Tuesday, 11 September 2018

Mengajarkan Sense of Belonging pada Anak


Sore ini aku mengajak Archy berkeliling komplek. Usia kehamilanku yang mendekati Hari prediksi lahir membuatku lebih rajin betolahraga, terutama berjalan kaki keliling komplek. Saat berkeliling, Archy bertemu dengan teman seusianya sedang bermain tembak-tembakan. Kemudian Archy ingin sekali ikut bergabung dengan sekumpulan anak-anak yang semuanya adalah laki-laki. 

Kemudian pada blok selanjutnya, Archy bertemu anak-anak yang sedang bermain sepeda. Salah satunya adalah teman Archy saat ikut nenek mengaji di TPA. Didekatinya oleh Archy lalu Archy memainkan bell yang ada di sepeda tersebut. Kebetulan ibu si anak yang juga ada disana menawarkan untuk sepeda anaknya dipinjamkan Archy. Awalnya saya menolak karena Archy hanya tertarik dengan bellnya saja. Namun lama kelamaan Archy jg ingin naek sepedanya.

"Archy ini punya kak akhtar nak..Archy kan punya sepeda sendiri di rumah"
"Udah biar gak papa tante, nanti nangis kalo dilarang" ujar ibu akhtar senantiasa menawarkan.
"Yasudah bentar saja ya Archy..soalnya ini sepedanya kak akhtar ya.."
"Iya ma.."

Namun lama kelamaan Archy tidak mau turun Dari sepeda tersebut sementara Akhtar sudah ingin memainkanya lagi. 
Saya bujuk Archy supaya lekas turun namun ia bersikeras tidak mau.

"Archy turun nak itu kak akhtar mau pake sepedanya.."
"Ndak mau..." Teriak Archy lantang.

Berhubung waktu juga semakin sore Dan mendekati maghrib, bujukan saya tetap saja tidak mempan, akhirnya saya memutuskan untuk menggendong Archy turun Dari sepeda.

"Archy, ini sepeda punya kak Akhtar mau diambil. Archy pulang dlu ya bentar lagi maghrib.."

Bismillahirrahmanirrahin kuangkatnya Dari sepeda Dan dia reflek menjerit minta turun. Sampai rumah ia tetap menangis minta kembali ke tempat bermain tadi.

Saya coba mengalihkan perhatianya dengan mengajak Archy bermain ke rumah nenek. Kebetulan om Archy sudah pulang Dari kampus sehingga Archy langsung tenang karena bermain dengan om raihan.
Usai salat maghrib, akhirnya saya ajak Archy pulang k rumah Dan kebetulan papa Archy baru saja pulang Dari kantor. Saya ceritakan kejadian tadi sore pada suami. 

"Pa, tadi Archy gak mau pulang karena masih mau pinjem sepedanya kakak akhtar. Padahal kakak akhtar mau ambil sepedanya..itu gimana pa? "
"Itu berarti Archy harus kasih sepedanya. Kan bukan punya Archy, sepeda Archy Mana? " Tanya papa ke Archy
" Itu peda.." kata Archy sambil menunjuk sepedanya di belakang
" Nah itu pinter...Archy kan punya sepeda sendiri, jadi kasian kalo masih pinjem ke kak akhtar, kan kak akhtar pengen maen juga..besok Archy bawa sepedanya sendiri ya nak..jangan pake punya kak Akhtar lagi'
Ujarku sambil menatap matanya
"Iya..." Ujarnya lirih

Anak usia 2 tahun memang masih memiliki ego yang tinggi dalam Hal kepemilikan. Jadi memang wajar jika superego nya belum banyak untuk bisa dikendalikan. Mengajarkan sense of belonging pada anak mengenai kepemilikan memang perlu, Dan komunikasi produktif lah yang mampu menyampaikan nya Dan perlahan lahan dapat diterima oleh anak.

Jika anak tidak ingin mainanya dipinjam, maka sebaiknya ia tidak menunjukan mainanya ke temanya. Dan ia belajar memutuskan Mana saja mainan yang bisa dipinjamkan Dan Mana yang tidak. Saat anak memainkan mainan orang lain, Kita perlu tegas jika itu adalah bukan barang miliknya Dan harus dikembalikan. Anak perlu Tau Mana yang menjadi miliknya Dan Mana yang tidak. Memang tidak mudah namun jika berupaya mengkomunikasikan dengan anak, saya yakin suatu saat nanti ia mulai membiasakan diri untuk tidak merebut mainan orang lain Dan dia belajar merawat Dan menjaga apa yang dia miliki.


#harikeenam11sept
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
#institutibuprofesional

0 comments:

Post a Comment