Wednesday, 22 January 2014

MULTUKULTURALISME DIATAS AGAMA

Tidak penting apapun agama/sukumu, kalau kamu bisa melakukan sesuatu yang baik untuk semua orang, orang tidak pernah tanya apa agamau –Abdurrahman Wahid-
Catatan sejarah telah banyak mengungkapkan konflik antar suku yang didasari pada perbedaan agama. Seperti halnya konflik yang terjadi di Maluku Utara dan Poso. Pertumpahan darah yang terjadi itulah yang mengkikis keagungan semboyan Bineka Tunggal IKa. Belum lama ini terjadi lagi. Tepat pada tanggal 25 Mei 2013, dimana umat Kristen merayakan hari raya natal khususnya di Indonesia. Baru kali ini tak segan-seganya beberapa organisasi Islam mengecam keras kepada kaum Muslim bahwasanya haram mengucapkan Selamat Hari Natal kepada kaum Nasrani. Bahkan bukan melalui perkataan saja, melainkan melalui posting di media social, dan memasangnya sebagai spanduk. Spanduk yang dipasangpun tidak malu-malu dipasang ditengah jalan yang bisa saja semua orang dari berbagai macam suku, ras, dan agamanya akan membacanya. Selain itu juga muncul kecaman keras kepada para perempuan muslim untuk mengenakan penutup (JIlbab) yang tidak menyerupai kaum yang lain. Beberapa macam model jilbabpun diduga telah menyerupai seorang biarawati gereja. Bahkan dikecam telah mengikuti perilaku  bangsa Yahudi.
Untuk itu kita perlu membahas satu persatu. Dimulai dari larangan untuk mengucapkan ucapan natal yang diposting di khalayak umum. Bukankah sudah tertera jelas dalam Kitab Suci Al Quran yang menghimbau bahwa : Ud`u ila sabili rabbika bil hikamti wal mauidzatil hasanati wajadilhum billati hiya ahsan.. maka serukanlah mereka kejalan tuhanmu dengan hikmah dan nasehat yang baik dan perangilah mereka dengan cara yang baik. Rasulullahpun bahkan mengajarkan umatnya untuk menyeru dalam syariah agama dengan nasehat yang baik dan tidak menyakiti perasaan. Orang-orang yang menyeru larangan dengan cara yang “lembut” tersebut tidak lain halnya menunjukan orang-orang yang bergaul dengan lingkungan yang sempit, lingkungan yang tidak mengajarkan mereka untuk merasakan rasa empati terhadap orang lain, tentunya juga tidak memikirkan bagaimana jika seandainya kita menjadi mereka, lalu melihat spanduk yang dituliskan besar-besar yang berkaitan dengan keyakinan mereka. Itulah kenapa seorang ulama mengatakan: Islam itu indah, tapi justru kaumnya yang tidak bermauidzah hasanahlah yang merusak keindahanya.
Selain itu tuntutan dalam Al-Quran pun dengan jelas menyebutkan: Muhammad Rasulullah walladzina maahu isydau `alal kafaari ruhamaau bainahum (Al-Fath/48:29). Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Untuk itu tentunya Islam semsetinya diserukan dengan lebih luwes dan dapat diterima oleh semua kalangan, mengingat akan peran Islam sebagai rahmatan lilalamin, rahmat bagi seluruh umat. Mengecam agama lain sama halnya dengan merusak prinsip Islam sebagai agama yang dapat memberikan kasih sayang bagi umat di seluruh dunia.
Selanjutnya beranjak ke permasalahan mengenai kecaman bagi para perempuan muslim untuk berjilbab yang tidak menyerupai suatu kaum, bahkan menyerupai seorang biarawati. Hal ini mengingatkan kita bahwa umat Muslim bukan saja hanya di Indonesia. Umat muslim ada di berbagai belahan dunia dan dari berbagai macam suku, ras, dan budaya. Begitu juga dengan umat Nasrani, mereka juga bukan hanya yang ada di Indonesia. Mereka tersebar dari berbagai macam suku, ras, dan agama. Jika seorang ulama menyerukan larangan tersebut, dengan memberikan cirri-ciri seorang biarawati adalah menggunakan penutup kepala yang terlihat lekuk lehernya, bertudung putih, mendeskripsikan sesuai dengan biarawati yang ada di Indonesia. Padahal cara seorang biarawati berpakaian pun bermacam-macam. Seorang biarawati dari Ethiopia menggunakan penutup kepala sama halnya dengan menggunakan jilbab di Indonesia pada umumnya. Beberapa jilbab di Indonesiapun mengalami beberapa perubahan dari masa kemasa. Seorang perempuan yahudi bahkan mengenakan jilbab beserta cador menutupi diseluruh tubuhnya. Inilah mengapa Allah memerintahkan untuk membaca. Membaca artinya banyak belajar, banyak mengamati bukan hanya dari satu sudut pandang saja, berfikir secara menyeluruh. Mereka yang mengecam tentunya hanya memeiliki bukti otentik yang sekelumit.
Menghargai kaum lain tentunya sangat diharapkan untuk mempertahankan kerukunan umat antar suku, budaya, dan agama. Keaneka ragaman budaya tak lain juga didominasi oleh keaneka ragaman agama yang masuk di Negara kita. Tentunya  setiap pribadi berhak melakukan pilihan terhadap agama dan tradisi budayanya. Oleh karena itu baik Negara maupun masyarakat harus menghargai serta menghormatinya, inilah yang dinamakan dengan mulkuturalisme diatas agama. Mulkutiralisme tentunya dapat memberikan ruang kebersamaan antar umat beragama dalam komunitas keduniaan (immanent) sebagai semboyan atas ke Bhineka Tunggal Ika (the diversity) karena setiap agama diluar teologi dan ritualnya pasti ada ruang humanism dan disitulah seluruh umat beragama dari berbagai macam suku dan budaya akan bertemu.

-SEKIAN-


0 comments:

Post a Comment