Tuesday, 30 September 2014

DEFINISI TRAVELER BERDASARKAN KATEGORINYA

Akhir-akhir ini udah banyak banget buku-buku yang mengupas lengkap tentang perjalanan seorang traveler yang beredar di pasaran. Saya baru pertama kalinya baca buku traveling di tahun 2007. Saat itu bukunya mba Trinity, The Naked Traveler belum se Best Seller sekarang. Perjalanan hebohnya mbak Trinity itulah yang menginspirasi saya buat ngebolang. Ngebolang disini boleh didefinisikan sebagai nge bocah petualang ataupun nge bocah ilang ( maklum, karena frekuensi nyasar  selalu sebanding lurus dengan frekuensi jalan2   -_-). Baru di tahun 2010an buku traveling sudah mulai ngehits di kalangan anak-anak muda. Ada yang mengupas tentang tips jalan-jalan dengan bajet minim, tips traveling ala hijabers, sampai novel dan kisah-kisah perjalanan para traveler yang mereka alami selama di perjalanan. Dari beberapa buku traveling yang sudah saya baca, kok saya belum nemuin ya definisi traveler berdasarkan katagorinya. Bukanya Everyone travel for a reason kan. Setiap orang memiliki alasan masing-masing ketika mereka memutuskan untuk menjadi seorang traveler. Gak semua traveler itu bermula dari hobi loh. Orang yang awalnya gak suka jalan-jalan, karena tuntutan pekerjaan buat kemana-mana bisa jadi dia jadi demen buat jalan-jalan. Dari alasan yang berbeda-beda itulah seorang traveler bisa dikatagorikan sebagai tipikal traveler yang seperti apa. Tujuanya agar orang-orang bisa lebih mudah mengenal traveler macam apakah dia #senyumsinis.
         Contohnya, saya ini punya buanyak temen-temen yang pernah traveling kemana-mana atau traveling ke lokasi yang gak semua orang pernah kesana, makanya gue sebut mereka traveler. Kita suka banget yang namanya berbagi cerita dan pengalaman yang kita alami selama melalang buana kemana-mana. Dari beberapa pengalaman mereka yang saya tangkap, saya mencoba untuk membuat definisi traveler berdasarkan katagorinya ala suka-suka Tsurayya Syarif Zain, wkwkwkwkk.  Katagori Traveler menurut Zain (2014)  adalah sebagai berikut:
1.      1. Social Traveler, merupakan seorang yang hobi jalan-jalan dengan tujuan untuk menghadiri kegiatan-kegiatan social. Traveler seperti ini umumnya memiliki jiwa kepedulian yang sangat tinggi sehingga rela berkorban menyempatkan waktu untuk moment-moment bahagia orang yang dia kasihi. Contoh kegiatan social tersebut adalah KONDANGAN. Seperti sobat saya Yuyun Farah Mega, yang rajin kondangan keluar kota keluar propinsi (antar kota antar propinsi kale) sampai dia kelupaan kalau dia belum dapet giliran untuk dikondangi (damaee bukk :p). Maklum, sebagai seorang Ketua Angkatan “cadangan” di sekolah kami dulu, dia harus memiliki kredibilitas tinggi guna menciptakan marhalah yang sejahtera, sentosa, bahagia dunia dan  akhirat. Tentunya ketua marlahah kami Sheila Ardiyana yang sedang menyelesaikan studinya di Mesir sangat bangga dengan etos kerja Yuyun Farah selama ini (halaah). Seorang social traveler juga memiliki derajat lebih tinggi di mata Allah karena selalu menjalin tali silaturahmi kepada saudara-sudaranya. Selain itu, Allah akan melipat gandakan rejekinya bagi mereka yang bersilaturahmi. Nah loh, salut abis sama Enyak yuyun.
2.      2. Economical Traveler, merupakan seorang yang hobi jalan-jalan dengan bajet anak kuliahan. Secara, seorang traveler semacam ini belum memiliki pekerjaan yang tetap dan masih memperoleh penghasilan dari Perusahaan Orang tua (jajan bulanan :p). Traveler seperti ini justru sangat totalitas untuk menemukan potensi alam di sekitar mereka. Contohnya adalah kawan hebring saya Aditya Praswuri Wulandari. Si Alis tebel ini menghabiskan masa kuliahnya di kota Pahlawan. Selama kuliah di Universitas Airlangga dia gak mau mensia-siakan moment untuk menjelajahi berbagai wisata alam di kawasan jawa timur seperti muncak di Semeru, pulau sempu, dan lokasi-lokasi keren di Jawa Timur. Waktu dia magang di Kalimantan, dia juga sempetin buat eksplorasi wisata disana. Intinya cari kesempatan emas selama kamu kuliah, magang, ataupun KKN. Caranya? Mintalah uang SPP lebih buat ngebiayain jalan-jalanmu (kalo ini saya sendiri yang ngarang :p). Ya jelas harus hemat donk. Kayak temen gue si Adit kan emang calon emak-emak banget. Pinter ngelola duit dan mengelola asmara dengan cara membahagiakan para gebetan buat nraktirin dia makan saban hari (Kaboooorrrrr ;p).
3.             3. Shopa Traveler, merupakan seorang yang ingin mendapatkan sensasinya shopping mania sambil jalan-jalan. Traveler seperti ini memiliki selera yang tinggi dalam berbelanja. Selera tinggi yang dimaksud disini adalah selera yang menghipnotis dia sampai tak sadarkan diri buat belanja berkarung-karung -_-. Hal ini pernah dialami oleh seorang yang mengaku dirinya sebagai anaknya Abah, Dwi Susanti Similikiti Weleh-Weleh. Anak ini demen banget sama yang namanya shopping. Ngakunya sih penyakit shopaholicnya udah sembuh, tapi ada yang melaporkan kalo dia abis shopping gila-gilaan di Chatuchak Market, Bangkok (dia sendiri yang ngelaporin ke gue :p). Tapi gak cuman ngeshopping aja sih niatnya dia buat jalan-jalan. Dia udah berkali-kali mengunjungi Thailand Laos buat project film yang dia garap sama temen-temenya, selain itu film dokumenternya juga sudah pernah masuk nominasi dalam festival Film di Thailand (salut sama anak abah, sekarang elo boleh ngaku jadi anaknya tet wkwkwk). Seorang shopa traveler tidak hanya menghabiskan waktu untuk shopping saja. Ada statement yang mengatakan, study hard, work hard, travel hard. Shopping hard (=D).
4.             4. Move On Traveler, merupakan seorang yang hobi jalan-jalan dengan tujuan agar bisa move on dari sang mantan. Lelah dinobatkan sebagai penyandang GALON (Gagal Move On), seorang mahasiswa lulusan Universitas di Semarang memutuskan untuk menjadi seorang pendaki gunung, pengelana, dan pengajar anak-anak pedalaman di  pelosok negeri ini. Riesty Rahayu, adalah wanita inspiratif. memiliki jiwa kepedulian yang tinggi terhadap nasib anak-anak bangsa. Halaah opo to iki wkwkwk. Temen saya yang satu ini mengaku memulai dunia traveling berawal dari nekat. Seperti kutu loncat, tiba-tiba aja di Lombok, tiba-tiba udah di Semeru, tiba-tiba ngajar anak pedalaman di Kalimantan, tiba-tiba juga gak bisa datang ke nikahan saya. Sungguh Terlalu! Tapi ini bisa memotivasi bagi para galoners yang lain loh. Dari pada galau susah move on, jalan-jalanlah, berkelanalah! Awseeeemmmmm…
5.        5. Nekad Traveler (awas jangan kebalik jadi Naked Traveler hehe), merupakan seorang yang jalan-jalan karena nekat untuk berhijrah dan mencapai visi misi yang ditentukan. Traveler seperti ini biasanya memaknai filosofi tujuan hidup yang sangat mendalam. Tak heran jika seorang mahasiswa Universitas di Surabaya nekad untuk berhijrah ke Jakarta karena suatu hal. Suatu hari dia banyak menyelami buku-buku motivasi dan bisnis, lalu menyimpulkan di seluruh bacaanya bahwa seorang yang ingin mencapai kesuksesan, maka dia harus berhijrah. Maka nekatlah dia untuk berhijrah ke Jakarta. Berbekal modal ilmu, dia mencoba menyelami berbagai pekerjaan di Jakarta, mulai dari cleaning servise, bisnis Tempe Burger, hingga menjadi distributor Cireng dan berhasil mendistribusikan cirengnya ke berbagai kota di Indonesia. Dia adalah Nurul Amali Dienillah, sang Nekad Traveler yang bisnisnya jalan-jalan dari yang terkecil sampai yang besar seperti sekarang. Dia adalah perempuan inspiratif pilihan majalah OSOY edisi special gak pake telor, hehehee. Btw, nekad traveler inilah yang banyak memotivasi saya untuk terus semangat dalam menjalani hidup. Love u, Maleeee
6.          6. Romantic Traveler, merupakan seorang yang mendapatkan kisah romantisnya ketika jalan-jalan. Contohnya adalah sahabat cantik saya Caesar KD yang bertemu dengan belahan hatinya di negeri Caia-caia. Waaaa… so sweet bangeeett. Serasa nontoh film Mahabarata (oposeeh). Tapi asli seneng banget waktu liat foto-fotonya Caesar waktu di India. Mana dianya juga udah mirip orang India pula hehee…semoga langgeng ya sayaang sama mas Arjuna. Baby sama Adit gak usah sirik ya :p
7.            7. Academic Traveler, merupakan seorang yang memiliki achievement yang tinggi di dunia akademik sehingga menjadikan mereka suka berkelana untuk mencapai visi think globally, act localy. Mereka adalah dua bersaudara, Mbak Farah Ichtiarini Aulia dan Mustika Amalia Wardati. Jarang-jarang ya ada kaka beradik kok kompak banget. Sama-sama bisa exchange dalam waktu bersamaan. Mbak irini sebulan project di China, Tika sebulan project di Taiwan. Setelah itu Tika juga diberi kesempatan buat mempresentasikan skripsinya di Manila, Filipina. Deuh, salut sama semangatnya dua kakak beradik ini. Semoga menginspirasi ya gaes…
8.            8. Genetic Traveler, merupakan seorang yang hobi traveling karena berdasarkan ketururan, turun-temurun dari orang tuanya. Contohnya saya, hahaha. Gara-gara dari kecil diceritain kisah-kisah traveling gilanya abah ngbolang sebulan di Breda, Manchester, Damaskus, Lakemba, dll (padahal bahasa Inggrisnya ancur-ancuran),  jiwa tersebut seketika mengalir di nadi saya. Sayangnya traveling saya belum segila abah saya. Someday, boleh deh nulis autobiografinya  babe J
Well, berikut definisi traveler berdasarkan katagorinya versi Tsurayya Syarif Zain. Berharap orang-orang yang saya cantumin di tulisan ini sih bisa berkolaborasi buat bikin buku gitu, biar bisa menginspirasi orang banyak. Syukur-syukur banyak yang pengen bergabung buat menyalurkan kisah perjalanan inspirasinya Kayaknya seru deh ya, biar hidup lebih berwarna. Lukislah kehidupanmu dengan segudang pengalaman. So, saat ini saya sedang menunggu respon dari temen-temen semua. Salam Traveler Muda J


Wednesday, 24 September 2014

ONE PRECIOUS MOMENT ( Married by Taaruf)

“Nduk..sudah diminum obatnya? Inget, kondisi kamu harus fit, besok lebih capek lagi dari sekarang” nasehat ibu sambil menyodorkan segelas air putih dan obat maagh. Kutelan obat pahit itu sambil menahan rasa sakit. Entah mengapa tiba-tiba penyakit maghku kambuh. Padahal akhir-akhir ini aku selalu makan rutin sehari tiga kali. Apa ini yang dinamakan psikosomatis. Reaksi fisik yang disebabkan oleh gejala psikologis. Ya, barangkali aku sedang nervous. Esok hari merupakan momentum bahagia yang akan disaksikan oleh ribuan para tamu undangan dan para saksi. Rasanya seperti mimpi.
Sepertinya sembilan bulan yang lalu aku baru saja mengenal calon suamiku. Walaupun masih saudara jauh, kita belum pernah bertatap muka. Yang masih kuingat, hanya sekilas wajahnya ketika kita masih sama-sama berumur + 10 tahun. Saat itu, dia masih terlihat bening dan lucu. Aku suka mencuri pandang sambil malu-malu. Mungkin ini yang dinamakan cinta monyet. Namun semenjak itu, sampai kita sama-sama beranjak dewasa, Tuhan baru mempertemukan kita kembali untuk saling mengenal satu sama lain. Sampai akhirnya Tuhan  berkehendak lebih dari itu.
Aku tak pernah menyangka jika Alfi adalah tulang rusuku. Yang aku tahu, kita masih saudara jauh, dia lama menetap di Sumatra, sementara aku dibesarkan di Jawa. Awal berkenalan di social media, kita masih sering diskusi basa-basi. Begitu pandainya Alfi menarik perhatianku ketika kita  berkolaborasi dalam projek ruangan sekolah penyandang Autisme berdasarkan sound, light, dan motion. Dia menyumbangkan ilmu di bidang arsitektur, sementara aku menyumbangkan ilmuku di bidang psikologi. Lama-lama kita semakin larut dalam diskusi panjang, hingga akhirnya Alfi mengutarakan niat untuk menemuiku di bulan ketiga. Di bulan itulah awal pertemuan kami secara disadari, hingga akhirnya dia berniat untuk melamarku.
29 Maret 2014
            Seperti yang dijanjikan  Alfi, hari ini adalah awal pertama kali kita bertatap muka. Alfi ingin menemuiku di rumah sekalian bersilaturahmi dengan abah dan ibu. Aku sudah tidak bisa lagi menahan rasa khawatirku. Terlebih segala petuah dan nasehat yang ibu berikan beberapa hari yang lalu. 
“Nduk, kamu jangan suka main-main sama perasaan orang lain. Inget, Alfi itu masih saudaramu. Gak enak nduk kalau terjadi hal yang tidak diinginkan. Makanya, jangan cepat-cepat mengambil keputusan. Diistiharahin dulu sampai bener-bener mantep. Ibu isin kalau ini bakal terjadi lagi berulang kali,”ujar ibu sambil menghela nafas panjang. Sepertinya ibu sudah lelah meladeni orang-orang yang berdatangan ke rumah untuk meminangku dan seketika aku menolaknya. Dulu aku memang terlalu banyak pertimbangan, terlalu idealis, dan aku masih terlarut dengan segala aktifitasku.
Bukanya aku terlalu cepat mengambil keputusan tanpa doa dan ikhtiarku. Aku selalu menghargai mereka yang memiliki niat baik. Cuman memang dulu aku belum ikhlas. Aku pernah berusaha mencintai seseorang yang berniat baik kepadaku dengan keterpaksaan, dan hasilnya nihil. Kini aku mulai lelah, lelah beradu argumen dengan hati. Saatnya menjalani proses ini dengan rasa ikhlas. Jika ikhlas, Allah akan memberikan seorang yang selama ini kita butuhkan, bukan sekedar yang kita inginkan. Allahua`lam. “Insya Allah, Rei selalu salat istikharah bu. Insya allah Rei ikhlas. Ikhlas apapun yang akan terjadi nanti, Allahua`lam” ujarku menenangkan ibu. Namun sorot mata ibu masih menampakan kegundahan.
Tiba-tiba suara mobil terhenti di depan rumah kami. “Nah, itu dia datang” ibu segera bergegas menuju teras rumah untuk menyambut kedatangan  Alfi. Aku masih belum beranjak dari kursi. Kuintipnya dari balik jendela. What?? Ternyata  Alfi membawa rombongan keluarganya yang berada di Solo. Ada mbah, bulek, sepupu beserta suami dan anaknya. Perasaanku semakin kacau. Bukanya dia bilang kalau pertemuan ini hanya sekedar nadhar saja? (nadhar adalah melihat seorang yang ingin dikenal secara langsung, tentunya dengan izin dari wali dan yang akan dinadhar). Tapi kenapa harus bawa rombongan segala? Tenang Rei, tenang. Gumamku menenangkan diri.
Mereka kini sudah berada di ruang tamu ditemani abah dan ibu. Aku masih bersembunyi di belakang. Entah, jantung ini rasanya semakin berdebar lebih kencang tak seperti biasanya.
“Nduk, bikinkan minuman untuk tamunya ya, nanti sekalian dibawa kesana” ibu datang menghampiriku di dapur. Dengan sigap aku mulai menata gelas, lalu menuangkanya the satu-persatu. Bismillah, kutarik nafas panjang dan membawanya ke ruang tamu. Sekilas aku melihat Alfi terdiam sambil menatapku. Astaga, seketika keseimbanganku langsung hilang. Tiba-tiba tanganku bergetar hingga menumpahkan air teh dari salah satu cangkir yang kubawa. Muka ini rasanya memerah bak kepiting rebus.
“tenang mbak Rei..Wah getaranya kuat banget ya sampai numpahin teh” canda buleknya Alfi menggodaku. Seketika semua yang ada di ruang tamu menertawakan kecerobohanku. Ya allah, mau ditaruh dimana ini mukaku. Jantung ini rasanya mau pecah. Aku berusaha menampik dengan senyum simpul, lalu bergabung untuk berbincang-bincang di ruang tamu. Semoga waktu ini berjalan cepat ya Allah..
Dua jam sudah berlalu. Abah yang terkenal paling betah berlama-lama mengobrol masih saja meneruskan obrolanya. Dan waktu selama itu pula, aku belum mendengar satu patah katapun yang terucap dari mulut Alfi. Aku mulai teringat 4 tahun yang lalu, seseorang datang melamarku beserta orang tuanya. Ia enggan bercakap-cakap denganku, bahkan untuk menimpali obrolan abahku. Katanya sih karena aku masih belum resmi menerima lamaranya. Bahkan untuk mendengar suaranya saja, aku masih belum diperbolehkan. Ajaran dari mana itu, aku benar-benar tidak habis fikir ada orang berprinsip seperti itu. Tuhan, jangan sampai kejadian itu akan terulang lagi di saat ini.
Tiba-tiba suami dari sepupu Alfi mulai angkat bicara, “mm begini om, sebenarnya om sudah tau belum niat kedatangan Alfi kesini?”
“ Ooo..yaya sudah sudah. Silahkan kalau Alfi memang ada perasaan sama anak saya. Saya gak keberatan, tergantung kalian berdua enaknya gimana. Jika memang selanjutnya mau dibawa ke Palembang ya silahkan, disini juga boleh, atau mau tinggal di daerah asli saya di Sumbawa saya gak melarang hahahaa, ya mas ya” jawab Abah enteng. Hellooooo..ucapan Abah saat itu bagaikam halilintar menggelegar di siang bolong. Bisa-bisanya abah menjawab tanpa meminta konfirmasi terlebih dahulu dari orang yang menanyakan. Harusnya kan nanya dulu, pura-pura aja gak tau. Atau jangan-jangan niat Alfi tidak sesuai dengan dugaan Abah. Omegod, mau ditaru dimana lagi mukaku? Bak sampah sudah penuh! Abaaaaahhhhhh…..
Sebenarnya pertemuan ini jauh dari ekspektasiku. Awalnya aku hanya ingin menjalin komunikasi interpersonal dulu dengan Alfi. Agar aku lebih tau kepribadian  Alfi lebih jauh. Bahkan sempat terpikirkan mau aku tes psikologi juga dengan memintanya untuk menggambar, lalu aku mencoba untuk mengintepretasikanya. Ah inilah ribetnya seorang Rei. Mungkin disaat ini Allah menunjukan, inilah yang dinamakan ikhlas. Kamu sudah melampaui masa ikhtiarmu melalui komunikasi jarak jauh dan mengistikharahkanya. Barangkali Allah juga ingin menunjukan kekuasaanya yang tidak bisa ditandingi oleh Hambanya. Apalagi aku hanya hamba yang lemah di hadapanmu.
Sepertinya Alfi tau akan kegundahanku. Esoknya dia mengajaku untuk bertemu secara langsung tentunya dalam pertemuan non formal, bukan pertemuan formal yang menegangkan seperti kemarin. Di saat itu aku mulai tahu bagaimana  Alfi yang sebenarnya. Sampai-sampai aku tidak menyangka jika dia tidak sependiam yang aku bayangkan.
“Al, kemaren kenapa sih kok diem aja?” tanyaku penasaran
“Hehe..aku grogi Rei, terlebih ketika pertama kali melihatmu. Kalau senyum ada lesung pipinya ya, manis” jawab  Alfi menggodaku
“halah, apaan to  Gombal! Emm Al, aku minta maaf ya kalau abah kemaren kelewatan banget ngomongnya. Padahal belum konfirmasi juga jawaban niat kamu kesini apa. Pokoknya aku minta maafff banget yaa”
“haha.. tapi untungnya abah tebakanya tepat ya Rei. Jadi aku juga merasa terbantu untuk mengutarakan niatku, karena niatku memang serupa dengan apa yang diungkapkan abah”. Jawaban Alfi membuatku tersentak kaget. Aku mulai angkat bicara untuk menumpahkan segala pertanyaan yang dari kemarin ingin aku ungkapkan.
“Hah? Kamu seriusan gak sih? Gimana bisa? Kamu kan baru aja bener-bener mengenalku Al. Kamu barusan putus juga kan? Kok bisa secepat itu kamu yakin sama aku? Apa yang membuatmu yakin? Bukanya aku meragukanmu Al, mungkin kamu bisa mempertimbangkanya matang-matang. Nikah itu proses jangka panjang loh, Al. Jangan main-main” ungkapku dengan pertanyaan betubi-tubi. Alfi menatapku sambil tersenyum simpul.
“Hehe..ternyata kamu bawel ya Rei..Rei, bukanya kamu selalu meminta kepadaku untuk mengistikharahkan segala keputusan yang dibuat? Apa salah jika Allah ternyata sudah memantapkan hati ini untuk memilihmu? Aku sudah mengatakan sebelumnya kepadamu. Jika memang aku memulai lagi untuk mengenal seseorang, aku akan niatkan dia untuk menjadi pendamping hidupku. Bukan untuk pacaran, karena aku berniat untuk memuliakanya, menjaganya. Eemm, tapi ada satu hal yang bikin aku gak tenang semalaman, bahkan sampai saat ini”
“Apa?” tanyaku tak sabar.
 “Aku tahu, kamu sudah banyak menolak pinangan dari orang lain. Dan jujur aku was-was jika akhirnya aku juga akan menjadi daftar lelaki yang selanjutnya akan kamu tolak hahaa. Tapi insya Allah aku ikhlas dengan apapun keputusanmu” ungkap Alfi tenang.
Entah mengapa tiba-tiba hati kerasku mulai mencair perlahan-lahan. Malam itu aku termenung dan masih terngiang-ngiang atas ucapanya. Kucurahkan isi hatiku pada yang maha kuasa. Wahai Sang Pembolak-balik hati, tetapkanlah hati ini dalam iman dan taqwamu ya Rabb..Bismillahirrahmanirrahim…nawaitu lillahi ta`ala.

Dua bulan kemudian kedua orang tua Alfi datang melamarku, namun tidak dengan kehadiranya. Sisa cuti di kantornya tinggal beberapa hari untuk satu tahun. Jika Allah menginjinkan untuk menikah di tahun ini, dia akan menggunakan sisa cutinya untuk menikah. Usai khitbah, Alfi menelfonku.
“gimana acaranya, Rei? Lancar?”
“Alhamdulillah lancar. Al, setelah resmi kamu melamarku, satu hal yang kupinta”
“Apa, Rei?”
“Emmm.. mulai sekarang aku panggil kamu mas Alfi ya..”
“Hehe..subhanallah..iya dik Rei J
“Wkwkwkwk kok lucu ya….belum terbiasa kali ya..makasih mas Alfi”
            Bukan sekedar terinspirasi dari Kisah Cinta Suci Zahrana. Aku hanya ingin lebih menghormatinya yang secara resmi menjadi calon suamiku. Maha besar Allah. Satu kali aku menatapmu, dan Allah meyakinkanku bahwa engkaulah jodohku yang selama ini tersimpan di lauhil Mahfudz. Subhanallah.
13 September 2014
            Sakit maghku yang tiba-tiba kambuh semalam ditambah rasa hati yang campur aduk membuatku tidak bisa tidur semalaman. Pagi-pagi buta aku sudah dibangunkan ibu untuk bersiap-siap berangkat ke gedung pernikahan. Hari ini beneran ya aku nikah? Aku gak mimpi kan? Aku harap saat ini aku benar-benar terbangun. Tepat jam 5.30 pagi aku sudah sampai di gedung pernikahan untuk diriasi. Periasku sepertinya sudah lama menungguku
“Maaf mbak, telat. Tadi masih repot di rumah” ucapku sambil menyalami mb Yudith, perias pengantinku
“iya mbak gak papa. Saya sudah disini dari jam 5 tadi mbak. Oiya mas pengantenya mana ini? Sudah datang dari Palembang mbak?”
“Sudah mbak, baru datang semalam. Mungkin sedang perjalanan kesini dari rumah mbahnya”
Masih teringat semalam, aku berharap bisa menemui mas Alfi walau hanya sebentar. Lagian dia kan datang bersama kakaku yang kebetulan bekerja di Palembang juga. Pasti nanti dia bakal mampir kerumah dulu, jadi aku bisa menemuinya dan berharap bisa mengobrol-ngobrol sebentar. Sayangnya aku hanya bisa menyalaminya saja dan dia bergegas untuk pulang ke rumah neneknya. Ketika mas Alfi menyalamiku, rasa gugup itu masih saja ada seperti pertama kali kita bertemu. Jika di telfon kita bercengkrama seperti orang sudah lama mengenal satu sama lain, namun ketika kita bertemu lagi kita masih malu-malu seperti remaja yang baru mengenal jatuh cinta.
Lima jam sudah pernikahan kita berlangsung, dan sekarang aku sudah resmi menjadi Nyonya Alfi, istri dari mas Alfi. Aku sempat iseng dengan suamiku yang grogian itu. Ketika naik ke pelaminan, aku cubit tanganya sambil berbisik “ Mas, senyum donk”
“ Iya, istriku” Awalnya aku yang berniat menjahili, justru sekarang aku yang grogi ketika dia memanggilku dengan “istriku”. Terlebih ketika fotografer meminta untuk berpose dengan pose mas Alfi mencium keningku. Semoga make up ini menutupi pipiku yang sedang merona.
Subhanallah, indahnya menikah dengan taarufan. Semoga engkau selalu meridhai langkah baru ini ya Rabb. Menikah memang bukan akhir, tapi menikah adalah proses sebagai awal kita melangkah. Jika kita sudah menjalankan proses sebelum pernikahan dengan cara yang disyariatkan oleh Allah, insya allah Allah akan selalu senantiasa meridhai proses kita nanti setelah menikah. Amin..ya Rabbal Alamin. Tiada yang lebih indah mengenalmu melalui proses taaruf. I love u mas Alfi <3

Based on my true story

Monday, 22 September 2014

MENGAPA SAYA MENIKAH?

Ketika saya memutuskan untuk menikah di usia sebelum 25 tahun, banyak teman-teman saya yang menanyakan,
“ngapain ay cepet-cepet nikah?”
“cie..yang mau nikha, katanya pengen s2 dulu soy?”
“wah osoy nikah? Gak salah?”
Dan masih banyak pertanyaan-pertanyaan lain yang terlontar ketika orang sebebas saya memutuskan untuk menikah. Saat ini usiaku 24 tahun. Mungkin di jamanya abah ibu saya menikah diumur 24 tahun sudah dibilang nikah tua. Tapi di era globalisasi seperti sekarang ini, beberapa orang mengkatagorikan menikah di usia 24 tahun termasuk nikah muda. Terlebih suami saya juga seumuran, cuman lebih tua sebulan dari saya. Kayak pacaran aja ya kita, hehhee.
Well, selain menikah merupakan Sunnah Rasul, saya memutuskan dan memberanikan diri untuk menikah karena saya sudah merasa cukup menuntaskan masa eksplorasi saya. Kenapa sih harus menuntaskan eksplorasi? Ya biar kita sudah merasa puas dengan masa muda kita sebagai masa keemasan. Karena ketika menikah, kita akan melangkah ke fase-fase selanjutnya dimana ada fase dewasa madya yang membuat seseorang kembali bertingkah seperti remaja dan menolak (denial) untuk menghadapi masa dewasa lanjut. Menurut saya sih, hal tersebut dapat diminimalisir bila kita mendapatkan masa kejayaan sewaktu masih belia (ciee…yang belia) dan tentunya dengan kapasitas spiritual yang baik.
Di masa muda saya( loh emang sekarang udah tua?) ya gak lah, gue masih 17 plus plus keles :p , saya bersyukur telah diberikan pengalaman yang luar biasa banyaknya sehingga dapat menikmati masa remaja dengan penuh rasa syukur dan bahagia.

-          Sewaktu SD, di umur 11 tahun saya mulai bereksplorasi di bidang pramuka, saya mengikuti kejuaraan tingkat kebupaten dan jawa tengah. Di umur itu pula, saya pernah di bully sama tetangga saya laki-laki dan memberanikan diri untuk melawanya. Maka terjadilah pertengkaran dan baku hantam sampai ibunya datang menghampiri rumah saya (tobaat..tobat). Di umur 12 tahun, saya menjadi delegasi di sekolah saya untuk mengikuti penataran dokter kecil yang diselenggarakan oleh dinas kesehatan di kota saya.

-                  Ketika masuk pondok, saya bereksplorasi lebih luas lagi, saya sering tampil sebagai cheerleaders (jimbas), pidato, fotogenik, fashion show, nyanyi, sampai menjadi pemeran utama dalam drama komedi (Marwah tak berdawed) Pentas Akbar siswa akhir (kelas 3 SMA). Di masa itulah saya juga berada pada masa pencarian jati diri (cie..kirain pencarian kitab suci, emang sung go kong -_-). Saya sudah puas dihukum gara-gara sering melangggar peraturan. Dijemur dibawah terik matahari di siang bolong sudah jadi makanan sehari-hari. Menggunakan kerudung pelanggaran dengan cap gede “the big trespasser of security section/ central language improvement” sudah menjadi langganan. Parahnya, dengan santainya asik menonton filim____ di kantor pengasuhan dengan alasan mencari inspirasi buat bikin koreografi. Dan hamper saja di keluarkan dari pondok gara-gara sering tatamarod (pura-pura sakit) sebagai alibi males berangkat sekolah. Saking penasaranya juga, saya pernah pura-pura kesurupan sampai bikin heboh di asrama. Anehnya lagi, teman sekamar saya mengaku bisa meihat jin yang merasuki saya adalah jin laki-laki yang suka sama saya. Dan seketika semua teman sekamar saya percaya (ampuunn deeehh). Waktu kelas 3 SMP, saya mencoba untuk ikut liburan teman saya di Jakarta. Karena kehabisan uang,  saya memutuskan untuk ikutan truk sayur yang ditawarkan oleh temen saya (kebetulan ayahnya juragan sayur) sampai tujuan Solo. Sayangnya keputusan saya itu sirna ketika om saya yang di BEkasi menawarkan saya untuk pulang naik pesawat. Horeee naek pesawat. Itu kali pertama saya naik pesawat dan dilepaskan begitu saja di bandara. Hampir juga saat itu saya nyasar masuk terminal pesawat Medan kalau gak ditanyain sama cik China yang duduk disebelah saya. Hahahaa, makasih cik. Semasa di pondok, saya dikenal sebagai anak yang tomboy yang sok keren dengan gaya jalan seperti orang pincang (sok dimacho-machoin). Ibu saya sempet sedih melihat perkembangan saya di pondok bukanya semakin feminim, justru malah semakin menjadi-jadi ketomboyanya. Untungnya masa-masa itu hanya ada ketika sekolah. Setelah lulus, saya mulai berkontemplasi, merenungi ksalahn-kesalahan dan belajar untuk memperbaiki diri. Eaaaaa..eaaaaaa

-               Ketika menginjak masa kuliah dan berhadapan dengan dunia baru, saya diminta abah saya untuk mengambil kuliah sefakultas dengan abah saya mengajar. Rasanya gak leluasa banget karena seperti serba dipantau. Sisi positifnya sih saya bisa mengerem perilaku membandel saya. Tapi tetap saja gak bisa seratus persen. Saya sering mempengaruhi teman dekat sekelas saya, Naya, untuk bolos kuliah. Namun lama kelamaan justru saya yang banyak terpengaruh dari dia untuk menjadi perempuan sejati yang seutuhnya hahaha.  

-               Di awal semester, saya mulai berkecimpung di dunia organisasi. Dari organisasi tersebut saya sering menjadi delegasi untuk mengikuti beberapa perlombaan seperti lomba debat bahasa Arab se pulau jawa, lomba debat bahasa Inggris dua tahun berturut-turut, terahir kalinya saya mendapatkan 5th best speaker English Debate Championship of Rector Cup 2010. Gara-gara itu saya diundang untuk ikut mengisi acara debat “RELAX” di TVRI Jawa Tengah, Semarang. Saya menjadi peserta terfavorite dalam Test Training Crew bersama my partner in Crime, Novel (peace vel wkwkwk). Selain itu, saya diminta mengajar studi Islam di STIKES Aisyiah Surakarta, mengajar mahasiswa yang masih seumuran sama saya ada enak enggaknya juga. Tapi dibawa enjoy aja, bahkan ada yang jadi temen foto hijab sampai sekarang hehee. Itu pertama kalinya saya dapet gaji dari hasil mengajar. Uangnya saya pakai buat jalan-jalan ke Bandung buat menemui sahabat saya, Nisa. Dan itu pertama kalinya juga saya pergi keluar kota tanpa temen. Bener-bener sendirian, cari alamat sendirian. Sampai akhirnya saya nyasar di makam pahlawan gara-gara nyariin kampusnya si Nisa di Widyatama. Dari rumah Nisa, saya juga nekat ngangkot sendiri nyari rumahnya Desti di Ujung berung kalo gak salah. Bener-bener bolang deh, alias bocah ilang! Tapi traveling sendirian ada serunya juga. Kita jadi tau karakter orang-orang selama di perjalanan, dapet cerita dan pengalaman baru dari ibu-ibu penjual nasi bungkus, bapak kondektur, dan jadi curhatanya mas-mas yang hubungan sama pacarnya gak disetejuin sama orang tuanya. How poor u bro..Dan sejak saat itu juga saya jadi doyan jadi single traveler, terutama saat mengunjungi kota-kota di Jawa Timur. Tiap tahun saya jadi rajin kursus bahasa Inggris di Pare. selain dapet ilmu, kita bisa dapet relasi baru, objek wisata baru di daerah Jawa Timur, dan bisa liat yang seger-seger (pemandangan maksutnya hahaha)

-             Di tahun kedua kuliah, saya memutuskan untuk mengambil lagi satu jurusan. Rasanya kuliah double itu seperti memikul berton ton karung di pundak (lebay). Cwapeekk pake banget. Tapi saya bersyukur, gara-gara kuliah double impian saya buat kurus akhirnya tercapai. Horeeeee..di tambah lagi saya mulai pindah dari kos-kosan ke asrama Internasional milik kampus saya. Tapi dijalanin ajalah, gak usah diambil pusing. Gara-gara itu juga saya jadi diajakin temen-temen asrama putra buat ikutan pendakian masal di gunung merapi. Ulala, bakat memanjatku sewaktu kecil akhirnya tersalurkan juga wkwkwk. Gara-gara itu saya jadi demen naik gunung. Apalagi kalau ikutan pendakian masal, banyak doorprizenya hehee. Saya juga sering ikutan camping. Seneng banget kalau udah diajakain camping di pantai. Malemnya kita mendengar deburan ombak pantai, pagi bisa langsung menatap sunrise yang subhanallah indahnya. Intinya kalau kita sering ikutan tadabbur alam kita jadi banyak-banyak mensyukuri kekuasaan Allah dan bertawadhu` kepadanya.

-             Finally, semester 7 saya sudah menyelesaikan kuliah saya. Tapi belum dengan jurusan yang satu lagi. Setelah diwisuda di bulan September 2012, saya masih berstatus mahasiswa untuk jurusan yang satunya. Dari situ saya merasakan my life is really flat. Saya butuh suatu yang baru, yang bisa membuka luas wawasan saya. Akhirnya saya mulai rajin apply event-event Internasional. Bahkan saya sempat dibiayai kampus untuk mengikuti seleksi pertukaran pelajar ke Australia di Semarang. Tapi hasilnya saya dinyatakan tidak lolos. Gemess banget rasanya. Akhirnya saya terus berusaha. Pokoknya sebelum lulus, saya harus ikutan acara besar di luar negeri. Akhirnya saya lolos mengikuti pertukaran pelajar keluar negeri dan dibiayai sebagian oleh kampus. Eh tapi perjuanganya gak gampang loh, sampai saya nekat datengin bapak rector untuk minta di danai. Hahaha..sangaarrrr.Buat mengisi masa extand saya di luar negeri, saya pernah mencoba tinggal di kampung backpacker yang isinya wisatawan asing dari seluruh belahan dunia. U know sendiri lah bentuknya kayak apa. Itu kampung gak pernah mengenal malam dan siang. Rameee terus dan selalu ada hal yang unik. Tiap malem sering ada street dance juga, dan tentunya clubbing selalu ada. Tentunya saya gak mau tinggal berlama-lama disitu mengingat situasinya gak sehat untuk para muslim dan takut terbawa arus heeee.

-              Mentang-mentang kuliah tinggal satu jurusan, saya semakin ketagihan buat ikutan event-event besar. Saya pernah tepilih sebagai delegasi dalam konfrensi pemuda se Indonesia, event regional di Jogja dan Solo. Saking ketagihanya saya jadi beralih profesi untuk menekuni dunia Liasion Officer. Saya pernah meladeni duta besar Amerika, Kuwait, Jerman, Jepang, dan Ambasador Indonesia untuk Filiphine, bapak Kristanto yang kumisnya gak nguatin hahaha. Menjadi LO untuk kunjungan dari IIUM Malaysia, MC untuk seminar Internasional dengan Kingston University dan Thailand University. Gara-gara saya sering sok-sokan bisa bahasa Inggris itulah saya ditawarin untuk mengajar mahasiswa Palestina yang kuliah di kampus saya. Awalnya saya kirain mereka itu adalah orang-orang dengan gaya hayya biljihadnya dan berjenggot panjang-panjang. Dugaan saya meleset 180 derajat. Mereka sama ajak kayak kita, bahkan lebih parah. Sukanya tebar pesona lah, berantem di kelas juga pernah sampai saya bingung mau gimana. Tapi jadi guru mereka itulah banyak hal-hal yang berkesan. Saya jadi belajar bahasa Amiyah mereka gara-gara saya sering dikatain dan diolok-olok dengan bahasa yang gak saya mengerti. Nah, pas saya sok-sokan pake bahasa mereka, seketika mereka terdiem dan mikir-mikir lagi buat ngomongin saya. Hehe..emang enak dikerjain :p. kebiasaan mereka tiap malam adalah menghabiskan waktu malam untuk menghirup sisha. Saking penasaranya saya sama temen saya di traktir sama murid saya buat nge sisha di salah satu kampong Arab di Solo. Rasanya.. huekk hueekk…gak enak blass… tau gitu mending saya ngeteh di kamar aja daripada nge-shisa. Ampun maaak…

-           Di masa-masa semester akhir saya justru mulai tertarik sama dunia penelitian. Akhirnya saya ikutan organisasi penelitian di kampus saya. Dari situ saya diikutkan dalam konfrensi Penelitian besar Asia yang kebetulan Solo sebagai tuan rumah. Siapa sangka ketika itu, saya berkenalan dengan ibu-ibu bule dari Belanda. Dia hanya bertugas sebagai call for paper seperti saya. Tidak ada orang yang tertarik denganya kecuali saya. Saya sok-sokan aja negdeketin dia buat ngobrol-ngobrol. Eh gak taunya, ternyata dia adalah pimpinan asosiasi guru se Dunia yang basecampnya di Inggris. Saya langsung narsis dan menceritakan kalau saya juga guru, pernah mengajar mahasiswa, anak-anak jalanan, bahkan ngajar anak TK. Beliau interest banget sama saya, lalu saya dikasih kartu namanya. Beliau bilang nanti suatu saat kalau kamu ke Eropa jangan lupa hubungin saya. Omegod..makasih ya madam..jadi terharu hikssss…Gara-gara suka research akhirnya impian saya juga terwujudkan. Baru sekali ini saya apply PKM-AI, dan waktu itu juga PKM saya dinyatakan lolos untuk didanai DIKTI. Bayangkan yang apply kan beribu-ribu orang. Dan Alhamdulillah saya beruntung mendapatkanya di usia semester yang tak lagi muda wkwkwkwk.

Alhamdulillah, maaf maaf aja ya. Sebenernya tulisan saya ini bukan ajang saya buat narsis. Tapi dari semua tulisan ini terselip pesan moral buat para pemuda. Sebelum memutuskan menikah, berusahalah untuk menimba berbagai pengalaman hidup sebanyak-banyaknya. Jadikan masa muda sebagai masa kejayaan. Saya emang gak menjamin kejayaan kita di masa muda bisa menentukan kesuksesan nantinya. Karena saya toh sedang memulai ini. Saya bakal pindah di kota baru ikut suami saya, dimana saya bakal memulainya lagi dari nol. Tapi kalau kita bisa memanfaatkan waktu muda kita sebaik mungkin, pasti suatu saat akan membuahkan hasil. Bisa juga dijadikan cerita buat anak-anak kita buat semangat menimba ilmu dan pengalaman. Dunia itu luas bro, jangan sampai rugi gara-gara waktu kita yang terbuang sia-sia. Pumpung masih muda, berkelanalah, merantaulah, jalan-jalanlah hohoho. Ilmu Allah ada dimana-mana. Bisa kalian dapatkan melalui pengalaman. Pengalaman yang bisa engkau renungkan. Hidup gak selamanya terus diatas. Jadi jalani aja dengan ikhlas.
 Setelah saya menikah, tentunya saya merindukan untuk menjadi seorang ibu yang bisa menginspirasi untuk anak-anak saya. Setidaknya berbagai ilmu dan pengalaman sudah saya kantongi untuk membekali masa tumbuh kembang anak saya hingga dewasa nanti. Gak mungkin juga kan saya masih terus2an ikutan kegiatan mahasiswaa terus, organisasiii terus. Semua itu kan ada masanya gaes. Semoga langkah baru saya untuk menikah ini menjadi ladang amal dan ibadah. Don’t worry temans, mau yang udah menikah ataupun belum, tetaplah kalian bermanfaat bagi umat. Berkontribusilah untuk lingkungan terdekatmu. Saya harap segala unek-unek saya ini bisa dijadikan isnpirasi, khususnya bagi para pemuda. Hidup pemuda! Yang muda, yang berkarya J