Saturday, 28 July 2018

HOMESCHOOLING ANAK USIA DINI (HSUD)


Beberapa waktu lalu, saya mengikuti webinar homeschooling yang diselenggarakan rumah inspirasi. Kebetulan saya punya banyak teman praktisi HS. Saya penasaran banget, kenapa sih mereka memutuskan untuk menyekolahkan anak mereka sama orang tuanya? bahkan ada yang mengorbankan pekerjaanya yang terbilang mapan dan menjadi dambaan banyak orang. Segitu besarnya HS menjadi influencer bagi para orang tua masa kini yang memaknai value pendidikan yang begitu dalam. Okelah, akhirnya saya mencoba ngubek2 materi HS di rumah inspirasi.

Btw, webinar HS rumah inspirasi terdiri dari dua kategori, yaitu kategori anak usia dini dan kategori sekolah dasar. Saya memilih kategori anak usia dini karena anak saya saat ini berusia mau dua tahun. Pada kategori HSUD, materi terdiri dari 4 sesi. Sesi pertama mengenai prinsip, tujuam, dan cara memulai HSUD. Sesi kedua terdiri dari kurikulum, materi belajar, dan resource HSUD. Sesi ketiga terdiri dari pola dan ide kegiatan HSUD. Serta poin keempat mengenai tips praktis menjalani HSUD. meski materinya hanya terdiri dari 4 sesi, tapi pembahasan tiap sesi dikupas secara tuuntas beserta Q dan A dari perserta. Jadi lumayan gempor kalo mau dihabiskan dalam sehari. Saya cerna dikit2 supaya bisa saya implementasikan di rumah dengan anak. saya benar2 mengapresiasi kerja keras mas aar dan mbak lala dalam mempersiapkan materi sebanyak dan sedetail ini. Jadi saya gak mau bocorin bahkan menjiplak semuanya disini. Saya hanya mereview sedikit dan memberikan tanggapan saya usai mengikuti webinar HSUD rumah inspirasi.
Well, sejauh ini yang saya fikirkan bahwa menjalankan HS adalah suatu hal yang rumit. Perlu kerja keras karena semua pelaksanaanya di handle sama orang tua, sementara kalo di sekolah enak segala urusan dihandle oleh guru dalam satu tim. Saya membayangkan itu akan menjadi sulit dan saya pasti gak bakalan mampu melaksanakanya. Apalagi cita-cita saya tetap ingin bekerja di ranah publik suatu saat nanti. Namun ternyata setelah mengikuti webinar, rupanya yang ada di fikiran saya itu masih terpaku pada kontenya saja, bukan proses pelaksanaanya. Pada dasarnya HSUD adalah proses orang tua membangun hubungan dengan anak dan menikmati kegiatan bersama dengan anak. Kita bisa menggunakan materi yang ada disekitar kita tanpa harus terpaku untuk membeli mainan yang mahal. Yang terpenting adalah bagaimana kita menikmati kegiatan bersama anak. Slow down, connect, dan enjoy.
Saya pernah menjadikan diri saya menjadi seorang ibu yang ribet. Menyusun lesson plan yang sepertinya bukan hanya memberatkan anak saja, tapi juga saya sendiri. Saat itu saya begitu menyadari bahwa saya terlalu terpaku pada lesson planya, bukan menikmati kegiatanya. Namun setelah mengikuti webinar, saya cukup menyajikan materi yang ada disekitar saya. Cukup menyampaikan hal yang mindfulness pada anak selama 30 menit dan dilakukan secara konsisten. Contonya adalah melakukan kegiatan membaca bersama, jalan sore bersama, dan memasak. Kita bisa mengajarkan banyak hal pada 3 kegiatan tersebut. Lakukanlah kegiatan sesedarhana dan senatural mungkin supaya anak dapat menikmati prosesnya.
Yang terpenting dalam menjalankan HSUD adalah tiga hal yaitu WAKTU, KOMITMEN, dan MINDSET mengenai belajar. Pada hakikatnya belajar merupakan proses untuk mempersiapkan anak dalam menghadapi kehidupan yang akan datang, bukan untuk mempersiapkan memperoleh nilai dan peringkat semata. Jadi biarkan anak berkembang sesuai dengan kepribadianya yang unik. jangan hanya semata terpaku pada hal-hal yang sifatnya akademis, tapi melupakan moment terpenting yang sangat dibutuhkan anak pada usia keemasanya, yaitu BONDING. Anak gak butuh ortu sepintar apapun dalam mengajar, yang anak butuhkan adalah orang tua yang memberikan perhatian penuh pada anak terutama pada tahap perkembangan emasnya (developmental milestone).
Selain itu, kurikulum HSUD juga sangat beragam. kita dibebaskan memilih kurikulum apa saja sesuai dengan kemampuan orang tua. Yang perlu digarisbawahi adalah kurikulum hanyalah sebuah panduan atau perencanaan agar anak belajar secara tertruktur. Tapi bukan berarti kita mau disetir kurikulum dalam pelaksanaanya. Kita harus mengikuti perkembangan anak yang berbeda-beda sehingga tidak menjadikan kurikulum sebagai subjek pendidikan, karena anaklah yang menjadi subjek kita dalam belajar.
Satu quote menarik yang saya dapatkan dalam webinar adalah”anak-anak memiliki potensi keingintahuan yang sifatnya alamiah. orang tua berperan sebagai fasilitator yang mewadahi rasa keingintahuan mereka, bukan secara khusus mengajarkan materi langsung ke anak”. Jadi biarkanlah anak mengembangkan kemampuan alamiah sebagai self initiative learner. jangan sampai kita mendekte, bahkan mempush anak untuk mencapai yang orang tua inginkan bukan yang anak butuhkan.
Mungkin itulah beberapa tanggapan saya mengenai webinar HSUD di rumah inspirasi. Gak nyesel ikutan webinarnya karena semua dikupas secara detail dan totalitas. Saya bukanya promosi ya, toh mas aar dan mbak lala juga gak kenal saya hahaa..saya cuman mau bilang kalo webinarnya recomended banget, bahasa mudah dicerna, semua sesi pertanyaan dikupas tutas satu persatu. Jadi bagi yang ingin atau sudah memulai HS, tetap knowledge is important. Jangan lelah mengupgrade diri dan mengupgrade ilmu-ilmu baru. Jangan lelah mencari tahu dan bertanya kepada sesama praktisi, bukanya malah mengunggul-unggulkan diri sendiri tanpa dibekali ilmu yang pasti. Oia lebih enak lagi jika menjalankan HS bersama dengan komunitas. Karena komunitas merupakan infrastruktur berjalanya HS. Biar ngerasa gak sendiri juga kan, ntar melow lagi hehhe...Pokoknya salut banget bagi para orangtua yang sudah menjalankan HS bersama anak-anaknya. Semoga berhasil hingga ke jenjang selanjutnya J


0 comments:

Post a Comment