Tuesday, 6 January 2015

ITULAH MENGAPA IA TAMPAK BEGITU ISTIMEWA

Tuhan, saat ini aku hanya ingin bersyiar melalui renunganku. Namun jika aku tampak takabur dihadapanmu, maka luruskanlah niatku.

Rasanya waktu itu begitu cepat berjalan. Tak terasa usia pernikahanku sudah menginjak 4 bulan. Wow, sepertinya aku baru saja mencium semerbak aroma wangi melati di kamar pengantinku dulu. Namun kenyataanya kamar pengantinku sekarang hanyalah beraroma pewangi ruangan yang sesekali bercampur dengan aroma bumbu dapur,  penuh dengan tumpukan buku dan kertas, cemilan untuk teman lembur , meja komputer serta TV dan almari yang membuat ruangan kamar kami semakin sempit. Namun rumah mungil ini tidak pernah lepas dari suara canda dan tawa, meski setiap tamu yang datang kerumah akan disajikan dengan pemandangan dapur secara langsung yang tak bersekat, lantaran ruang utama kami yang serba multi fungsi.  
Rumah yang kami tempati memang saat ini belum finishing, sehingga ruang utama tanpa sekat itu memliki fungsi sebagai  ruang tamu, ruang belajar, ruang makan, dan ruang dapur sekaligus. Klien suamiku sering penasaran dengan rumah yang kami tempati, “Wah, pasti rumah bapak  bagus ya, orang ngerancang ruang rumah kita aja bagus, apalagi rumah sendiri”. Iya memang unik untuk saat ini. Terkesan praktis untuk menjangkau minuman dari dapur, atau belajar sambil makan di ruang belajar :D. Terkadang aku suka iseng pasang foto dapur dan ruang makan di Display Picture BBM. Orang-orang seketika mengomentari, “wah, itu rumahmu ya? unik ya? Cakepp..pantes suaminya arsitek yee…”hahahhaaa. Memang benar itu rumah tsurayya. Aku tidak bohong, tapi lebih tepatnya rumah ghaida tsurayya. Aku sering kepo di instagram ghaida dan berharap aku dan suami akan mendesain rumah vintage seperti rumah ghaida. 
Walaupun dengan segala keterbatasanya, rumah mungil ini justru selalu memberikan kesejahteraan bagi kami. Sebelum kami berdua bekerja, anak-anak selalu berdatangan setiap sore  untuk belajar ngaji dan bahasa Inggris disini. Rumah terasa lebih tentram dengan lantunan ayat-ayat Al-Quran. Namun semenjak aku mulai bekerja, terkadang tenagaku sudah tak mampu lagi untuk mengajar mereka.
Di sekolah tempatku  bekerja menuntut tenaga kerjanya untuk hadir sebelum pukul 06.30 pagi. Sementara jarak rumah kami dengan sekolah membutuhkan waktu setengah jam untuk datang tepat waktu. Mau tak mau, suami yang awalnya masuk kantor pukul 08.30 harus berangkat bersamaku pukul 06.00 agar bisa sekalian mengantarkanku ke sekolah. Sementara aku yang sudah bisa pulang pukul 15.00 dengan senang hati harus pulang pukul 17.00 mengikuti jadwal suami. Bisa dibilang total waktu kerja kita yang awalnya hanya 8 jam bertambah menjadi 12 jam karena adanya toleransi satu sama lain. Semenjak keguguran 2 bulan yang lalu, suami masih belum memperbolehkan untuk pergi dengan kendaraan sendiri. Kendaraan umum di kota ini juga masih sedikit yang mulai beroperasi pagi-pagi, sehingga mau tak mau aku masih harus diantar suami kemanapun aku pergi. Belum lagi aku harus terbangun dini hari mempersiapakan makan untuk sarapan dan makan siang. Aku selalu teringat nasehat ibu, “walaupun setelah menikah kamu akan berkarir, seorang istri harus tetap memasak sendiri untuk suami. Biasakan pola hidup sehat, karena sesederhana masakanmu, suamimu pasti akan tetap menyukainya”. Betul kata ibu, walaupun awalnya aku tidak begitu mahir memasak, karena kebiasaan aku semakin lihai meracik bumbu dan membuat suamiku semakin jatuh hati (walaupun sering masakanya keasinan wkwkwk). Pada dasarnya memasak itu naluri setiap wanita, jika  mau melakukanya maka lama-lama kita akan terbiasa.
Suatu hari suamiku mengadu, ia mulai rindu dengan kehadiran anak-anak di rumah kami. Setidaknya rumah ini terasa damai dengan kegaduhan mereka yang membuat ramai. Akupun begitu, namun  aku tak kuasa  bila harus mengajar seorang diri. Kami tinggal di perumahan ini bisa dibilang sangat beruntung. Awalnya aku hanya berniat untuk mengajari anak tanteku mengaji, rupanya tante menawarkan kepada anak tetangga lain untuk bisa bergabung  bersama kami.  Padahal aku baru  1 minggu tinggal disini, sudah ada 20 anak yang bersedia kudidik untuk belajar mengaji dan bahasa asing di rumah ini. Luar biasa semangatnya anak-anak itu menuntut ilmu. Tidak ada satu anakpun yang tidak datang tepat waktu. Tapi apa daya, aku akan kehabisan tenaga dan waktu untuk melayani suami makan dan waktu bercengkrama akan banyak tersita. Bukankah itu kewajiban utamaku sebagai seorang istri? Namun tiada kusangka suamiku menawarkan diri untuk bersedia membantuku mengajar. Aku bersedia membantumu asalkan anak-anak tetap mengaji disini. Subhanallah, bergetar keras hati ini…
Diawal kami membuka TPA, anak-anak sering mempertanyakan, berapa besar uang yang kita keluarkan untuk  belajar mengaji disini. Aku bingung harus menjawab bagaimana. Perumahan tempat aku tinggal merupakan Perumahan Rumah Sederhana dimana mayoritas perekonomian masyarakat disini merupakan kalangan menengah kebawah. Tidak semua anak-anak disini hidup dari kalangan orang-orang yang mampu. Tiba-tiba aku teringat dengan pondok Gontor yang telah mendidiku selama 7 tahun lamanya. Disana aku dididik oleh tenaga pendidik yang ikhlas tanpa pamrih  mengajar kami. Sementara aku yang hanya satu hari satu jam mengajarkan mereka ilmu agama, aku meminta balasan harta dari mereka? sudahlah nak, belajarlah yang sungguh-sungguh, biarkan kami mengajar seperti guru Gontor mendidik kami yang diupah dengan pahala kebahagiaan dunia akhirat amiin.
Kini rumah kami kembali dipenuhi dengan keceriaan anak-anak. Sesekali mereka datang kesini untuk sekedar bermain-main. Jika acara besar Islam tiba, anak-anak berlatih di pekarangan rumah ini untuk persiapan pentas. Tidak hanya anak-anak TPA, suamiku juga mengajar mahasiswa yang ingin mempelajari 3D dan sketchup di rumah ini. Sesekali aku juga bereksperimen dengan anak-anak membuat handmade dan makeup hijab tutorial disini. Itulah mengapa rumah kami begitu istimewa. Sekarang sudah tidak penasaran lagi kan, rumah kami memang dirancang oleh seorang arsitek handal dengan segala keindahan dan kemewahanya. Kemewahanya dirancang dari sini, dari hati. 

0 comments:

Post a Comment