduanya, krn menurut saya keduanya penting dibutuhkan dalam proses anak belajar Hal baru.







Saya bukanlah seorang unschooler tapi seorang home educator. Meski beberapa jurnal mengatakan bahwa unschooling merupakan branch Dari homeschooling. Saya merasa perlu melakukan mix method antara pembelajaran berbasis lesson plan Dan unschooling krn keduanya jika dipadu padankan nampak saling berkaitan dlm proses pembelajaran.
So, in my opinion as a mom with a 2 yo daughter, us itu perlu sebagai fondasi awal untuk anak yg kelak akan memasuki dunia sekolah (baik formal ato homeschooling) yang sebenarnya. Dan juga ini memberi tantangan supaya ortu menanamkan a good lifestyle dan attitude selama anak unschooling.
Saat ortu terlalu fokus pada setting kurikulum, terkadang hal2 terkecil dalam keseharian terlupakan. Seperti dluar pembelajaran, saya masih suka menunjukan bad habit ke anak, masih suka marah2, males malesan, jajan sembarangan, makan seenaknya, dll. Tp ketika berfokus pada keseluruhan, saya menjadikan hidup sebagai waktu yg mindfulness dg anak. Menyeimbangkan mental health anak maupun orang tua sehingga ke2nya berkesinambungan. Melakukan kegiatan bersama dimana bukan anak saja yg belajar tp jg saya ikut belajar memahami setiap kejadian yg kami alami bersama seperti Ada proses recharging dmn Kita sama2 belajar pada apa yg Kita temukan saat ini
Unschooling cenderung pada freedom to learn tanpa terikat jadwal maupun lesson plan yg biasa dirancang ortu saat hs. Anggaplah aktivitas keseharian Kita merupakan bagian Dr pembelajaran si anak, mulai Dari bangun tidur, ke pasar, memasak, jalan2 sore keliling komplek merupakan bagian Dari meaningful learnings dmn ortu hanya perlu menstimulasi critical thinking dan curiousity pada hal2 yg mereka hadapi.
Yang perlu menjadi bekal dlm menjalankan unschooling adlh bagaimana perjalanan hidup kami yg menyenangkan merupakan bagian dari pembelajaran baru bagi si anak. Kalo kata mbak cinta aadc mah "it's about journey, not destination".
berkemah bersama di Alam bebas, melakukan perjalanan udara, darat, dn laut ke daerah tujuan yang mereka kunjungi. Semua terjadi secara natural, bebas, tanpa Ada rancangan apapun namun tetap bisa menyampaikan learning value dalam setiap prosesnya (CMIIW)

Friday, 4 May 2018

PILIH PRO VAKSIN ATAU ANTI VAKSIN?


Baiklah, berhubung semua udah pada penasaran mengenai pro kontra vaksinasi saya akan coba mereview dari beberapa referensi buku dan jurnal yang saya baca. Tapi harus tau dulu ya latar belakangnya kenapa saya duper penasaran mencari tau tentang ini, supaya kalian tahu bahwa saya bukanlah seorang dari latar belakang dari sayap kanan maupun sayap kiri.

Saya memposisikan diri saya sebagai kubu netral karena saat ini saya sedang ingin mencari tahu kebenaran diantara keduanya. Saya memang ikut imunisasi sampai saat ini. Baru sekedar ikut karena memang dianjurkan pemerintah tapi belum banyak mencari tahu tentang manfaat dan mudharat vaksin. Namun, muncul beberapa isu terkait bahaya vaksin dan para antivaksin yang mulai merajalela di sosial media. Saya sendiri sangat menghargai pendapat masing-masing orang, baik yang pro vaksin maupun yang anti vaksin. Namun setiap ada informasi yang diperoleh, ada baiknya kita wajib mencari tahu kebenaran dari setiap berita. Apalagi berita yang diterima tidak banyak mencantumkan referensi yang kuat. Bukankah sudah tertera dalam QS. Al-Hujarat ayat 6: “ hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengikuti keadaanya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatan itu.”

Disini saya akan mengutip beberapa statemen dan informasi mengenai kontroversi vaksin dan tanggapan saya mengenai hal tersebut:

1.  Beberapa statemen yang menyatakan anak mereka cenderung lebih sehat tanpa menggunakan vaksin. Anak yang diberi vaksin cenderung rentan terkena sakit dibandingkan anak yang tidak diberi vaksin.

Dari statemen ini, yang wajib kita kritisi adalah apakah penyataan tersebut bukan subjektif dan didukung oleh data-data yang objektif? Seperti layaknya suatu penelitian, kita harus tahu validitas informasi yang diketahui. Semisal jika seorang menyimpulkan hasil penelitianya dengan membandingkan anak pertama dan anak kedua saja tentu saja hal tersebut mempunyai banyak ancaman validitas. Bisa jadi anak pertama dan kedua memiliki riwayat kehamilan yang berbeda meskipun dibesarkan dalam lingkungan yang sama. Belum lagi pengalaman orang tua mendidik anak pertama dan anak kedua, misalnya saat anak pertama orangtua cenderung lebih mawas dan berhati-hati, sehingga merasa sakit sedikit anak segera diobati misalnya. Maka dari itu pentingnya kita mencari tahu data yang akurat seperti jurnal penelitian sehingga kita tahu beberapa sampel yang digunakan dalam penelitian tersebut dan lain-lain.

Selain itu, bisa jadi anak yang tidak divaksin tersebut tidak terkena penyakit karena terlindungi dari sekelompok anak yang divaksin. Jadi analoginya vaksin merupakan payung dalam sekelompok orang/komunitas yang memberi manfaat proteksi bagi sekelompok orang apabila mayoritas kelompok tersebut divaksin. Istilah tersebut dikenal dengan herd immunity (Ismail, 2014).
2.      Kurang lebih 7 orang dari jurusan S1 medis (contoh kedokteran, keperawatan, kesehatan masyarakat, dll) yang saya tanya apakah vaksin dikaji lebih spesifik saat perkuliahan, atau sering dijadikan penelitian skripsi dll? mengingat vaksin merupakan rutinitas yang selalu ada di setiap waktunya. Sayangnya informasi yang saya peroleh masi berupa kajian pengantar. Saya mulai curiga dan penasaran. Jika saya tidak mencari tahu mungkin saya mengasumsikan bahwa vaksin hanya bisa diteliti oleh pihak tertentu dan dirahasiakan.

Daaan ternyata saya baru tahu, bahwa imunologi bukan suatu hal yang mudah dipelajari, bahkan tidak semua dokter mampu menjadi ahli di bidang ini. Itu sebabnya seorang dokter yang gagal mempelajarinya akan menentang vaksin tersebut (Nugraha, 2014). Ingat ya, tidak semua dokter ahli di bidang ini, lalu bagaimana kita bisa mempercayai seseorang yang bahkan bukan dari latar belakang medis dan baru belajar beberapa bulan bahkan hari?

2. Vaksin berbahaya karena pengawetnya terbuat dari mercury. 

Bahkan vaksin menjadi salah satu pemicu anak menjadi autis, karena pemicu autis bukan dari faktor kehamilan saja, bahkan bisa juga dari faktor lingkungan seperti saat kecil teracuni logam berat. Seperti kasus di Jepang yang 1 kampung mengalami gila karena makan ikan dari laut yang sudah tercemari limbah pabrik yang mengandung logam berat dalam konsentrasi yang tinggi.
Jawaban dari statemen diatas sangat mudah kita bantah karena sudah sangat jelas terlampir dalam jurnal yang pernah saya review:
“Beberapa penelitian menunjukan bahwa perkembangan autisme disebabkan oleh beberapa faktor. Ada beberapa indikasi dimana gangguan tersebut disebabkan oleh faktor genetik. Namun, penemuan yang paling banyak bahwa gangguan ini disebabkan oleh faktor kompleks pada masa kehamilan. Beberapa bukti menunjukan bahwa adanya luka atau kerusakan secara genetik pada tahap perkembangan awal kehamilan sehingga menimbulkan perilaku autisme (Pennington, 2002). Pada umumnya, kerusakan pada kehamilan awal disebabkan oleh virus measles-mumps-rubella (MMR). Namun studi empirik menunjukan tidak ada korelasi antara autisme dengan pemberian imunisasi. Penemuan ini menunjukan bahwa timbulnya autisme tidak berkorelasi pada vaksin MMR.”
Jika memang lapisan mercury yang bercampur vaksin berbahaya bagaimana bisa vaksin tersebut teruji secara klinis. Padahal uji klinis vaksin itu bukan hal yang mudah karena harus melewati berbagai fase agar aman atau mempunyai efek samping yang dapat ditoleransi. Selain itu, jika dikorelasikan dengan kasus di Jepang, bisa jadi Jepang sampai sekarang sudah menjadi negara Antivaksin. Sofyan dan Nurwidiya (2014) yang merupakan kepala bidang pelayanan kesehatan FAHIMA di Jepang menyatakan bahwa di Jepang sendiri sebagai negara maju mewajibkan vaksinasi bagi seluruh anak-anak, termasuk warga asing. Wajib tidaknya satu jenis vaksin berdasarkan angka kejadian penyakit di wilayang Jepang. Contohnya di jepang Hepatitis B tidak wajib diberikan, sementara di Indonesia wajib diberikan. Jadi setiap negara berbeda-beda karena disesuaikan dengan angka kejadian di negara tersebut.

3. Vaksin haram hukumnya, vaksin merupakan konspirasi dan senjata yahudi untuk melumpuhkan generasi muslim.

Kita sudah diberikan pedoman Al-Quran untuk mengeksplorasi alam semesta ini seperti dalam QS. Ali Imran 190-191. Hasil eksplorasi alam semesta itulah ditujukan untuk kebaikan umat manusia itu sendiri dan sekaligus untuk mendekatkan diri pada Allah SWT. Vaksin sebetulnya sudah lama diterapkan pada muslim Turki pada abad 18 yang memiliki kebiasaan menggunakan nanah dari sapi untuk penderita penyakit cacar sapi. Hal tersebut kemudian dibawa ke Inggris, lalu diteliti dan dipublikasikan sehingga vaksin semakin berkembang pesat. Beberapa ulamapun memberikan fatwa bahwa vaksinasi diperbolehkan seperti Syaih Abdul Aziz bi Baz dari Saudi, DR. Yusuf Al-Qaradhawi ulama dari Qatar. Negara di timur tengah yang mayoritas pendudukanya muslimpun mewajibkan imunisasi di negaranya seperti Arab Saudi, Mesir, dll (Yanuarsno, 2014). Jika ada yang menuduh vaksin sebagai konspirasi, hal yang sangat perlu dicermati adalah: bisa jadi hal yang engkau percayai itu justru merupakan konspirasi “mereka” untuk melemahkan generasi kita supaya kita terus merasa ketakutan, menjadikan kita menjadi bodoh, dan malas menuntut ilmu. Itu yang menjadi garis bawah dan perlu kita renungkan

Jadi kesimpulanya setelah saya mencari jawaban dari rasa keingintahuan saya adalah apakah saya kemudian menjadi pro vaksin atau anti vaksin? Jawabanya itu merupakan keyakinan saya dan orang lain tidak perlu ingin tahu pilihan saya. Kenapa seperti itu? karena saya sadar, saya hidup dalam masyarakat kolektif, dimana kita paling suka ngikut yang paling banyak pengikutnya dan ngikut yang lagi ngetren. Kemudian itu menjerumuskan kita untuk malas cari tahu hal yang sebenarnya. Seperti QS. Al-Alaq; iqra` bacalah, cari tahulah, jangan berpangku tangan pada satu orang. Setiap orang mempunyai kesadaran untuk meluruskan berita dari orang fasiq, bukan ikut terjerumus pada kefasiqan. Apa yang saya ditulis diataspun bahkan belum tentu benar 100 persen. Maka masing-masing dari kita diwajibkan untuk banyak mencari tahu dan belajar seluas-luasnya. Usiikum Waiyaya.

Ditulis oleh:
Tsurayya Syarif Zain (bukan ahli medis. Cuman ibu rumah tangga biasa yang mereview refrensi yang diperoleh).

Daftar Pustaka;
Eric A. Zillmer, Mary V. Spiers, William C. Culbertson (2008). Principles of Neuropsychology, Second Edition. Thomson Higher Education: Belmont, USA
Jeste, Shafali (2011). The Neurology of Autism Spectrum Disorders. NIH Public Access. Published in final edited form as: Curr Opin Neurol. 2011 April ; 24(2): 132–139. doi:10.1097/WCO.0b013e3283446450.
Ismail, dkk (2014). Kontroversi Imunisasi; Kumpulan Tulisan 33 Ahli; Dokter, Pakar kesehatan, dan Pakar Syariah. Jakarta: Pustaka Al Kautsar

SILATURAHMI KOMUNITAS HOMESCHOOLING PALEMBANG


Salah satu upaya saya untuk mengatasi kestressan tinggal di lingkungan baru adalah bersosialisasi dan mengikuti kegiatan positif di daerah setempat. Setelah 2 tahun menjalani masa LDR dengan suami (saya di jawa suami di sumatera), saya kembali tinggal bersama-sama suami di kota Palembang meskipun kami sudah pindah di komplek baru, sudah tidak di komplek pertama kali kita menikah. Beberapa upaya saya untuk bersosialisasi dan ikut kegiatan positif adalah dengan cara ikut arisan RT, nemenin anak ke TPA ( meskipun nggak ngaji cuman maen aja hehe), dan mengikuti komunitas parenting yang ada di palembang. Awalnya saya sudah cari-cari info dulu sebelum pindah untuk tahu komintas apa yang sesuai dengan passion dan misi hidup saya. Akhirnya saya memutuskan untuk gabung di komunitas homeschooling, IIP Palembang, dan komunitas Playdate Palembang.



Well, saya ingin sedikit (banyak kalik haha) bercerita tentang kegiatan yang sudah mulai saya ikuti di komunitas yang saya pilih. Pertama adalah dengan gagah beraninya saya mengusulkan diri untuk menjadi tuan rumah forum silaturahmi komunitas HS palembang yang saya ikutin. Habisnya grupnya kok sepi amat yaa..gak seperti yang saya bayangkan sebelumnya. Gak seperti komunitas HS di Jawa ( seperti semarang dan salatiga) yang punya aktivitas yang super duper keren. Ah sudahlah gak usah banding-bandingin. Saatnya mulai dari diri sendiri hahay...

Yatsudahlah...setelah rembukan kurang lebih dua bulan lamanya, akhirnya rencana saya menjadi tuan rumahpun terlaksana. Meskipun...yang datang cuman 3 keluarga dari 15 keluarga hahahaa..gapapalah, yang penting sudah diniatkan untuk berkontribusi dan silaturahmi biar nambah temen seprinsip. Selain itu ada manfaat lain juga yaitu memfasilitasi archy untuk menambah relasi teman hehee..dan justru dari melihat anak-anak bermain itulah saya menjadi banyak belajar mengamalkan ilmu saya sebagai orang tua.

Ya, seperti yang kita ketahui bahwa setiap anak bermain selalu tidak terlepas dari keributan, berantakan, teriakan, rebutan mainan, dan pastinya adalah kebahagiaan yang selalu terpancar. Memang, pada dasarnya bermain merupakan cara terbaik anak untuk bereksplorasi, mengekspresikan emosi, sehingga anak-anak akan lebih sehat baik secara fisik maupun mental.
Okey, dari mengamati anak-anak asik kruwelan bermain itu saya dapat mengambil pembelajaran manfaat bermain dengan anak lintas usia, budaya, dan orang tua. Diantaranya adalah melatih responsibility, sense of belonging, dan social skill anak. Baiklah, kita coba deskripsikan satu persatu yaakk...
  1. Melatih responsibility. Saat anak bermain, hal yang tentunya akan selalu kita temui adalah menemukan mainan mereka berantakan dan berserakan dimana-mana. Mau itu mainanya sendiri maupun mainan milik temanya. Mari kita latih anak untuk membereskan barang yang sudah mereka mainkan supaya anak terlatih untuk bertanggung jawab merapikan kembali mainan-mainan tersebut. Baik di rumah sendiri atau di rumah orang lain, biasakan orang tua untuk ikut terlibat dalam membereskan mainanya, supaya anak-anak selalu terbiasa tidak asal nyelonong pergi dan pamit tanpa membereskan mainanya terlebih dahulu. Selain mengajarkan anak adab bertamu. meski pada dasarnya dunia anak adalah bermain, namun kita harus tetap mengajarkanya adab sopan santun dengan penuh kasih sayang
  2. Melatih sense of belonging anak. Sudah dipastikan kalo udah mainan itu selalu ada adegan rebutan maenan. Kadang ortu juga bingung mau ngebelain anaknya atau disuruh ngalah terus. Kalau saya pribadi, saya mencoba melatih Archy untuk kenal ini maenan milik siapa. Kalo bukan milik archy, archy harus ijin dulu sama yang punya. Kalo dibolehin pinjam, saya ingatkan kalo habis maen harus dikembalikan ke pemiliknya kalo diminta. Kalo gak dibolehin, saya coba alihkan dia ke hal yang lain supaya dia bisa menerima. Sebaliknya, kalo maenan Archy mau direbut temenya, saya beri ruang waktu sebentar untuk berdamai. Saya kasih arahan ke temenya yang merebut mainanya kalo ini maenan archy maka harus ijin dulu. Kalo udah dikasihkan ke Archy, saya bilang ke Archy kalo maenanya gak boleh dipinjemin saya suruh simpen maenanya ke dalam kamar atau ke dalam tas mamanya. Ada kalanya anak juga harus mempertahankan apa yang dia miliki dan ada kalanya dia bisa sharing dengan apa yang dia punya. Kelak hal terebut dapat melatih anak untuk tidak mudah terkena bully. Kalo orang tua selalu membiasakan anak buat disuruh ngalah terus menerus, maka anak akan belajar mengalah dalam segala macam hal, bahkan dalam situasi yang mengancam. Dia juga harus punya self defense untuk mempertahankan hak yang ia miliki. Maka kita sebagai orang tua harus banyak-banyak melatih diri untuk mengarahkan sense of belonging pada anak.
  3. Melatih social skill. Ada suatu cerita tentang seorang ibu yang marah ketika si anak memanggil namanya dengan sebutan kau. Si ibu bilang itu tidak sopan. “Ini nih gara-gara dia tinggal di lingkungan gak baik jadi ikut-ikutan ngomong kasar kayak temenya” Namun tiba-tiba saya mendengar bahwa justru teman anak si ibu juga selalu bilang kata “kau” ke siapapun yang ia sapa. Ternyata ibu dari anak ini memang orang asli sumatera jadi biasa saja kalo anaknya berkata seperti itu, sementara ibu yang marah saat anaknya bilang kau itu berasal dari jawa dimana kata tersebut tidak sopan untuk disampaikan. Saya mengambil pelajaran dari hal tersebut adalah orang tua semestinya tidak perlu reflek marah dengan perilaku anak yang tidak pernah ia harapkan dan bahkan tidak ia ajarkan. Orang tua mencari tau kenapa anak bisa berperilaku seperti itu. Kemudian ortu bisa menasehati kalo hal tersebut adalah budaya (termasuk bahasa) temen kakak, kalo orang tua kakak berasal dari budaya yang berbeda, jadi kakak juga harus tau kalo ibu gak suka kalo kakak bilang gitu ke ibu. Dari situ anak akan belajar makna toleransi. Jika kita saklek mengatakan salah pada anak, maka anak pun merasa bingung dimana titik kesalahanya. Belajar menjadi orang tua yang bijak, tenang, dan komunikatif merupakan kunci untuk melatih anak memecahkan masalah dan menghadapi situasi-situasi baru dalam lingkunganya.


     Well, rupanya jika kita selalu berpikiran positif, akan banyak hal yang dapat kita jadikan pembelajaran dan terus berupaya mengupgrade diri kita untuk menjadi orang tua yang lebih baik. Semoga kadepanya bisa makin bersinergi dalam kegiatan-kegiatan positif lainya.  Ditunggu tulisan kegiatan #bundaproduktif selanjutnya yaa.. yang jelas makin seru dan bermanfaat. Salam bunda produktif J