Friday, 7 September 2018

SOUNDING SEBAGAI PEREKAT PROSES KOMUNIKASI PRODUKTIF



Ini adalah hari keduaku kembali mengajar perkuliahan di tahun ajaran baru. Namun kali ini aku tidak akan lagi membawa Archy. Kuamati di hari pertama mengajaknya belajar, ia tampak begitu letih meskipun menunjukan raut bahagia. Lagipula aku akan lebih optimal mengajar meskipun ia tidak banyak rewel. Dan pertimbangan lainnya adalah usia kehamilanku yang sudah berada di minggu ke 37 membuatku terasa letih jika harus pontang-panting membawanya pergi.

Baiklah, selanjutnya aku akan kembali menitipkan nek ine-nya sebentar selama belajar. Alhamdulillah rumah kami berdekatan dengan rumah mertua sehingga kami banyak dibantu ibu mertua selama kami bekerja. Lagipula saya yang berstatus dosen luar biasa tidaklah setiap hari pergi ke kampus, jadi hanya sesekali kami menitipkan Archy ke ibu mertua.
Malamnya, aku mulai sounding Archy saat ia mulai terlelap tidur. Kubisikan di telinganya sambil mengelus kepala Archy,

“Archy, jadi anak yang baik ya nak. Besok mama ke kampus lagi sebentar. Archy di rumah sama nek-ine aja ikut nek-ine ngaji. Kasian kalo Archy ikut mama nanti Archy capek. Jadi anak solehah ya sayang..”

Ucapku lirih di telinganya sambil membacakan doa lalu meniupkanya di ubun-ubun kepala. Bagi saya, membacakan Archy buku cerita, membacakan doa, dan men-soundingnya di malam hari merupakan aktivitas yang seupaya mungkin saya dan suami lakukan untuk membangun kelekatan dengan Archy. Dengan itu kami dapat membangun budaya baik yang dapat kita lakukan sebelum tidur.

Keesokan harinya, seperti rutinitas keseharian saya dan suami membagi tugas di pagi hari. Suami memandikan Archy dan mengajaknya sarapan, semetara saya bertugas mengurusi urusan dapur dan mengupayakan rumah bersih sebelum kami tinggal pergi. Setelah Archy selesai mandi dan makan, suami siap mengantarkanya ke rumah nenek. Kemudian ia berpamitan dengan saya. Saya selalu berupaya memposisikan tubuh saya untuk sejajar disaat berbicara dengan anak sambil melakukan kontak mata.

“Archy, mau ngaji sama nek ine ya..selamat belajar ya nak..salim dulu…”
“iya ma, mikuum (assalamualaikum)..”
“walaikumsalam..”

Alhamdulillah, hari ini ia sudah mulai enjoy saya tinggal pergi. Sekarang saya bisa mempersiapkan diri untuk pergi ke kampus bersamaan dengan suami pergi ke kantor.
Usai mengajar, saya jemput Archy di rumah nek ine. Rupanya ia baru bangun tidur. Saya sudah penasaran cerita Archy selama mengaji.

“ Gimana tadi ngaji sama nenek chy?”
“ Archy pinter ma..tadi sempet gak mau ikut. Tapi ibuk gendong sambil diliatin perosotan di TPA Alhamdulillah langsung lupa nangis. Ada yuk sofi juga jadi dia tadi maen sama yuk sofi..”ujar ibu mertua melaporkan kegiatan Archy saat ngaji.
“Wah Alhamdulillah hebat ya Archy..tadi maen sama yuk sofi ya nak..”
“Iya..sowat (solat)”
“ooo.. paraktek solat ya tadi…pinter”
Pujiku sambil mencium pipinya.

“Tadi diajakin pipis gak mau…baru sambil dipuji anak pinter, anak solehah, yuk ke kamar mandi..eh baru mau..kalo cuman dibilang yuk pipis chy gak mau dia” kata ibu mertua selama melatih Archy toilet training. Alhamduliilah, sudah hampir 2 minggu ini Archy lepas pampers, dan bersyukurnya ibu mertua mendukung proses TT archy selama saya tinggal.
Saat mengajaknya pulang ke rumah, Archy bergegas memakai tas ransel yang masih saya bantu pakaikan dan ingin membantu memakai sepatu.

“Gak usah dibantu ma, tadi udah pinter pake sepatu sendiri kok. Ayo Archy gimana pake sepatunya..ayok duduk dulu..” ujar ibu mertua sambil meminta Archy duduk supaya mudah memakai sepatu. Saya terkadang malu jika masih belum konsisten membiasakanya mandiri. Alhamdulillah begitu bersyukurnya ibu mertua mengingatkan dan mengajarkan banyak hal proses belajar yang baik untuk Archy.
Beberapa detik kemudian Archy sudah bisa memasang sepatunya.

“Alhamdulillah..pinter ya nak. Yuk pamit dulu sama nenek Archy mau pulang. Salim dulu…”
“Mikum (assalamualaikum) nek…” kata Archy ceria.
“walaikumsalam…”

Begitu leganya hari ini melihatnya tetap bahagia dan semakin pintar meski harus saya tinggal pergi sebentar. Memang kekonsistenan dalam membangun budaya berkomunikasi yang baik pada anak merupakan suatu milestone yang menunjang proses perkembangan anak. Saya begitu bersyukur memiliki lingkungan keluarga yang mensupport proses ini terutama ibu mertua saya. Suasana hati seorang ibu yang terkadang masih dikuasai oleh amarah, memaksakan diri kita untuk awas diri supaya tidak terbawa emosi saat berkomunikasi.

Sama halnya ketika malam itu sebelum mensounding Archy, suasana hati saya sedang tidak enak lantaran asisten rumah tangga saya mendadak resign dalam berbagai macam alasan. Berdiskusi dengan suami dan kembali mengadirkan mindset positif merupakan upaya saya supaya tetap menjaga kewarasan dan tidak terlarut lama dalam emosi negatif. Ada kalanya dalam proses ini saya masih terbawa dalam komunikasi yang tidak produktif, namun yang terpenting adalah evaluasi diri dan kembali konsisten dalam membangun komunkasi produktif dengan anak.
#harikedua7sept
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
#institutibuprofesional





0 comments:

Post a Comment