Monday, 22 September 2014

MENGAPA SAYA MENIKAH?

Ketika saya memutuskan untuk menikah di usia sebelum 25 tahun, banyak teman-teman saya yang menanyakan,
“ngapain ay cepet-cepet nikah?”
“cie..yang mau nikha, katanya pengen s2 dulu soy?”
“wah osoy nikah? Gak salah?”
Dan masih banyak pertanyaan-pertanyaan lain yang terlontar ketika orang sebebas saya memutuskan untuk menikah. Saat ini usiaku 24 tahun. Mungkin di jamanya abah ibu saya menikah diumur 24 tahun sudah dibilang nikah tua. Tapi di era globalisasi seperti sekarang ini, beberapa orang mengkatagorikan menikah di usia 24 tahun termasuk nikah muda. Terlebih suami saya juga seumuran, cuman lebih tua sebulan dari saya. Kayak pacaran aja ya kita, hehhee.
Well, selain menikah merupakan Sunnah Rasul, saya memutuskan dan memberanikan diri untuk menikah karena saya sudah merasa cukup menuntaskan masa eksplorasi saya. Kenapa sih harus menuntaskan eksplorasi? Ya biar kita sudah merasa puas dengan masa muda kita sebagai masa keemasan. Karena ketika menikah, kita akan melangkah ke fase-fase selanjutnya dimana ada fase dewasa madya yang membuat seseorang kembali bertingkah seperti remaja dan menolak (denial) untuk menghadapi masa dewasa lanjut. Menurut saya sih, hal tersebut dapat diminimalisir bila kita mendapatkan masa kejayaan sewaktu masih belia (ciee…yang belia) dan tentunya dengan kapasitas spiritual yang baik.
Di masa muda saya( loh emang sekarang udah tua?) ya gak lah, gue masih 17 plus plus keles :p , saya bersyukur telah diberikan pengalaman yang luar biasa banyaknya sehingga dapat menikmati masa remaja dengan penuh rasa syukur dan bahagia.

-          Sewaktu SD, di umur 11 tahun saya mulai bereksplorasi di bidang pramuka, saya mengikuti kejuaraan tingkat kebupaten dan jawa tengah. Di umur itu pula, saya pernah di bully sama tetangga saya laki-laki dan memberanikan diri untuk melawanya. Maka terjadilah pertengkaran dan baku hantam sampai ibunya datang menghampiri rumah saya (tobaat..tobat). Di umur 12 tahun, saya menjadi delegasi di sekolah saya untuk mengikuti penataran dokter kecil yang diselenggarakan oleh dinas kesehatan di kota saya.

-                  Ketika masuk pondok, saya bereksplorasi lebih luas lagi, saya sering tampil sebagai cheerleaders (jimbas), pidato, fotogenik, fashion show, nyanyi, sampai menjadi pemeran utama dalam drama komedi (Marwah tak berdawed) Pentas Akbar siswa akhir (kelas 3 SMA). Di masa itulah saya juga berada pada masa pencarian jati diri (cie..kirain pencarian kitab suci, emang sung go kong -_-). Saya sudah puas dihukum gara-gara sering melangggar peraturan. Dijemur dibawah terik matahari di siang bolong sudah jadi makanan sehari-hari. Menggunakan kerudung pelanggaran dengan cap gede “the big trespasser of security section/ central language improvement” sudah menjadi langganan. Parahnya, dengan santainya asik menonton filim____ di kantor pengasuhan dengan alasan mencari inspirasi buat bikin koreografi. Dan hamper saja di keluarkan dari pondok gara-gara sering tatamarod (pura-pura sakit) sebagai alibi males berangkat sekolah. Saking penasaranya juga, saya pernah pura-pura kesurupan sampai bikin heboh di asrama. Anehnya lagi, teman sekamar saya mengaku bisa meihat jin yang merasuki saya adalah jin laki-laki yang suka sama saya. Dan seketika semua teman sekamar saya percaya (ampuunn deeehh). Waktu kelas 3 SMP, saya mencoba untuk ikut liburan teman saya di Jakarta. Karena kehabisan uang,  saya memutuskan untuk ikutan truk sayur yang ditawarkan oleh temen saya (kebetulan ayahnya juragan sayur) sampai tujuan Solo. Sayangnya keputusan saya itu sirna ketika om saya yang di BEkasi menawarkan saya untuk pulang naik pesawat. Horeee naek pesawat. Itu kali pertama saya naik pesawat dan dilepaskan begitu saja di bandara. Hampir juga saat itu saya nyasar masuk terminal pesawat Medan kalau gak ditanyain sama cik China yang duduk disebelah saya. Hahahaa, makasih cik. Semasa di pondok, saya dikenal sebagai anak yang tomboy yang sok keren dengan gaya jalan seperti orang pincang (sok dimacho-machoin). Ibu saya sempet sedih melihat perkembangan saya di pondok bukanya semakin feminim, justru malah semakin menjadi-jadi ketomboyanya. Untungnya masa-masa itu hanya ada ketika sekolah. Setelah lulus, saya mulai berkontemplasi, merenungi ksalahn-kesalahan dan belajar untuk memperbaiki diri. Eaaaaa..eaaaaaa

-               Ketika menginjak masa kuliah dan berhadapan dengan dunia baru, saya diminta abah saya untuk mengambil kuliah sefakultas dengan abah saya mengajar. Rasanya gak leluasa banget karena seperti serba dipantau. Sisi positifnya sih saya bisa mengerem perilaku membandel saya. Tapi tetap saja gak bisa seratus persen. Saya sering mempengaruhi teman dekat sekelas saya, Naya, untuk bolos kuliah. Namun lama kelamaan justru saya yang banyak terpengaruh dari dia untuk menjadi perempuan sejati yang seutuhnya hahaha.  

-               Di awal semester, saya mulai berkecimpung di dunia organisasi. Dari organisasi tersebut saya sering menjadi delegasi untuk mengikuti beberapa perlombaan seperti lomba debat bahasa Arab se pulau jawa, lomba debat bahasa Inggris dua tahun berturut-turut, terahir kalinya saya mendapatkan 5th best speaker English Debate Championship of Rector Cup 2010. Gara-gara itu saya diundang untuk ikut mengisi acara debat “RELAX” di TVRI Jawa Tengah, Semarang. Saya menjadi peserta terfavorite dalam Test Training Crew bersama my partner in Crime, Novel (peace vel wkwkwk). Selain itu, saya diminta mengajar studi Islam di STIKES Aisyiah Surakarta, mengajar mahasiswa yang masih seumuran sama saya ada enak enggaknya juga. Tapi dibawa enjoy aja, bahkan ada yang jadi temen foto hijab sampai sekarang hehee. Itu pertama kalinya saya dapet gaji dari hasil mengajar. Uangnya saya pakai buat jalan-jalan ke Bandung buat menemui sahabat saya, Nisa. Dan itu pertama kalinya juga saya pergi keluar kota tanpa temen. Bener-bener sendirian, cari alamat sendirian. Sampai akhirnya saya nyasar di makam pahlawan gara-gara nyariin kampusnya si Nisa di Widyatama. Dari rumah Nisa, saya juga nekat ngangkot sendiri nyari rumahnya Desti di Ujung berung kalo gak salah. Bener-bener bolang deh, alias bocah ilang! Tapi traveling sendirian ada serunya juga. Kita jadi tau karakter orang-orang selama di perjalanan, dapet cerita dan pengalaman baru dari ibu-ibu penjual nasi bungkus, bapak kondektur, dan jadi curhatanya mas-mas yang hubungan sama pacarnya gak disetejuin sama orang tuanya. How poor u bro..Dan sejak saat itu juga saya jadi doyan jadi single traveler, terutama saat mengunjungi kota-kota di Jawa Timur. Tiap tahun saya jadi rajin kursus bahasa Inggris di Pare. selain dapet ilmu, kita bisa dapet relasi baru, objek wisata baru di daerah Jawa Timur, dan bisa liat yang seger-seger (pemandangan maksutnya hahaha)

-             Di tahun kedua kuliah, saya memutuskan untuk mengambil lagi satu jurusan. Rasanya kuliah double itu seperti memikul berton ton karung di pundak (lebay). Cwapeekk pake banget. Tapi saya bersyukur, gara-gara kuliah double impian saya buat kurus akhirnya tercapai. Horeeeee..di tambah lagi saya mulai pindah dari kos-kosan ke asrama Internasional milik kampus saya. Tapi dijalanin ajalah, gak usah diambil pusing. Gara-gara itu juga saya jadi diajakin temen-temen asrama putra buat ikutan pendakian masal di gunung merapi. Ulala, bakat memanjatku sewaktu kecil akhirnya tersalurkan juga wkwkwk. Gara-gara itu saya jadi demen naik gunung. Apalagi kalau ikutan pendakian masal, banyak doorprizenya hehee. Saya juga sering ikutan camping. Seneng banget kalau udah diajakain camping di pantai. Malemnya kita mendengar deburan ombak pantai, pagi bisa langsung menatap sunrise yang subhanallah indahnya. Intinya kalau kita sering ikutan tadabbur alam kita jadi banyak-banyak mensyukuri kekuasaan Allah dan bertawadhu` kepadanya.

-             Finally, semester 7 saya sudah menyelesaikan kuliah saya. Tapi belum dengan jurusan yang satu lagi. Setelah diwisuda di bulan September 2012, saya masih berstatus mahasiswa untuk jurusan yang satunya. Dari situ saya merasakan my life is really flat. Saya butuh suatu yang baru, yang bisa membuka luas wawasan saya. Akhirnya saya mulai rajin apply event-event Internasional. Bahkan saya sempat dibiayai kampus untuk mengikuti seleksi pertukaran pelajar ke Australia di Semarang. Tapi hasilnya saya dinyatakan tidak lolos. Gemess banget rasanya. Akhirnya saya terus berusaha. Pokoknya sebelum lulus, saya harus ikutan acara besar di luar negeri. Akhirnya saya lolos mengikuti pertukaran pelajar keluar negeri dan dibiayai sebagian oleh kampus. Eh tapi perjuanganya gak gampang loh, sampai saya nekat datengin bapak rector untuk minta di danai. Hahaha..sangaarrrr.Buat mengisi masa extand saya di luar negeri, saya pernah mencoba tinggal di kampung backpacker yang isinya wisatawan asing dari seluruh belahan dunia. U know sendiri lah bentuknya kayak apa. Itu kampung gak pernah mengenal malam dan siang. Rameee terus dan selalu ada hal yang unik. Tiap malem sering ada street dance juga, dan tentunya clubbing selalu ada. Tentunya saya gak mau tinggal berlama-lama disitu mengingat situasinya gak sehat untuk para muslim dan takut terbawa arus heeee.

-              Mentang-mentang kuliah tinggal satu jurusan, saya semakin ketagihan buat ikutan event-event besar. Saya pernah tepilih sebagai delegasi dalam konfrensi pemuda se Indonesia, event regional di Jogja dan Solo. Saking ketagihanya saya jadi beralih profesi untuk menekuni dunia Liasion Officer. Saya pernah meladeni duta besar Amerika, Kuwait, Jerman, Jepang, dan Ambasador Indonesia untuk Filiphine, bapak Kristanto yang kumisnya gak nguatin hahaha. Menjadi LO untuk kunjungan dari IIUM Malaysia, MC untuk seminar Internasional dengan Kingston University dan Thailand University. Gara-gara saya sering sok-sokan bisa bahasa Inggris itulah saya ditawarin untuk mengajar mahasiswa Palestina yang kuliah di kampus saya. Awalnya saya kirain mereka itu adalah orang-orang dengan gaya hayya biljihadnya dan berjenggot panjang-panjang. Dugaan saya meleset 180 derajat. Mereka sama ajak kayak kita, bahkan lebih parah. Sukanya tebar pesona lah, berantem di kelas juga pernah sampai saya bingung mau gimana. Tapi jadi guru mereka itulah banyak hal-hal yang berkesan. Saya jadi belajar bahasa Amiyah mereka gara-gara saya sering dikatain dan diolok-olok dengan bahasa yang gak saya mengerti. Nah, pas saya sok-sokan pake bahasa mereka, seketika mereka terdiem dan mikir-mikir lagi buat ngomongin saya. Hehe..emang enak dikerjain :p. kebiasaan mereka tiap malam adalah menghabiskan waktu malam untuk menghirup sisha. Saking penasaranya saya sama temen saya di traktir sama murid saya buat nge sisha di salah satu kampong Arab di Solo. Rasanya.. huekk hueekk…gak enak blass… tau gitu mending saya ngeteh di kamar aja daripada nge-shisa. Ampun maaak…

-           Di masa-masa semester akhir saya justru mulai tertarik sama dunia penelitian. Akhirnya saya ikutan organisasi penelitian di kampus saya. Dari situ saya diikutkan dalam konfrensi Penelitian besar Asia yang kebetulan Solo sebagai tuan rumah. Siapa sangka ketika itu, saya berkenalan dengan ibu-ibu bule dari Belanda. Dia hanya bertugas sebagai call for paper seperti saya. Tidak ada orang yang tertarik denganya kecuali saya. Saya sok-sokan aja negdeketin dia buat ngobrol-ngobrol. Eh gak taunya, ternyata dia adalah pimpinan asosiasi guru se Dunia yang basecampnya di Inggris. Saya langsung narsis dan menceritakan kalau saya juga guru, pernah mengajar mahasiswa, anak-anak jalanan, bahkan ngajar anak TK. Beliau interest banget sama saya, lalu saya dikasih kartu namanya. Beliau bilang nanti suatu saat kalau kamu ke Eropa jangan lupa hubungin saya. Omegod..makasih ya madam..jadi terharu hikssss…Gara-gara suka research akhirnya impian saya juga terwujudkan. Baru sekali ini saya apply PKM-AI, dan waktu itu juga PKM saya dinyatakan lolos untuk didanai DIKTI. Bayangkan yang apply kan beribu-ribu orang. Dan Alhamdulillah saya beruntung mendapatkanya di usia semester yang tak lagi muda wkwkwkwk.

Alhamdulillah, maaf maaf aja ya. Sebenernya tulisan saya ini bukan ajang saya buat narsis. Tapi dari semua tulisan ini terselip pesan moral buat para pemuda. Sebelum memutuskan menikah, berusahalah untuk menimba berbagai pengalaman hidup sebanyak-banyaknya. Jadikan masa muda sebagai masa kejayaan. Saya emang gak menjamin kejayaan kita di masa muda bisa menentukan kesuksesan nantinya. Karena saya toh sedang memulai ini. Saya bakal pindah di kota baru ikut suami saya, dimana saya bakal memulainya lagi dari nol. Tapi kalau kita bisa memanfaatkan waktu muda kita sebaik mungkin, pasti suatu saat akan membuahkan hasil. Bisa juga dijadikan cerita buat anak-anak kita buat semangat menimba ilmu dan pengalaman. Dunia itu luas bro, jangan sampai rugi gara-gara waktu kita yang terbuang sia-sia. Pumpung masih muda, berkelanalah, merantaulah, jalan-jalanlah hohoho. Ilmu Allah ada dimana-mana. Bisa kalian dapatkan melalui pengalaman. Pengalaman yang bisa engkau renungkan. Hidup gak selamanya terus diatas. Jadi jalani aja dengan ikhlas.
 Setelah saya menikah, tentunya saya merindukan untuk menjadi seorang ibu yang bisa menginspirasi untuk anak-anak saya. Setidaknya berbagai ilmu dan pengalaman sudah saya kantongi untuk membekali masa tumbuh kembang anak saya hingga dewasa nanti. Gak mungkin juga kan saya masih terus2an ikutan kegiatan mahasiswaa terus, organisasiii terus. Semua itu kan ada masanya gaes. Semoga langkah baru saya untuk menikah ini menjadi ladang amal dan ibadah. Don’t worry temans, mau yang udah menikah ataupun belum, tetaplah kalian bermanfaat bagi umat. Berkontribusilah untuk lingkungan terdekatmu. Saya harap segala unek-unek saya ini bisa dijadikan isnpirasi, khususnya bagi para pemuda. Hidup pemuda! Yang muda, yang berkarya J

3 comments: