Thursday, 19 May 2016

SURVIVE

Disaat menginjak 7 bulan, tiba-tiba sakit gak disangka-sangka dateng. Padahal dari trimester pertama gak pernah yang namanya muntah2 sampai asam lambung perih. Disitu Allah menguji dengan keadaaan satu rumah sama-sama sakit, aku sakit dan simbah juga sakit. Tapi simbah dekat dengan tetangga dan anak-anaknya. Sementara aku di jogja ini, jauh dari suami dan keluarga harus menempuh jarak 3 jam untuk pulang. Ada kalanya kita gak enak jika ngrepotin teman. Jadinya diatas kasur bawaanya nangis dan nangis. Simbah sudah dibawa ke dokter oleh tetangga sementara aku masih terkapar diatas kasur. Terbesit untuk menyalahkan keadaan. Tapi ini semua adalah keputusanku dan aku harus terima resiko yang ada. Aku tarik nafas panjang. Jika aku hanya menangis saja itu justru akan memperburuk keadaan buah hatiku. Kudoakannya terus menerus sambil mengelus perut yang kian membuncit. Lalu kupaksakan bangkit dari kasur. Mengambil kuncir.  Berdiri dengan tegar. Merebus roti dan air panas dengan nafas terengah-engah. Ibu bilang jika sudah menjadi ibu, segala perasaan sakit harus diterjang dengan sugesti yang baik. Sehat sehat sehat. Itu yang selalu ibu lakukan meskipun panas badan ya sangat tinggi, tapi ibu tak pernah bermanja diri ketika sakit. Kuikuti nasehat beliau. Aku selalu yakin Allah tidak akan memberikan beban kepada hambanya kecuali sesuai dengan kemampuannya. BANGKIT. jangan merepotkan, dan jangan mau dimanja keadaan. Ini masih awal. Kelak ketika sang buah hati terlahir di dunia ini, ketegaran harus dibangkitkan beribu kali lipat demi anak dan suami. Terima kasih ibu. Engkau bangkitkan jiwa semangat ini. Mari bangun, bangkit, makan yg banyak, minum vitamin, selesaikan tugas kuliah, insya allah tahun depan toga terpasang kembali ditemani oleh sang suami dan buah hati. Qawwini ya Rabb... Amin

1 comment:

  1. mbakkkk.... kok gak ngabarin sih,.... sopo tau ak bisa bantu mbakkkk,,,, jadi saiki piye?

    ReplyDelete