Friday, 4 May 2018

SILATURAHMI KOMUNITAS HOMESCHOOLING PALEMBANG


Salah satu upaya saya untuk mengatasi kestressan tinggal di lingkungan baru adalah bersosialisasi dan mengikuti kegiatan positif di daerah setempat. Setelah 2 tahun menjalani masa LDR dengan suami (saya di jawa suami di sumatera), saya kembali tinggal bersama-sama suami di kota Palembang meskipun kami sudah pindah di komplek baru, sudah tidak di komplek pertama kali kita menikah. Beberapa upaya saya untuk bersosialisasi dan ikut kegiatan positif adalah dengan cara ikut arisan RT, nemenin anak ke TPA ( meskipun nggak ngaji cuman maen aja hehe), dan mengikuti komunitas parenting yang ada di palembang. Awalnya saya sudah cari-cari info dulu sebelum pindah untuk tahu komintas apa yang sesuai dengan passion dan misi hidup saya. Akhirnya saya memutuskan untuk gabung di komunitas homeschooling, IIP Palembang, dan komunitas Playdate Palembang.



Well, saya ingin sedikit (banyak kalik haha) bercerita tentang kegiatan yang sudah mulai saya ikuti di komunitas yang saya pilih. Pertama adalah dengan gagah beraninya saya mengusulkan diri untuk menjadi tuan rumah forum silaturahmi komunitas HS palembang yang saya ikutin. Habisnya grupnya kok sepi amat yaa..gak seperti yang saya bayangkan sebelumnya. Gak seperti komunitas HS di Jawa ( seperti semarang dan salatiga) yang punya aktivitas yang super duper keren. Ah sudahlah gak usah banding-bandingin. Saatnya mulai dari diri sendiri hahay...

Yatsudahlah...setelah rembukan kurang lebih dua bulan lamanya, akhirnya rencana saya menjadi tuan rumahpun terlaksana. Meskipun...yang datang cuman 3 keluarga dari 15 keluarga hahahaa..gapapalah, yang penting sudah diniatkan untuk berkontribusi dan silaturahmi biar nambah temen seprinsip. Selain itu ada manfaat lain juga yaitu memfasilitasi archy untuk menambah relasi teman hehee..dan justru dari melihat anak-anak bermain itulah saya menjadi banyak belajar mengamalkan ilmu saya sebagai orang tua.

