Sunday, 12 July 2015

EVALUASI KINERJA ISTRI SELAMA 1 SEMESTER PERIODE SEUMUR HIDUP

          Menyendiri merupakan cara yang paling tepat untuk bermuhasabah diri, merenungi perjalanan hidup yang sangat perlu diperbaiki dengan tujuan intropeksi diri. Saat yang seperti ini rupanya moment yang sangat tepat untuk mengevaluasi kinerjaku sebagai seorang istri selama kurang lebih 10 bulan ini. Saat dimana kita berjauhan dengan suami untuk sementara waktu menjadikanku mencoba untuk men flash back perjalanan bahtera rumah tangga kami. Ah, belajar teori rupanya jauh lebih mudah dari pada belajar mengaplikasikanya. Seperti yang saya lakukan selama ini, terdengar begitu wah namun belum sepenuhnya bisa dibilang sempurna untuk kalangan manusia biasa. Saya mencoba menulis segala sesuatunya untuk dapat dibenahi, agar nantinya dapat dijadikan sebagai alarm pengingat  suatu saat nanti.

          Saya akan memulainya dengan sebuah cerita nyata yang akan saya samarkan data empiriknya. Sebut saja seorang pejabat kaya yang kenal dekat dengan keluarga kami  mengalami berbagai  ujian yang beruntun. Ketika si pejabat meninggal, kedua anaknya mengalami berbagai masalah yang pelik. Anak pertama terlilit banyak hutang, anak kedua hamil di luar nikah sebelum selesai sekolah. Setelah beberapa tahun, kondisi semakin membaik dengan bantuan warisan dari sang ayah. Namun setelah itu cobaan kembali datang dari menantu dan cucunya. Si cucu mengalami tindakan asusila dan si menantu terlibat kasus yang serupa. Begitu seterusnya hingga anak cucu si pejabat ini mengalami berbagai musibah yang tak kunjung reda. Usut diusut semua berawal dari pencarian rizki yang tidak bersih. Kami berharap semoga hasil dari ujian hidup ini Allah akan memberikan kehidupan yang lebih baik sampai akhir hayat.

         Dari kisah tersebut itulah mengapa ibu-ibu kami selalu menasehati, janganlah menuntut berbagai macam materi yang tidak dimiliki suami. Terutama tuntutan sekunder, hanya semata untuk gaya hidup yang jatuhnya hanya untuk ajang pamer. Melainkan tuntunlah suamimu untuk mengais rizki yang halal dan bermanfaat untuk masa depan. Awal pernikahan kami, saya memang tidak menuntut macam-macam kepada suami saya. Hanya saja suka sekali menuntut untuk jalan-jalan (ya sama aja sih hehe). Lantaran kota yang kami tempati ini sangat minim dengan wisata alam. Hiburan satu-satunya adalah jalan-jalan dan nonton di Mall yang cenderung menghabiskan biaya yang mahal. Hal inilah yang pertama kali membuat saya mengalami culture shock. Saya yang cenderung lebih menyukai wisata alam yang cenderung murah meriah, kini harus dihadapkan dengan realita “Hidup di kota Metropolitan”.  Namun sebenarnya itu bukanlah hal yang perlu dipermasalahkan. Permasalahanya hanya ada dimana kita lebih memilih bersyukur atau tidak. Saya banyak belajar dari ibu mertua saya yang sama-sama merantau mengikuti suami. Buktinya Alhamdulillah ayem tentrem sampai sekarang. Itulah mengapa mengelola mindset jauh lebih sulit dari pada mengelola planning. Untuk jadi bahagia cikal bakalnya cuman satu, yaitu akal fikiran. Lulusan psikologi seperti saya saja juga perlu waktu untuk menguasainya, perlu proses untuk memaknai hidup secara mendalam agar bahagia ini dapat diciptakan.

          Jika mindset sudah dikelola dengan baik, jangan lupa mengelola kesehatan jasmani rohani. Saya semakin sadar bahwa sehat itu mahal setelah pertama kalinya saya dirawat di rumah sakit.  Untuk itu kita perlu investasi sebanyak-banyaknya demi kesehatan. Perlu banyak belajar bagi saya untuk menyediakan pola makan yang sehat setiap hari. Sebenarnya menu makan yang sehat itu tidak perlu yang mahal. Cukup menyediakan buah dan sayur setiap hari sebagai investasi masa depan. Rasanya masih saja tergiur dengan junk food dengan nominal harga yang lebih mahal dibandingkan dengan papaya yang harganya tak seberapa, tidak akan menguras gaji selama sebulan. Meluangkan waku 10 menit saja untuk berolah ragapun rasanya masih tidak mampu. Paling tidak setelah bangun tidur kita beryoga sambil berdzikir untuk mengurangi tingkat tekanan stress sebelum beraktivitas. Hal sekecil ini kok masih sulit sekali untuk diterapkan ya, ckckck. Kembali ke akar permasalahanya adalah mindset. Begitu cerdiknya media menstimulus persepsi kita agar suatu hal yang tidak baik menjadi sesuatu yang menarik. Membangun konsistensipun memerlukan pengaturan pola pikir. Begitu luar biasanya Tuhan menciptakan organ tubuh yang bernama otak untuk mengendalikan hidup kita. Masya Allah…

           Belum lagi nanti ketika Allah menghendaki kita untuk LDM (Long Distance Married)  sementara waktu demi tercapainya cita-cita dan harapan bersama. Akan ada lagi berbagai macam proses yang harus dilewati. Yang paling utama adalah membangun kepercayaan, dilanjutkan dengan skill berkomunikasi dengan baik. Jika biasanya segala masalah kita dapat selesaikan dengan cara pillow talk sebelum tidur, mungkin nantinya akan terjalin aktivitas phone talk sebelum tidur. Kami berdua selalu saling mengingatkan bahwa, menjadi pasangan suami istri itu layaknya memiliki sebuah pakaian. Ketika pakaian ini sobek, kita tidak perlu membeli pakaian yang baru melainkan kita harus menjahitnya untuk dikenakan kembali. Ketika pasangan kita memiliki kekurangan, kita tentunya tidak mencari yang lain melainkan kita perbaiki bersama-sama demi tercapainya keluarga yang sakinah mawaddah warahmah. Ditambah lagi kehidupan modern yang semakin pelik, penuh dengan problematika sebagai indikasi  akhir zaman. Hanya keimananlah yang mampu menyelamatkan. Dimana kita harus selalu senantiasa sadar, bahwa setitik nilapun akan kembali kepada sang pencipta. Kita harus semakin tersadarkan bahwa hidup itu untuk apa dan akan dibawa kemana. Tujuan mulia kita untuk menuntut ilmu dan mengais rizki itu nantinya akan dibawa kemana. Tentunya berbekal prinsip Khairunnas Anfauhum Linnas.


            Semoga Allah selalu meridhoi langkah mulia kami. Tidak mudah untuk mencapai predikat sebagai istri solehah. Jika ada yang mendoakan, aminkanlah sepenuh hati. Tidak ada perguruan tinggi yang menyediakan jurusan pendidikan istri solehah, karena pendidikan ini luar biasa tidak bisa dibayar dengan harta apapun. Semoga kita sebagai kaum hawa kelak akan mencapai tingkatan sebagai istri solehah. Amiinnn Ya rabbal alamin

1 comment: