Thursday, 15 March 2018

NHW I - ADAB MENUNTUT ILMU



1.    Jika saya diijinkan untuk menentukan satu jurusan di universitas kehidupan ini, maka saya ingin menekuni jurusan psikologi pendidikan dan perkembangan melalui ibu professional.


2.    Bagaimana saya menggambarkan jurusan ibu professional itu? Saya teringat akan kalimat yang pernah ibu Septi sampaikan dalam sebuah seminar: seorang ibu merupakan seorang ahli dari segala bidang. Ia adalah seorang dokter ketika anaknya sakit, menjadi seorang guru bagi anak-anaknya, seorang chef untuk memenuhi kebutuhan perut keluarga, ahli finansial, manajer, dan masih banyak lagi. Mungkin ini menjadi sebuah alasan bahwa untuk menjadi seorang ibu profesional tidak ada jurusan yang tersedia dalam perguruan tinggi formal, melainkan hanya ada dalam universitas kehidupan. Kehidupan nyata, kehidupan yang penuh kompleksitas, kehidupan yang menuntut kita sebagai ibu untuk terus banyak belajar menjadi seorang ibu profesional. Jurusan Ibu profesional menurut saya bukan berarti jurusan yang menuntut kita untuk menjadi ibu yang sempurna, tetapi jurusan ibu profesional adalah jurusan dimana setiap ibu belajar untuk menjadi pribadi yang lebih baik sehingga berpengaruh positif pada anaknya, keluarganya, bahkan bagi bangsa dan negara. Maka tidak heran jika ibu merupakan tiang dari suatu negara. Para pemimpin yang tangguh dan jujur berasal dari para ibu yang hebat. Pendidikan ibulah yang menentukan generasi kita yang akan datang.
3.    Strategi saya untuk menekuni jurusan ibu profesional dan implikasinya dalam kehidupan adalah sebagai berikut:
a.    Menambah wawasan dan ilmu secara teoritis dengan cara membaca beberapa referensi buku dan jurnal yang berkaitan dengan bidang-bidang yang tersedia di jurusan ibu profesional. Misalnya untuk memperdalam materi pada bidang gizi, saya perlu banyak mereview bacaan mengenai pola makan dan gaya hidup yang sehat. Untuk memperdalam materi di bidang parenting, saya banyak mengikuti beberapa seminar atau kajian dan tidak lupa membaca beberapa referensi buku/jurnal untuk memperdalam informasi yang diterima.
b.    Melaksanakan ilmu secara praktis dalam kehidupan sehari-hari. Seperti kata pepatah; ilmu tanpa amal bagaikan pohon tak berbuah. Oleh sebab itu saya harus memiliki plan list agar semua bidang-bidang yang diajarkan di jurusan saya dapat terealisasikan dengan baik. Selain itu perencanaan juga memerlukan evaluasi agar kita dapat menilai hal-hal apa yang perlu diperbaiki dan perlu dipertahankan.
Misalnya saya ingin menggambarkan bagaimana membuat tabel plan list dan evaluasi untuk mengoptimalkan ilmu yang saya amalkan di jurusan ini:

Jurusan : Ibu Profesional
Bulan
Bidang yang ingin ditekuni
Tahap Realisasi
Evaluasi
Januari
Pola hidup Organik
Meminimalisir penggunaan plastik dan pampers
-masih sering lupa bawa wadah
-anak lulus toilet raining (bebas pampers

Setiap hari harus menyediakan sayur dan buah di meja makan


Menanam sendiri bahan2 dapur di pekarangan rumah

Keagamaan
Mengikuti kajian seminggu sekali



Tadarus setelah maghrib dan subuh bersama suami dan anak
Masih belum konsisten, tidak tega membangunkan anak saat subuh

Tabel diatas hanya sekedar contoh bagaimana saya dapat mengoptimalkan ilmu yang saya dapatkan selama menekuni bidang-bidang di jurusan ini. Menurut saya, perencanaaan seperti adalah hal yang sangat penting supaya kita dapat mengevaluasi diri kita dan aktivitas yang sudah kita lakukan selama ini. Selain itu, anggota keluarga seperti suami juga bisa menjadi pengingat ketika kita belum bisa konsisten dalam suatu hal. Seperti sangat menyenangkan jika dalam rumah tangga satu sama lain bisa saling mengingatkan untuk suatu kebaikan.
4.    Bagi saya, perubahan sikap yang harus diperbaiki untuk proses menuntut ilmu adalah:
a.    Sikap religiositas. Sikap religiositas mempengaruhi tujuan seseorang, keputusan, motivasi, dan kepuasan (Johnstone, dalam Alam, 2011). Religiositas atau beragama merupakan landasan yang harus dimiliki seseorang dalam menuntut ilmu, sehingga kita dapat memaknai tujuan kita berilmu adalah semata untuk Allah SWT. Landasan syariat agama mengantarkan seseorang untuk memahami esensi dari menuntut ilmu. Oleh sebab itu, jika berilmu tapi menunjukan sikap sombong, apatis, tidak menghargai pendapat orang lain, bisa dikatakan ilmu tersebut tidak memiliki landasan sikap religiositas. Karena perilaku tersebut tidak mencerminkan moral seseorang beragama.
b.    Istiqomah atau konsisten. Pada kenyataanya mencapai prestasi itu lebih mudah daripada mempertahankanya. Begitu pula dengan mengamalkan ilmu yang ada di jurusan ibu profesional ini. Dibutuhkan adanya sikap konsisten untuk mencapai tujuan yang diharapkan dengan memulainya konsisten terhadap hal-hal terkecil.

Sumber:
Alam, S. S., Bohd, R., & Hisham, B. (2011). Is religiosity an important determinant
on Muslim consumer behaviour in Malaysia?. Journal of Islamic Marketing, 2(1),
83-96. doi: 10.1108/17590831111115268

0 comments:

Post a Comment