Ya, seperti yang kita ketahui bahwa setiap anak bermain selalu tidak terlepas dari keributan, berantakan, teriakan, rebutan mainan, dan pastinya adalah kebahagiaan yang selalu terpancar. Memang, pada dasarnya bermain merupakan cara terbaik anak untuk bereksplorasi, mengekspresikan emosi, sehingga anak-anak akan lebih sehat baik secara fisik maupun mental.
Okey, dari mengamati anak-anak asik kruwelan bermain itu saya dapat mengambil pembelajaran manfaat bermain dengan anak lintas usia, budaya, dan orang tua. Diantaranya adalah melatih responsibility, sense of belonging, dan social skill anak. Baiklah, kita coba deskripsikan satu persatu yaakk...
  1. Melatih responsibility. Saat anak bermain, hal yang tentunya akan selalu kita temui adalah menemukan mainan mereka berantakan dan berserakan dimana-mana. Mau itu mainanya sendiri maupun mainan milik temanya. Mari kita latih anak untuk membereskan barang yang sudah mereka mainkan supaya anak terlatih untuk bertanggung jawab merapikan kembali mainan-mainan tersebut. Baik di rumah sendiri atau di rumah orang lain, biasakan orang tua untuk ikut terlibat dalam membereskan mainanya, supaya anak-anak selalu terbiasa tidak asal nyelonong pergi dan pamit tanpa membereskan mainanya terlebih dahulu. Selain mengajarkan anak adab bertamu. meski pada dasarnya dunia anak adalah bermain, namun kita harus tetap mengajarkanya adab sopan santun dengan penuh kasih sayang
  2. Melatih sense of belonging anak. Sudah dipastikan kalo udah mainan itu selalu ada adegan rebutan maenan. Kadang ortu juga bingung mau ngebelain anaknya atau disuruh ngalah terus. Kalau saya pribadi, saya mencoba melatih Archy untuk kenal ini maenan milik siapa. Kalo bukan milik archy, archy harus ijin dulu sama yang punya. Kalo dibolehin pinjam, saya ingatkan kalo habis maen harus dikembalikan ke pemiliknya kalo diminta. Kalo gak dibolehin, saya coba alihkan dia ke hal yang lain supaya dia bisa menerima. Sebaliknya, kalo maenan Archy mau direbut temenya, saya beri ruang waktu sebentar untuk berdamai. Saya kasih arahan ke temenya yang merebut mainanya kalo ini maenan archy maka harus ijin dulu. Kalo udah dikasihkan ke Archy, saya bilang ke Archy kalo maenanya gak boleh dipinjemin saya suruh simpen maenanya ke dalam kamar atau ke dalam tas mamanya. Ada kalanya anak juga harus mempertahankan apa yang dia miliki dan ada kalanya dia bisa sharing dengan apa yang dia punya. Kelak hal terebut dapat melatih anak untuk tidak mudah terkena bully. Kalo orang tua selalu membiasakan anak buat disuruh ngalah terus menerus, maka anak akan belajar mengalah dalam segala macam hal, bahkan dalam situasi yang mengancam. Dia juga harus punya self defense untuk mempertahankan hak yang ia miliki. Maka kita sebagai orang tua harus banyak-banyak melatih diri untuk mengarahkan sense of belonging pada anak.
  3. Melatih social skill. Ada suatu cerita tentang seorang ibu yang marah ketika si anak memanggil namanya dengan sebutan kau. Si ibu bilang itu tidak sopan. “Ini nih gara-gara dia tinggal di lingkungan gak baik jadi ikut-ikutan ngomong kasar kayak temenya” Namun tiba-tiba saya mendengar bahwa justru teman anak si ibu juga selalu bilang kata “kau” ke siapapun yang ia sapa. Ternyata ibu dari anak ini memang orang asli sumatera jadi biasa saja kalo anaknya berkata seperti itu, sementara ibu yang marah saat anaknya bilang kau itu berasal dari jawa dimana kata tersebut tidak sopan untuk disampaikan. Saya mengambil pelajaran dari hal tersebut adalah orang tua semestinya tidak perlu reflek marah dengan perilaku anak yang tidak pernah ia harapkan dan bahkan tidak ia ajarkan. Orang tua mencari tau kenapa anak bisa berperilaku seperti itu. Kemudian ortu bisa menasehati kalo hal tersebut adalah budaya (termasuk bahasa) temen kakak, kalo orang tua kakak berasal dari budaya yang berbeda, jadi kakak juga harus tau kalo ibu gak suka kalo kakak bilang gitu ke ibu. Dari situ anak akan belajar makna toleransi. Jika kita saklek mengatakan salah pada anak, maka anak pun merasa bingung dimana titik kesalahanya. Belajar menjadi orang tua yang bijak, tenang, dan komunikatif merupakan kunci untuk melatih anak memecahkan masalah dan menghadapi situasi-situasi baru dalam lingkunganya.


     Well, rupanya jika kita selalu berpikiran positif, akan banyak hal yang dapat kita jadikan pembelajaran dan terus berupaya mengupgrade diri kita untuk menjadi orang tua yang lebih baik. Semoga kadepanya bisa makin bersinergi dalam kegiatan-kegiatan positif lainya.  Ditunggu tulisan kegiatan #bundaproduktif selanjutnya yaa.. yang jelas makin seru dan bermanfaat. Salam bunda produktif J

0 comments:

Post a Comment