Friday, 27 February 2015

TUHAN, TERIMAKASIH AKU BERBEDA

    Dari dulu aku sudah menolak gejolak ini. Sungguh aku nyaris terpuruk. Disaat pandangan orang menjadikan aku sebagai manusia berkepribadian ganda. Entah siapa yang harus disalahkan. Saat itu aku kehilangan siapakah diriku. Aku menerawang dengan tatapan kosong. Aku adalah aku, bukan aku anak dari siapa. Bukan aku harus seperti siapa. Bukan aku yang harus disetir untuk menjadi apa.

   Aku hanya tak ingin hereditas ini terlalu aku angkuhkan. Dan lelaki hebat itu mengizinkanku untuk menentukan tujuan hidup  dengan caraku sendiri. Beliau adalah tipikal orang yang tidak terlalu banyak mencampuri proses pencampaian ini. Ia tak banyak memaksakan perihal hereditas profesi yang harus disamakan antara ayah dan anak. Karena dia yakin jika “anaku kelak akan menjadi orang hebat dengan jalan mereka masing-masing”.


    Namun kini aku merasakan metamorfosis secara sempurna. Aku bukanlah lagi seorang kupu yang berpura-pura. Aku menelusuri medan peran dimana tak ada satu orangpun mengenal aku siapa. Lain halnya dua hingga tahun yang lalu, dimana ada persahabatan yang terbungkus rapi dengan persaingan, dimana ada masa kejayaan yang bertopeng dengan keterpurukan. Sungguh, panggung sandiwara disaat itu sangatlah elok dimainkan.

   Ya, itu dulu, dan kini aku sudah berbeda. Pencapaian aktualisasi ini hanya ingin aku persembahkan untuk tuhanku yang maha hebat. Kau kembalikan aku lagi sama halnya setitik nila. Kau bersihkan niat dan hati ini bagaikan kertas putih, lalu engkau persilahkan untuk memulai kembali proses ini untuk lebih mengenal tuhanmu lebih dekat. Terima kasih Tuhan, aku sudah berbeda. Aku semakin memahami bahwa bahwa semua amalan dalam kehidupan ini untuk apa, dan kembali kepada siapa. Tuhan maha luar biasa, engkau menjadikanku semakin berbeda. 


Ruang Konseling sembari menunggu suami tercinta, 18.00:  27 Februari 2015

1 comment: