Thursday, 28 February 2019

Nasib Matematika di Tangan Kita


Kenapa sih matematika selalu menjadi momok bagi anak-anak? Seberapa susahnya untuk dipelajari? Tidak perlu bertanya jauh-jauh. Saya pun sampai sekarang tidak suka bahkan sangat lemah mempelajari Matematika. Terlebih background pendidikan banyak saya habiskan di pondok. Tambah buta banget sama namanya aljabar, algoritma, sampai hitungan volume!
Kebetulan penelitian S2 saya saat itu mengangkat tentang prestasi belajar matematika. Kenapa Matematika? karena ketika saya mencari akar masalah di setiap sekolah, matematika adalah mata pelajaran yang memiliki kriteria ketuntasan minimal (KKM) paling rendah diantara pelajaran yang lain. Berarti bukan saya aja donk ya yang dari kecil gak suka matematika. Ternyata sampai sekarang pun siswa masih dipusingkan dengan mata pelajaran ini.
Tidak heran berdasarkan Program for International Student Assesment (PISA) menyebutkan bahwa kemampuan matematika dan sains siswa di Indonesia berada pada peringkat 69 dari 76 negara di dunia. Yassalam..
Literasi yang rendah, kemampuan matematika yang rendah, lantas bagaimana nasib bangsa kita jika generasi kita tidak mampu menghadapi tantangan global?
Banyak orang salah kaprah memaknai matematika yang diasumsikan sebagai angka saja. Padahal sejatinya matematika itu adalah ilmu yang selalu ada dalam kehidupan kita sehari-hari. Kultur pendidikan kita yang masih mengajarkan teori saja mengakibatkan kemampuan matematika anak di Indonesia semakin jeblok.
Kuliah Bunda Sayang Institut Ibu Profesional tak hanya sekedar memberikan materi dan tugas semata. Namun ada cita-cita mulia dari Ibu Septi untuk meningkatkan kualitas para ibu para pendidik generasi bangsa.
Bagaimana tidak. Dari serangkaian tugas yang diberikan, kita semakin sadar pentingnya home education untuk perkembangan dan kematangan emosi anak. Beberapa tugas yang diberikan diantaranya adalah tantangan meningkatkan literasi dalam keluarga, meningkatkan kecerdasan emosional, sampai menstimulus kemampuan matematika logis.
Tantangan ke-enam tentang menstimulus kemampuan matematika logis anak sejatinya menjadi tantangan terbesar saya sebagai orang tua untuk menumbuhkan rasa cinta anak terhadap matematika.
Dibandingkan tantangan sebelumnya, tantangan ini bikin saya lebih deg-degan. Lebih merasa harus melakukan lesson plan untuk merancang stimulus apa yang akan saya berikan selama 10 hari kedepan. Yah, meskipun realitanya untuk setor tugas saya masih super lelet wkwkw. Maafkan saya bu Fasil...
Hasilnya adalah Archy lebih excited mempelajari tentang angka, konsep pola, dan bentuk dasar. Alhamdulillah. Rasanya udah gak sabar naik ke level selanjutnya mengajarkan Archy matematika yang lebih kompleks. Eits..sabar dulu. Harus disesuaikan dengan tahap perkembangan anak ya.
Itulah mungkin yang menyebabkan banyak anak tidak suka matematika. Disamping pelajaran ini sangat jarang dikoneksikan dengan kehidupan sehari-hari, pun anak juga tidak pernah dibekali sejak dini lalu saat masuk bangku sekolah tiba-tiba harus berhadapan materi MTK yang kompleks.
Istilahnya adalah njeglek. Super shock, otaknya juga kaget, dan berujung pada kebencian yang berkepanjangan. Lihat angka langsung mual-mual pengen segera menutup buku rapat-rapat.
So please for all parents, silahkan ikut perkuliahan Institut Ibu Profesional kalau gak mau tingkat literasi, kemampuan sains, dan kemampuan matematika anak Indonesia selalu berada di peringkat terbawah. Tidak Ada bekal yang harus disiapkan kecuali bekal konsisten saja untuk menjalankan rentetan tugas yang diberikan selama setahun.
I really thank a lot to IIP for this wonderful education. Rasanya kalo gak ikutan IIP mungkin saya tidak semelek sekarang menjadi “Home Educator” untuk anak-anak saya. Yuk moms, jadi kapan moms juga mau daftar IIP? :D

0 comments:

Post a Comment