Saturday, 3 October 2015

Lost of my Dream Cacther

Tonite honestly I dont have any idea for writing something. Saya cuman kepengen melampiaskan perasaan hati saya yang sedang tidak mendewasa akhir-akhir ini. Entah karena apa, bisa jadi saya sedang merindukan atmosfer kehidupan di masa lalu. Ah, bukan berarti saya tidak move on, mungkin banyak faktor yang menstimulus saya untuk me-recall memori yang berkaitan tentang ini.

Saya masih ingat ketika SD dulu, dunia musik sedang dihebohkan oleh band asal Irlandia, Westlife. Lagu-lagu popnya seolah menyihir para remaja khususnya kaum wanita untuk mengidolakan boyband dengan 4 personil ganteng. Saya termasuk anak bawang yang terlalu dini untuk mengidolakan boyband tersebut pada  jamanya. Entah dapat angin darimana, padahal tidak semua teman di SD saya tahu tentang boyband tersebut. Alhasil saya jadi hafal semua lagu-lagunya. Saya semakin tertarik dengan bahasa Inggris sampai-sampai saya minta ayah saya untuk mengijinkan les private bahasa Inggris. Dari situ saya excited sekali dengan bahasa Inggris.

Ketika beranjak remaja, saya semakin mencintai bahasa Inggris. Kelak saya ingin melanjutkan studi saya di Malaysia, berhubung saat itu ustadzah kami lulusan International Islamic University of Malaysia jurusan Psikologi. Dari situlah saya mulai bercita-cita untuk going abroad. Banyak teman yang bertanya-tanya, kenapa tidak mencoba melanjutkan di timur tengah seperti ayah saya. Gak tau juga sih, abah tidak pernah mensuport kami untuk melanjutkan kuliah disana. Cuman memang abah banyak bercerita tentang pengalaman hidupnya, kisah cintanya, cieaaaahhhhhh. Bagi saya waktu itu terkesan no sense dan tidak berminat sama sekali untuk melanjutkan di timur tengah.

Saat di bangku kuliah, saya banyak terlibat di project internationalnya kampus saya. Entah itu berupa seminar, MOU, sampai mengajar anak-anak palestine jordania yang kuliah di kampus saya. Dari situ saya makin aware kalo passion saya di bidang international. I really enjooyyyy it...Hingga akhirnya saya merambah di organisasi international, saya cicipin student exchage untuk memperluas wawasan international saya. Saya rajin banget bolak balik kampung Inggris Pare untuk memperlancar bahasa Inggris saya. Saya rajin apply international conference, rajin kepoin informasi-informasi yang ada di facebook maupun twitter. Tapi kesempatan buat going abroad masih terbatas. Apa mungkin semenjak lingkungan saya support passion saya, ini jadi bikin saya buat terus goin extra miles untuk mencapai cita-cita saya.

Setelah menikah, tidak ada yang berubah dari passion ini meski waktu saya banyak disibukan dengan aktivitas lainnya. Suami saya support untuk membiayai IELTS course di suatu lembaga di tempat kami tinggal, kebetulan saya pindah ke palembang setelah menikah. Saya juga rajin bertanya kepada ayah mertua saya yang kebetulan mengambil short course di Belanda untuk penelitian desertasinya. Selain itu, kebetulan saya bekerja di sekolah International dimana sekolah ini setiap semesternya selalu ada project international untuk murid,guru akan mendampingi murid selama project berlangsung. Sekolah saya juga merupakan  salah satu dari 4 sekolah di Indonesia yang ditunjuk sebagai pilot projectnya Apple sebagai media pembelajaran di sekolah. Alhamdulillah ya, bahkan setelah menikah pun lingkungan always support passion saya di bidang international.

Tapi, entah akhir ini saya mulai merasakan kegalauan. Saya merasa bahwa keinginan saya untuk study abroad masih belum tercapai. IELTS score saya masih jauh untuk mencapai standar untuk jurusan humaniora. Saya juga merasa bingung untuk melangkah dari mana. Diam-diam saya langganan notifikasi akun facebook dosen idola saya, ibu Yayah. Saya kagum dengan kecerdasan dan wawasan international beliau. Selain itu, teman-teman saya juga sudah jauh melangkah lebih awal dari saya. Teman sekamar saya waktu student exchange di Bangkok, sudah lebih dulu melanjutkan studi s2nya di Belanda. Adik tingkat saya yang justru termotivasi dari saya bahkan lebih dahulu melanjutkan studi di Korea Selatan.

Awalnya saya hanya ingin melanjutkan studi saya di luar negeri, namun karena keputusasaan saya sendirilah yang mengubur cita-cita saya. Saya putuskan untuk mendaftakan studi di UGM untuk s2 saya, semoga saja itu adalah pilihan terbaik. Sebagai penghibur hati, kelak saya berharap saya tetap aktif di bidang international. Saya ingin mempresentasikan research saya kelak di luar negeri, menghadiri International Psychology conferences di luar negeri.

1 comment: