Wednesday, 24 September 2014

ONE PRECIOUS MOMENT ( Married by Taaruf)

“Nduk..sudah diminum obatnya? Inget, kondisi kamu harus fit, besok lebih capek lagi dari sekarang” nasehat ibu sambil menyodorkan segelas air putih dan obat maagh. Kutelan obat pahit itu sambil menahan rasa sakit. Entah mengapa tiba-tiba penyakit maghku kambuh. Padahal akhir-akhir ini aku selalu makan rutin sehari tiga kali. Apa ini yang dinamakan psikosomatis. Reaksi fisik yang disebabkan oleh gejala psikologis. Ya, barangkali aku sedang nervous. Esok hari merupakan momentum bahagia yang akan disaksikan oleh ribuan para tamu undangan dan para saksi. Rasanya seperti mimpi.
Sepertinya sembilan bulan yang lalu aku baru saja mengenal calon suamiku. Walaupun masih saudara jauh, kita belum pernah bertatap muka. Yang masih kuingat, hanya sekilas wajahnya ketika kita masih sama-sama berumur + 10 tahun. Saat itu, dia masih terlihat bening dan lucu. Aku suka mencuri pandang sambil malu-malu. Mungkin ini yang dinamakan cinta monyet. Namun semenjak itu, sampai kita sama-sama beranjak dewasa, Tuhan baru mempertemukan kita kembali untuk saling mengenal satu sama lain. Sampai akhirnya Tuhan  berkehendak lebih dari itu.
Aku tak pernah menyangka jika Alfi adalah tulang rusuku. Yang aku tahu, kita masih saudara jauh, dia lama menetap di Sumatra, sementara aku dibesarkan di Jawa. Awal berkenalan di social media, kita masih sering diskusi basa-basi. Begitu pandainya Alfi menarik perhatianku ketika kita  berkolaborasi dalam projek ruangan sekolah penyandang Autisme berdasarkan sound, light, dan motion. Dia menyumbangkan ilmu di bidang arsitektur, sementara aku menyumbangkan ilmuku di bidang psikologi. Lama-lama kita semakin larut dalam diskusi panjang, hingga akhirnya Alfi mengutarakan niat untuk menemuiku di bulan ketiga. Di bulan itulah awal pertemuan kami secara disadari, hingga akhirnya dia berniat untuk melamarku.
29 Maret 2014
            Seperti yang dijanjikan  Alfi, hari ini adalah awal pertama kali kita bertatap muka. Alfi ingin menemuiku di rumah sekalian bersilaturahmi dengan abah dan ibu. Aku sudah tidak bisa lagi menahan rasa khawatirku. Terlebih segala petuah dan nasehat yang ibu berikan beberapa hari yang lalu. 
“Nduk, kamu jangan suka main-main sama perasaan orang lain. Inget, Alfi itu masih saudaramu. Gak enak nduk kalau terjadi hal yang tidak diinginkan. Makanya, jangan cepat-cepat mengambil keputusan. Diistiharahin dulu sampai bener-bener mantep. Ibu isin kalau ini bakal terjadi lagi berulang kali,”ujar ibu sambil menghela nafas panjang. Sepertinya ibu sudah lelah meladeni orang-orang yang berdatangan ke rumah untuk meminangku dan seketika aku menolaknya. Dulu aku memang terlalu banyak pertimbangan, terlalu idealis, dan aku masih terlarut dengan segala aktifitasku.
Bukanya aku terlalu cepat mengambil keputusan tanpa doa dan ikhtiarku. Aku selalu menghargai mereka yang memiliki niat baik. Cuman memang dulu aku belum ikhlas. Aku pernah berusaha mencintai seseorang yang berniat baik kepadaku dengan keterpaksaan, dan hasilnya nihil. Kini aku mulai lelah, lelah beradu argumen dengan hati. Saatnya menjalani proses ini dengan rasa ikhlas. Jika ikhlas, Allah akan memberikan seorang yang selama ini kita butuhkan, bukan sekedar yang kita inginkan. Allahua`lam. “Insya Allah, Rei selalu salat istikharah bu. Insya allah Rei ikhlas. Ikhlas apapun yang akan terjadi nanti, Allahua`lam” ujarku menenangkan ibu. Namun sorot mata ibu masih menampakan kegundahan.
Tiba-tiba suara mobil terhenti di depan rumah kami. “Nah, itu dia datang” ibu segera bergegas menuju teras rumah untuk menyambut kedatangan  Alfi. Aku masih belum beranjak dari kursi. Kuintipnya dari balik jendela. What?? Ternyata  Alfi membawa rombongan keluarganya yang berada di Solo. Ada mbah, bulek, sepupu beserta suami dan anaknya. Perasaanku semakin kacau. Bukanya dia bilang kalau pertemuan ini hanya sekedar nadhar saja? (nadhar adalah melihat seorang yang ingin dikenal secara langsung, tentunya dengan izin dari wali dan yang akan dinadhar). Tapi kenapa harus bawa rombongan segala? Tenang Rei, tenang. Gumamku menenangkan diri.
Mereka kini sudah berada di ruang tamu ditemani abah dan ibu. Aku masih bersembunyi di belakang. Entah, jantung ini rasanya semakin berdebar lebih kencang tak seperti biasanya.
“Nduk, bikinkan minuman untuk tamunya ya, nanti sekalian dibawa kesana” ibu datang menghampiriku di dapur. Dengan sigap aku mulai menata gelas, lalu menuangkanya the satu-persatu. Bismillah, kutarik nafas panjang dan membawanya ke ruang tamu. Sekilas aku melihat Alfi terdiam sambil menatapku. Astaga, seketika keseimbanganku langsung hilang. Tiba-tiba tanganku bergetar hingga menumpahkan air teh dari salah satu cangkir yang kubawa. Muka ini rasanya memerah bak kepiting rebus.
“tenang mbak Rei..Wah getaranya kuat banget ya sampai numpahin teh” canda buleknya Alfi menggodaku. Seketika semua yang ada di ruang tamu menertawakan kecerobohanku. Ya allah, mau ditaruh dimana ini mukaku. Jantung ini rasanya mau pecah. Aku berusaha menampik dengan senyum simpul, lalu bergabung untuk berbincang-bincang di ruang tamu. Semoga waktu ini berjalan cepat ya Allah..
Dua jam sudah berlalu. Abah yang terkenal paling betah berlama-lama mengobrol masih saja meneruskan obrolanya. Dan waktu selama itu pula, aku belum mendengar satu patah katapun yang terucap dari mulut Alfi. Aku mulai teringat 4 tahun yang lalu, seseorang datang melamarku beserta orang tuanya. Ia enggan bercakap-cakap denganku, bahkan untuk menimpali obrolan abahku. Katanya sih karena aku masih belum resmi menerima lamaranya. Bahkan untuk mendengar suaranya saja, aku masih belum diperbolehkan. Ajaran dari mana itu, aku benar-benar tidak habis fikir ada orang berprinsip seperti itu. Tuhan, jangan sampai kejadian itu akan terulang lagi di saat ini.
Tiba-tiba suami dari sepupu Alfi mulai angkat bicara, “mm begini om, sebenarnya om sudah tau belum niat kedatangan Alfi kesini?”
“ Ooo..yaya sudah sudah. Silahkan kalau Alfi memang ada perasaan sama anak saya. Saya gak keberatan, tergantung kalian berdua enaknya gimana. Jika memang selanjutnya mau dibawa ke Palembang ya silahkan, disini juga boleh, atau mau tinggal di daerah asli saya di Sumbawa saya gak melarang hahahaa, ya mas ya” jawab Abah enteng. Hellooooo..ucapan Abah saat itu bagaikam halilintar menggelegar di siang bolong. Bisa-bisanya abah menjawab tanpa meminta konfirmasi terlebih dahulu dari orang yang menanyakan. Harusnya kan nanya dulu, pura-pura aja gak tau. Atau jangan-jangan niat Alfi tidak sesuai dengan dugaan Abah. Omegod, mau ditaru dimana lagi mukaku? Bak sampah sudah penuh! Abaaaaahhhhhh…..
Sebenarnya pertemuan ini jauh dari ekspektasiku. Awalnya aku hanya ingin menjalin komunikasi interpersonal dulu dengan Alfi. Agar aku lebih tau kepribadian  Alfi lebih jauh. Bahkan sempat terpikirkan mau aku tes psikologi juga dengan memintanya untuk menggambar, lalu aku mencoba untuk mengintepretasikanya. Ah inilah ribetnya seorang Rei. Mungkin disaat ini Allah menunjukan, inilah yang dinamakan ikhlas. Kamu sudah melampaui masa ikhtiarmu melalui komunikasi jarak jauh dan mengistikharahkanya. Barangkali Allah juga ingin menunjukan kekuasaanya yang tidak bisa ditandingi oleh Hambanya. Apalagi aku hanya hamba yang lemah di hadapanmu.
Sepertinya Alfi tau akan kegundahanku. Esoknya dia mengajaku untuk bertemu secara langsung tentunya dalam pertemuan non formal, bukan pertemuan formal yang menegangkan seperti kemarin. Di saat itu aku mulai tahu bagaimana  Alfi yang sebenarnya. Sampai-sampai aku tidak menyangka jika dia tidak sependiam yang aku bayangkan.
“Al, kemaren kenapa sih kok diem aja?” tanyaku penasaran
“Hehe..aku grogi Rei, terlebih ketika pertama kali melihatmu. Kalau senyum ada lesung pipinya ya, manis” jawab  Alfi menggodaku
“halah, apaan to  Gombal! Emm Al, aku minta maaf ya kalau abah kemaren kelewatan banget ngomongnya. Padahal belum konfirmasi juga jawaban niat kamu kesini apa. Pokoknya aku minta maafff banget yaa”
“haha.. tapi untungnya abah tebakanya tepat ya Rei. Jadi aku juga merasa terbantu untuk mengutarakan niatku, karena niatku memang serupa dengan apa yang diungkapkan abah”. Jawaban Alfi membuatku tersentak kaget. Aku mulai angkat bicara untuk menumpahkan segala pertanyaan yang dari kemarin ingin aku ungkapkan.
“Hah? Kamu seriusan gak sih? Gimana bisa? Kamu kan baru aja bener-bener mengenalku Al. Kamu barusan putus juga kan? Kok bisa secepat itu kamu yakin sama aku? Apa yang membuatmu yakin? Bukanya aku meragukanmu Al, mungkin kamu bisa mempertimbangkanya matang-matang. Nikah itu proses jangka panjang loh, Al. Jangan main-main” ungkapku dengan pertanyaan betubi-tubi. Alfi menatapku sambil tersenyum simpul.
“Hehe..ternyata kamu bawel ya Rei..Rei, bukanya kamu selalu meminta kepadaku untuk mengistikharahkan segala keputusan yang dibuat? Apa salah jika Allah ternyata sudah memantapkan hati ini untuk memilihmu? Aku sudah mengatakan sebelumnya kepadamu. Jika memang aku memulai lagi untuk mengenal seseorang, aku akan niatkan dia untuk menjadi pendamping hidupku. Bukan untuk pacaran, karena aku berniat untuk memuliakanya, menjaganya. Eemm, tapi ada satu hal yang bikin aku gak tenang semalaman, bahkan sampai saat ini”
“Apa?” tanyaku tak sabar.
 “Aku tahu, kamu sudah banyak menolak pinangan dari orang lain. Dan jujur aku was-was jika akhirnya aku juga akan menjadi daftar lelaki yang selanjutnya akan kamu tolak hahaa. Tapi insya Allah aku ikhlas dengan apapun keputusanmu” ungkap Alfi tenang.
Entah mengapa tiba-tiba hati kerasku mulai mencair perlahan-lahan. Malam itu aku termenung dan masih terngiang-ngiang atas ucapanya. Kucurahkan isi hatiku pada yang maha kuasa. Wahai Sang Pembolak-balik hati, tetapkanlah hati ini dalam iman dan taqwamu ya Rabb..Bismillahirrahmanirrahim…nawaitu lillahi ta`ala.

Dua bulan kemudian kedua orang tua Alfi datang melamarku, namun tidak dengan kehadiranya. Sisa cuti di kantornya tinggal beberapa hari untuk satu tahun. Jika Allah menginjinkan untuk menikah di tahun ini, dia akan menggunakan sisa cutinya untuk menikah. Usai khitbah, Alfi menelfonku.
“gimana acaranya, Rei? Lancar?”
“Alhamdulillah lancar. Al, setelah resmi kamu melamarku, satu hal yang kupinta”
“Apa, Rei?”
“Emmm.. mulai sekarang aku panggil kamu mas Alfi ya..”
“Hehe..subhanallah..iya dik Rei J
“Wkwkwkwk kok lucu ya….belum terbiasa kali ya..makasih mas Alfi”
            Bukan sekedar terinspirasi dari Kisah Cinta Suci Zahrana. Aku hanya ingin lebih menghormatinya yang secara resmi menjadi calon suamiku. Maha besar Allah. Satu kali aku menatapmu, dan Allah meyakinkanku bahwa engkaulah jodohku yang selama ini tersimpan di lauhil Mahfudz. Subhanallah.
13 September 2014
            Sakit maghku yang tiba-tiba kambuh semalam ditambah rasa hati yang campur aduk membuatku tidak bisa tidur semalaman. Pagi-pagi buta aku sudah dibangunkan ibu untuk bersiap-siap berangkat ke gedung pernikahan. Hari ini beneran ya aku nikah? Aku gak mimpi kan? Aku harap saat ini aku benar-benar terbangun. Tepat jam 5.30 pagi aku sudah sampai di gedung pernikahan untuk diriasi. Periasku sepertinya sudah lama menungguku
“Maaf mbak, telat. Tadi masih repot di rumah” ucapku sambil menyalami mb Yudith, perias pengantinku
“iya mbak gak papa. Saya sudah disini dari jam 5 tadi mbak. Oiya mas pengantenya mana ini? Sudah datang dari Palembang mbak?”
“Sudah mbak, baru datang semalam. Mungkin sedang perjalanan kesini dari rumah mbahnya”
Masih teringat semalam, aku berharap bisa menemui mas Alfi walau hanya sebentar. Lagian dia kan datang bersama kakaku yang kebetulan bekerja di Palembang juga. Pasti nanti dia bakal mampir kerumah dulu, jadi aku bisa menemuinya dan berharap bisa mengobrol-ngobrol sebentar. Sayangnya aku hanya bisa menyalaminya saja dan dia bergegas untuk pulang ke rumah neneknya. Ketika mas Alfi menyalamiku, rasa gugup itu masih saja ada seperti pertama kali kita bertemu. Jika di telfon kita bercengkrama seperti orang sudah lama mengenal satu sama lain, namun ketika kita bertemu lagi kita masih malu-malu seperti remaja yang baru mengenal jatuh cinta.
Lima jam sudah pernikahan kita berlangsung, dan sekarang aku sudah resmi menjadi Nyonya Alfi, istri dari mas Alfi. Aku sempat iseng dengan suamiku yang grogian itu. Ketika naik ke pelaminan, aku cubit tanganya sambil berbisik “ Mas, senyum donk”
“ Iya, istriku” Awalnya aku yang berniat menjahili, justru sekarang aku yang grogi ketika dia memanggilku dengan “istriku”. Terlebih ketika fotografer meminta untuk berpose dengan pose mas Alfi mencium keningku. Semoga make up ini menutupi pipiku yang sedang merona.
Subhanallah, indahnya menikah dengan taarufan. Semoga engkau selalu meridhai langkah baru ini ya Rabb. Menikah memang bukan akhir, tapi menikah adalah proses sebagai awal kita melangkah. Jika kita sudah menjalankan proses sebelum pernikahan dengan cara yang disyariatkan oleh Allah, insya allah Allah akan selalu senantiasa meridhai proses kita nanti setelah menikah. Amin..ya Rabbal Alamin. Tiada yang lebih indah mengenalmu melalui proses taaruf. I love u mas Alfi <3

Based on my true story

2 comments: