Saturday, 8 September 2018

SINERGI ORANG TUA: KUNCI SUKSES MEMBANGUN KOMUNIKASI PRODUKTIF DENGAN ANAK


It is weekend! Ya, siapa yang tidak suka dengan weekend. Terutama saya sebagai full time house wife rasanya senang sekali melihat suami berada di rumah. Biasanya kita banyak memanjakan diri di akhir pecan. Entah dengan berenang, berkeliling, jalan-jalan, atau hanya sekedar pergi ke pasar. Namun kali ini tidak lagi. Weekend adalah waktunya saya nginem pumpung suami bisa menemani Archy bermain disaat saya tinggal melakukan pekerjaan rumah tangga. Ya, semenjak saya sudah tidak ada asisten rumah tangga lagi, kini saya berbagi tugas urusan rumah dengan suami. Suami bertugas mencuci pakaian yang tinggal diputar dengan mesin cuci, sementara saya mengerjakanya sisanya. Tapi namanya juga naluri wanita, rasanya tetap gemas kalo kerjaan suami ada yang kurang optimal. Jadilah saya ikut membantu juga meski tak banyak.

Aktivitas pagi di akhir pekan yang begitu padat ini menjadikan saya tidak banyak berinteraksi dengan Archy seperti biasanya. Pagi ini Archy full bermain dengan papanya. Usai mandi dan sarapan, Archy diantar papa main ke tempat nenek. Sementara saya menyelesaikan pekerjaan rumah sejak pukul 6 pagi. Memasak, mencuci piring, menjemur pakaian, menyapu, mengepel. Menyiram tanaman, kemudian dilanjutkan dengan membuat pisang coklat untuk cemilan keluarga. Setelah selesai, saya merebahkan diri diatas kasur meluruskan kaki dan punggu bumil 37 minggu yang sering merasakan pegal setelah banyak beraktivitas.

Akhirnya bada zuhur Archy pulang ke rumah bersama papa. Rupanya dia tertidur di rumah nenek. Pantas saja lama. Saya sambut dia dengan pelukan. Rasanya lama sekali tidak bercengkerama dengan Archy padahal baru ditinggal beberapa jam.
“Archy udah bobok ya?”
“Udah..”
“Yasudah maem siang dulu yuk…”
“Iya ma..”
Kemudian saya suapi Archy dan Alhamdulillah ia makan dengan lahap. 

Sore harinya saya melanjutkan lagi menyelesaikan pekerjaan rumah yaitu menyetrika pakaian. Kebetulan ada sepupu Archy main ke rumah. Jadi sore ini Archy bermain dengan sepupunya. Saat setrikaan tinggal sedikit lagi, sepupu Archy pamit pulang ke rumah. Mulailah Archy mendekati saya dan minta dipangku,
“Hati-hati ya nak..setrikaanya panas..”
Tapi ia masih tetap rewel minta dipangku. Saya yang merasa tanggung akhirnya tetap membiarkan Archy duduk dipangkuan saya sambil ia memainkan headset yang saya pakai untuk mendengarkan musik. Alhamdulilah, beberapa menit kemudian setrikaan saya sudah beres. 

Meskipun hari ini intensitas komunikasi saya dengan Archy tidak sebanyak biasanya, namun saya tetap senang karena weekend adalah moment berharga suami untuk membangun kelekatan dengan Archy. Bagi saya, anak perempuan haruslah dekat dengan ayahnya. Ayah kelak akan menjadi figur laki-laki yang akan selalu melindungi anak perempuanya. Tugas saya adalah memastikan bahwa suami saya dapat berkomunikasi produktif dengan anak perempuanya. Jika suami sudah tidak sabar dan terkadang suka memberi punishment pada Archy disaat dia mengompol, saya ajak beliau untuk mengubah punishment tersebut menjadi reinforcement. Misalnya,

“Archy kalo pipis sembarang nanti gak usah tidur di kamar lo ya..”
Kemudian saya bisikan pada suami,
“Pa, gimana kalo diganti gini aja..Archy anak solehah kalo pipis di kamar mandi…tidak pipis sembarangan. Maklum pa lagi proses TT hehe..”

Begitulah adanya dalam menjalankan komunikasi produktif dengan anak. Kerjasama yang baik dengan pasangan merupakan kunci utama dalam menjalankan proses komunikasi produktif dengan anak. Dan tentunya tidak saling menjatuhkan dan mencibir, melainkan sama-sama bekerja sama untuk intropeksi diri dan saling mengingatkan bila ada kata yang salah.

#hariketiga8sept
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
#institutibuprofesional




0 comments:

Post a Comment