Thursday, 20 August 2015

DIA BERNAMA SAHABAT



Di hari kelahiranmu ini, aku tak ingin mengungkapkan seperti biasanya. Tidak akan ada kue ulang tahun dariku seperti yang kita rayakan 1 tahun silam. Tidak ada pula publikasi dunia maya seperti yang orang lain lakukan. Aku hanya ingin kita berdua saja yang tahu karena persahabatan bukan hanya sekedar publikasi, melainkan esensi. Persahabatan bukan sekedar mengisi waktu, melainkan ikatan batin.
Masih ingatkah gelagat polos kita 6 tahun silam? Tepat disaat kita memiliki nasib yang sama, memutuskan untuk meninggalkan penjara suci dimana kita telah bersemayam selama 7 tahun lamanya. Lalu kita mencoba menuntut ilmu dalam suasana baru, di perguruan tinggi yang sama, dan juga.... status yang serupa sebagai anak emas dari seorang pendidik di kampus kita.
Diawal pertemuan, aku menyambutmu sebagai kawan yang menyenangkan, karena kamu tidak banyak bertingkah. Kamu adalah pendengar baik yang selalu mendengar cerita bualku. Cerita yang dulunya tabu bagimu. Kuceritakan kisah ketertarikanku pada seorang pria dengan penuh agresif. Dan kamu meresponya dengan sikap yang pasif.

Namun semakin lama kamu menjadi teman yang membosankan. Hei, sekarang kita harus menikmati masa pubertas kita bukan? Mengapa kamu hanya terdiam? Aku rindu sesuatu yang gila, seperti yang kulakukan dulu di penjara suci itu. Sesuatu yang menghebohkan, agar kita semakin diperhatikan oleh banyak orang. Tapi kamu bukan tipikal sepertiku. Bagiku dulu kamu bagaikan putri raja, selalu memegang teguh norma-norma, dan tentunya selalu menjaga nama baik keluarga. Ah, aku semakin tak tertahankan melampiaskan kegilaan ini.
Lalu akhirnya akupun berupaya melepaskanya. Jujur saat itu aku sedang malas masuk kelas, terlebih harus bertemu dengan dosen yang membuatku lemas. Dengan segala upaya aku mengelabuimu untuk keluar dari kelas. Namun kamu tak terpengaruh. Ya sudahlah, aku mencari angin segar seorang diri. Akupun bereksplorasi mengelilingi kota baru ini. Ini namanya kebebasan, ungkapku saat itu. Aku selalu berharap, kita melakukan kegilaan ini bersama-sama. Karena aku butuh partner untuk bekerja sama. Awalnya aku hanya ingin mempengaruhimu, namun semakin lama kita menjadi terpengaruh satu sama lain. Kamu yang pemalu semakin tampak lebih ekspresif. Aku yang agresif belajar banyak darimu bagaimana bersikap manis. Ini baru perpaduan yang sempurna! Sungguh aku menyukainya, dan akan selalu menyukainya. Sampai pada akhirnya semua ini terobrak abrik oleh mulut-mulut manusia.
Bagiku ini hal yang sangat menyebalkan. Aku paling tidak suka untuk dibanding-bandingkan. Kelekatan kita sebagai sahabat yang tak terpisahkan keberadaanya, NAYA-AYA, menggeliat fikiran licik manusia untuk mencari celah diantara kita. Kita bukanlah barang dagangan untuk dibanding-bandingkan, hati kecilku bergejolak histeris.
Namun akhirnya hawa nafsu ini semakin berupaya mengelabui. Kita bersahabat bagaikan bermain sandiwara. Awalnya kita berlomba-lomba untuk kebaikan bersama, lama-lama kita bersaing demi sebuah martabat manusia. Apa hanya aku saja yang merasakanya? Kamu tidak pernah mengakui, akupun juga begitu. Hingga akhirnya aku lelah ingin turun dari panggung. Panggung yang memaksa kita untuk bermain drama. Kuputuskan untuk tidak mengikutimu untuk melanjutkan jenjang ilmu yang lebih tinggi saat itu.
Barangkali Allah merencanakan sesuatu yang berbeda. Aku yang akhirnya terlebih dahulu melepas masa lajangku, kamu pun yang akan terlebih dahulu meraih impian bersama kita, tentunya sebagai seorang dosen. Lalu Allah memisahkan kita pada kota yang berbeda. Kota yang tidak bisa ditempuh hanya dengan 10 menit seperti dulu aku menghampirimu dari kampus kerumah papa. Awalnya aku begitu bahagia karena akan terlepas dari belenggu ikut campur manusia akan persahabatan kita. Kita bebas mengesplorasi diri kita masing-masing. Kita akan menunjukan siapa kita yang sebenarnya.
Namun...saat pertama kali menginjakan kaki di bumi yang asing ini, salah satu yang aku harapkan adalah keberadaanmu. Siapakah orang pertama kali menenangkan ketika aku dicampakan? Kamu. Siapa yang pertama kali menjadi tempat beradu ketika hati tersakiti? Yaitu kamu. Dan siapa lagi yang selalu mengingatkan kecerobohanku dan kemalasanku kalau bukan kamu? Walau sepantasnya tempat beradu hanyalah kepada Allah semata, barangkali  Allah menciptakanmu sebagai perantara penyembuh hati yang keruh ini kepada sahabat seperti dirimu. Kelak ketika aku memiliki buah hati, mungkin namamu yang akan sering aku ceritakan tentang siapakah yang selama ini menjadi sahabat bunda. Siapakah selama ini banyak  mengajarkan bertutur kata halus kepada bunda. Siapa pula yang selama ini menjadi kawan yang sangat berpengaruh besar bagi kesuksesan bunda.
Kawan, terima kasih sudah meladeni sifat keras kepalaku selama ini. Terima kasih sudah banyak bersabar mendengar kata-kataku yang sering menyakiti hati. Terima kasih atas waktu yang sudah banyak engkau luangkan untuku. Terima kasih atas sikapmu yang selalu menenangkan walau aku seringkali mengusik segala sesuatunya.  Ibarat kaca, engkau bagaikan refleksi. Refleksi yang memantulkan jiwa kebaikan kepada diri ini. Sejujurnya aku masih tak mampu membalas atas kebaikanmu selama ini, karena bisa jadi tak terhitung lagi berapa jumlahnya. Aku bersyukur Tuhan telah mempertemukan sahabat sepertimu, dan berharap semua ini tak akan pernah terlekang oleh waktu. Happy Birthday my BESTIES, ISNAYA ARINA HIDAYATI, S.Pd.I, S.Psi, M.Si, S.Tri wanna be...we wish u all the best dunia akhirat amiinn :*

0 comments:

Post a Comment